Pengungsi Rohingya menunggu kepastian

10 Juli 2013 Terbaru 18:28 WIB

Bermimpi ke Australia, orang-orang etnis Rohingya-Myanmar hidup terlunta-lunta di Indonesia, sebelum YLHBI menampung mereka.
rohingya, ylbhi
Lelah fisik, dan psikis tentu saja, seorang pengungsi etnis Rohingya - yang lanjut usia - terlelap di sofa di ruang tamu Kantor YLBHI. Dia dan anak-anaknya, serta cucu dan menantunya, masih berharap mimpinya tinggal di Australia terkabulkan. (Foto: Heyder Affan)
rohingya, ylbhi
Terdiri tiga pria dewasa, tujuh anak kecil serta enam perempuan dewasa, para pengungsi etnis Rohingya ini meninggalkan negerinya, yaitu Myanmar, demi penghidupan yang lebih baik. "Harapan kami demi masa depan anak-anak kami, demi pendidikan mereka," ungkap salah-seorang pengungsi pria, Mohammad Qosim
rohingya, ylbhi
Atas nama kemanusiaan, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, YLBI, menampung (sementara) 18 orang pengungsi etnis Rohingya-Myanmar - terdiri tiga pria dewasa, tujuh anak kecil serta enam perempuan dewasa.
rohingya, ylbhi
Mohammad Qosim (28 tahun, kiri) dan Mohammad Hanif (38 tahun) adalah perwakilan para pengungsi, yang mampu berbahasa Indonesia. Mereka mengaku tinggal lama di Malaysia, sebelum memutuskan untuk membawa keluarganya di kampung halaman menempuh perjalanan 'berbahaya' ke Australia, melalui 'jalur tikus' (baca: jalur ilegal) di Indonesia. Namun nasib membawa mereka 'terdampar' di Kantor YLBHI.
rohingya, ylbhi
Sebelum ditampung di YLBHI, ibu renta dan cucu-cucunya ini terlunta-lunta di Medan, Bogor, hingga tinggal di sebuah masjid di Jakarta. Kemungkinan nestapa mereka belum berakhir, karena belum ada jaminan apakah mimpi mereka ke Australia terkabul atau dipulangkan ke Myanmar. Tak pelak mereka hidup luntang-lantung di Jakarta hingga akhirnya tidur di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat selama dua hari. Lalu mereka diberi tahu oleh seseorang agar berada di YLBHI saja.
rohingya, ylbhi
Di tampung di lantai tiga Kantor YLBHI, para pengungsi Rohingya asal Myanmar ini tidur, makan serta melakukan kegiatan sehari-hari lainnya. Pimpinan YLBHI menjanjikan untuk menjadi mediator dengan pihak Imigrasi Indonesia, serta badan pengungsi PBB, UNHCR.
rohingya, ylbhi
Mohammad Hanif, yang berusia 38 tahun, menunjukkan sebuah dokumen dari UNHCR di Malaysia tentang status mereka sebagai pengungsi. Menurutnya, kantor UNCHR di Jakarta sedang mengklarifikasi status mereka, tetapi mereka tidak memberikan bantuan fisik yang diminta Hanif dkk. Para pengungsi ini masih berharap badan PBB yang menangani pengungsi itu melakukan upaya kongkrit atas nasib mereka.
rohingya, ylbhi
Di hari pertama Ramadhan, para pengungsi etnis Rohingya asal Myanmar ini mengisi waktunya dengan melakukan kegiatan ibadah Shalat. Mereka juga melakukan aktivitas sahur dengan bantuan makanan dari pihak lain yang menaruh prihatin atas nasib mereka.
rohingya, ylbhi
Di antara lelaki dan perempuan dewasa pengungsi Rohingyya, ada tujuh bocah, termasuk dua balita. Di hamparan karpet gelap di kantor YLBHI, bocah kecil ini tertidur lelap pada Rabu (10/07) pagi.
rohingya, ylbhi
Menemani ibunya yang tertidur di sofa di ruangan tamu kantor YLBHI, perempuan muda ini duduk termangu. Barangkali dia memikirkan masa depannya yang belum jelas: berhasil terbang ke Australia atau dikembalikan ke Mynmar. "Kami lebih baik mati ketimbang balik ke negara kami," kata salah-seorang pengungsi dewasa.
rohingya, ylbhi
Mohammad Qosim, yang berusia 28 tahun, mendekatkan wajahnya yang agak lebam. Menurutnya, lebam itu akibat siksaan seseorang yang disebutnya menjanjikan membawa mereka ke Australia. Namun Qosim dkk mengaku ditipu, padahal mereka telah mengeluarkan lebih dari Rp 100 juta. "Sayangnya, kami tak punya identitas para penipu itu," kata Qosim, agak getir.
rohingya, ylbhi
Mohammad Hanif menghamparkan dokumen resmi dari Badan Pengungsi PBB, UNHCR, di Malaysia tentang status mereka sebagai pengungsi. Namun upaya mereka untuk meyakinkan UNHCR di Indonesia, belum membuahkan hasil, sehingga Hanif dan keluarganya terlunta-lunta, sebelum ditampung di YLBHI.
rohingya, ylbhi
Walaupun nestapa itu terlihat jelas di wajah para pria dan perempuan dewasa para pengungsi Rohingya ini, keceriaan masih terlihat (sekilas) di wajah anak-anak ini. "Kami menempuh jalan bahaya ini, demi masa depan yang lebih baik buat anak-anak kami," kata Mohammad Hanif, pimpinan penggungsi, berulangkali tentang motif mereka melakukan perjalanan ilegal ini, demi mimpi mereka menuju Australia.
rohingya, ylbhi
Lelah fisik, dan psikis tentu saja, seorang pengungsi etnis Rohingya - yang lanjut usia - terlelap di sofa di ruang tamu Kantor YLBHI. Dia dan anak-anaknya, serta cucu dan menantunya, masih berharap mimpinya tinggal di Australia terkabulkan. (Foto: Heyder Affan)
rohingya, ylbhi
Terdiri tiga pria dewasa, tujuh anak kecil serta enam perempuan dewasa, para pengungsi etnis Rohingya ini meninggalkan negerinya, yaitu Myanmar, demi penghidupan yang lebih baik. "Harapan kami demi masa depan anak-anak kami, demi pendidikan mereka," ungkap salah-seorang pengungsi pria, Mohammad Qosim
rohingya, ylbhi
Atas nama kemanusiaan, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, YLBI, menampung (sementara) 18 orang pengungsi etnis Rohingya-Myanmar - terdiri tiga pria dewasa, tujuh anak kecil serta enam perempuan dewasa.
rohingya, ylbhi
Mohammad Qosim (28 tahun, kiri) dan Mohammad Hanif (38 tahun) adalah perwakilan para pengungsi, yang mampu berbahasa Indonesia. Mereka mengaku tinggal lama di Malaysia, sebelum memutuskan untuk membawa keluarganya di kampung halaman menempuh perjalanan 'berbahaya' ke Australia, melalui 'jalur tikus' (baca: jalur ilegal) di Indonesia. Namun nasib membawa mereka 'terdampar' di Kantor YLBHI.
rohingya, ylbhi
Sebelum ditampung di YLBHI, ibu renta dan cucu-cucunya ini terlunta-lunta di Medan, Bogor, hingga tinggal di sebuah masjid di Jakarta. Kemungkinan nestapa mereka belum berakhir, karena belum ada jaminan apakah mimpi mereka ke Australia terkabul atau dipulangkan ke Myanmar. Tak pelak mereka hidup luntang-lantung di Jakarta hingga akhirnya tidur di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat selama dua hari. Lalu mereka diberi tahu oleh seseorang agar berada di YLBHI saja.
rohingya, ylbhi
Di tampung di lantai tiga Kantor YLBHI, para pengungsi Rohingya asal Myanmar ini tidur, makan serta melakukan kegiatan sehari-hari lainnya. Pimpinan YLBHI menjanjikan untuk menjadi mediator dengan pihak Imigrasi Indonesia, serta badan pengungsi PBB, UNHCR.
rohingya, ylbhi
Mohammad Hanif, yang berusia 38 tahun, menunjukkan sebuah dokumen dari UNHCR di Malaysia tentang status mereka sebagai pengungsi. Menurutnya, kantor UNCHR di Jakarta sedang mengklarifikasi status mereka, tetapi mereka tidak memberikan bantuan fisik yang diminta Hanif dkk. Para pengungsi ini masih berharap badan PBB yang menangani pengungsi itu melakukan upaya kongkrit atas nasib mereka.
rohingya, ylbhi
Di hari pertama Ramadhan, para pengungsi etnis Rohingya asal Myanmar ini mengisi waktunya dengan melakukan kegiatan ibadah Shalat. Mereka juga melakukan aktivitas sahur dengan bantuan makanan dari pihak lain yang menaruh prihatin atas nasib mereka.
rohingya, ylbhi
Di antara lelaki dan perempuan dewasa pengungsi Rohingyya, ada tujuh bocah, termasuk dua balita. Di hamparan karpet gelap di kantor YLBHI, bocah kecil ini tertidur lelap pada Rabu (10/07) pagi.
rohingya, ylbhi
Menemani ibunya yang tertidur di sofa di ruangan tamu kantor YLBHI, perempuan muda ini duduk termangu. Barangkali dia memikirkan masa depannya yang belum jelas: berhasil terbang ke Australia atau dikembalikan ke Mynmar. "Kami lebih baik mati ketimbang balik ke negara kami," kata salah-seorang pengungsi dewasa.
rohingya, ylbhi
Mohammad Qosim, yang berusia 28 tahun, mendekatkan wajahnya yang agak lebam. Menurutnya, lebam itu akibat siksaan seseorang yang disebutnya menjanjikan membawa mereka ke Australia. Namun Qosim dkk mengaku ditipu, padahal mereka telah mengeluarkan lebih dari Rp 100 juta. "Sayangnya, kami tak punya identitas para penipu itu," kata Qosim, agak getir.
rohingya, ylbhi
Mohammad Hanif menghamparkan dokumen resmi dari Badan Pengungsi PBB, UNHCR, di Malaysia tentang status mereka sebagai pengungsi. Namun upaya mereka untuk meyakinkan UNHCR di Indonesia, belum membuahkan hasil, sehingga Hanif dan keluarganya terlunta-lunta, sebelum ditampung di YLBHI.
rohingya, ylbhi
Walaupun nestapa itu terlihat jelas di wajah para pria dan perempuan dewasa para pengungsi Rohingya ini, keceriaan masih terlihat (sekilas) di wajah anak-anak ini. "Kami menempuh jalan bahaya ini, demi masa depan yang lebih baik buat anak-anak kami," kata Mohammad Hanif, pimpinan penggungsi, berulangkali tentang motif mereka melakukan perjalanan ilegal ini, demi mimpi mereka menuju Australia.