BBC Indonesia

Utama > Majalah

Memimpin Solo ala Jokowi

4 Agustus 2011 15:02 WIB

Jokowi mampu melakukan terobosan baru dalam mengubah Kota Solo, sehingga kebijakan populisnya dapat dirasakan langsung oleh warganya.

Walikota Solo Joko Widodo, atau biasa disapa Jokowi, mulai dikenal banyak orang setelah berhasil menata pedagang kaki lima di Kota Solo, tanpa gejolak sama-sekali.

Dengan keahliannya berkomunikasi, Jokowi dianggap mampu mematahkan mitos pemindahan PKL harus berujung pada bentrokan antara aparat dan pedagang, seperti yang terjadi di wilayah lain.

Empat tahun lalu, sekitar 900 orang pedagang itu akhirnya mau meninggalkan Taman Banjarsari di pusat Kota Solo menuju lokasi baru di Pasar Klitikan.

Ini adalah salah-satu contoh keberhasilan lelaki kelahiran 21 Juni 1961 ini, semenjak dia dipercaya menjadi Walikota Solo sejak tahun 2005 lalu.

"Saya selalu berpikir sederhana, dan berbuat juga sederhana", kata Joko Widodo dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia di rumah dinasnya di Kota Solo, hari Senin (25/7) lalu.

"Tapi," lanjutnya, "(Kita) harus berani membuat terobosan, jangan rutin, jangan monoton, (harus) selalu ada pembaharuan, selalu ada inovasi, itulah yang terus kita lakukan".

Hal itu ditandaskan Jokowi ketika ditanya apa resepnya selama 5 tahun memimpin warga Kota Solo.

Lebih lanjut alumni Fakultas Kehutanan, UGM, Yogyakarta (1985) ini mengatakan, upaya terobosan itu dia lakukan karena selama ini program kerja Kota Solo terlalu monoton dan tidak jelas ukuran keberhasilannya.

"Sehingga kita tidak tahu golnya kemana, ukuran keberhasilannya itu apa," kata Jokowi, yang dulu dikenal sebagai pengusaha di bidang meubel.

Untuk itulah, bersama wakilnya FX Hadi Rudyatmo, Jokowi meminta bawahannya di jajaran birokrasi Kota Solo membuat konsep yang jelas dan kongkrit setiap mengajukan program kerja -- termasuk bagaimana pengawasannya.

"Dan yang paling penting, mereka harus bisa menerangkan ke saya, pengembaliannya seperti apa kepada kita, return sosialnya, return ekonominya apa, return budayanya apa," paparnya.

"Tidak hanya menghabiskan uang, tetapi harus jelas kira-kira kembalian ke rakyat, kembalian ke masyarakat, kembalian ke kota itu (harus) dihitung," jelasnya.

Walikota PKL

Sejak berhasil memindahkan pedagang kaki lima, PKL, dari Taman Banjarsari ke Pasar Klitikan, empat tahun silam, tanpa menimbulkan konflik, nama Jokowi -- begitu sebutan akrabnya -- mulai banyak disebut.

Dia dianggap mampu mematahkan mitos pemindahan PKL harus berujung pada bentrokan antara aparat dan pedagang, seperti yang terjadi di wilayah lain.

Tetapi menurut Joko, proses itu tidaklah gampang. Dia harus menjalin komunikasi dan negosiasi berbulan-bulan dengan perwakilan pedagang kali lima itu, hingga mereka akhirnya mau pindah ke lokasi yang baru, tanpa ada protes.

"Saya melakukan pendekatan manusiawi terhadap mereka," kata Jokowi, suatu saat, mengambarkan proses komunikasinya dengan para PKL itu.

Akhir Juli lalu, saya datangi lokasi bekas PKL di Taman Banjarsari, dan yang tampak adalah kenyamanan yang diperlihatkan belasan warga kota dengan beristirahat di tempat itu -- yang terlihat asri dan tenang.

Para PKL yang telah sekitar 4 tahun menempati tempat baru di Pasar Klitikan, seperti disampaikan perwakilannya, Joko Sutikno, mengaku merasa lebih nyaman berada di lokasi yang baru.

"Di sini lebih ada kepastian hukum, berbeda saat saya berada di lokasi yang lama," katanya.

Walaupun program penataan semua PKL di kota itu belum tuntas, atas upaya terobosannya itu Jokowi dianggap mampu memberikan pelayanan yang baik bagi warga Kota Solo, utamanya bagi warga kalangan bawah.

Tokoh perubahan

Belasan warga Kota Solo yang saya wawancarai akhir Juli lalu menganggap banyak langkah perubahan yang dilakukan sang walikota.

Mereka menyebut program seperti pelayanan asuransi kesehatan untuk warga miskin, serta layanan kesehatan dengan biaya dari APBD.

Reformasi birokrasi berupa antara lain kemudahan pembuatan KTP juga disebut sebagian warga kota itu tidak terlepas dari kepemimpinan Jokowi.

Atas usahanya itu, lelaki kelahiran 21 Juni 1961 ini diganjar penghargaan Bung Hatta Award 2010.

Harian Republika juga menempatkannya sebagai Tokoh Perubahan 2010, menyusul langkah Majalah Tempo dua tahun sebelumnya yang memilihnya sebagai tokoh pilihan -- yang dianggap berhasil melakukan perubahan bermanfaat bagi warganya.

Pemihakannya kepada warga miskin kota, juga dibuktikannya dengan memberdayakan pasar tradisional, dan membatasi pembangunan mal.

"APBD itu harus sebanyak-banyaknya digunakan untuk masyarakat, utamanya masyarakat kurang mampu," kata Jokowi, yang mengenakan jas hitam saat diwawancarai BBC Indonesia.

Namun menurutnya, itu tidak berarti pihaknya menolak kehadiran investor, yang disebutnya "dibutuhkan untuk menggerakkan ekonomi kota".

"Tetapi jangan investasi yang menggerogoti ekonomi kecil," tandasnya. "Misalnya (investasi berupa pendirian) supermarket, yang nanti bisa berbenturan dengan pasar tradisional".

"Saya tidak anti mal. Tetapi kita sebagai pemerintah kota harus mengendalikan mereka, membatasi mereka," jelas Joko.

Membangun sistem

Dibayangi kemampuannya dalam melakukan berbagai gebrakan demi transformasi kota Solo, sebagian warga itu khawatir semua itu akan berakhir, ketika masa kepemimpinan Joko berakhir, empat tahun lagi.

Pimpinan Partai Hanura di Kota Solo, Abdullah AA, adalah salah-seorang yang menekankan agar Jokowi memikirkan pula langkah-langkah lanjutan setelah gebrakan awal dilakukan.

"Saya rasa yang perlu diperbaiki adalah kesinambungannya," kata Abdullah AA kepada BBC Indonesia.

Dalam wawancara kepada BBC Indonesia, Jokowi mengaku terus membenahi dan membangun sistem yang baru.

"Saya kira (sistem) kayak seperti masalah KTP, itu 'kan sistem yang kita bangun," kata Jokowi, yang sebelum menjadi walikota dikenal sebagai pengusaha meubel.

Alumni Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta ini menolak jika disebut kepemimpinannya selama ini semata berfokus pada gaya kepemimpinan.

"Saya paling tidak senang kalau tergantung pada figur," tegasnya. "Sehingga yang saya bangun adalah sistem".

Menolak suap

Selama dipercaya menjadi Walikota Solo sejak 2005 lalu, Jokowi mengaku berulangkali menolak sogokan uang dari sejumlah pengusaha.

Upaya ini dilatari motif agar sang walikota meluluskan proyek investasi milik mereka.

"Kalau memang investasinya baik, kenapa harus pakai duit-duit seperti itu. Silakan jalani sistem yang ada, ikuti aturan yang ada. Karena aturannya seperti itu," katanya, menjelaskan alasan penolakannya.

Sejauh mana Anda mampu bertahan dari godaan materi seperti itu?

Menurutnya, ketaatan pada sistem merupakan senjata ampuh menolak praktek busuk seperti itu.

Hal ini pula yang dia tekankan kepada anak buahnya di jajaran birokrasi.

"Kalau nggak mau mengikuti sistem yang kita bangun, ya kita tinggal," tegasnya.

Kepada keluarga dan lingkungan terdekatnya, juga dia memberikan batasan jelas tentang sistem tersebut.

Lainnya? "Ya, yang selalu saya sampaikan, bahwa kita sudah diberi amanah oleh rakyat untuk bekerja sebaik mungkin".

Tetapi apakah Anda bisa menepis politik balas jasa, karena Anda selama ini disokong oleh PDI Perjuangan, tanya BBC Indonesia.

"Nggak ada (istilah) balas jasa di PDI-P, ya karena ideologi yang selalu disampaikan partai, itu sangat luar biasa, itu saya ambil dalam panduan dalam bekerja," kata Jokowi dengan nada tegas.

Nominator Gubernur Jakarta

Tahun 2015 nanti, periode kepemimpinan (yang kedua) Joko Widodo sebagai Walikota Solo, akan berakhir.

PDI Perjuangan, sebagai partai penyokongnya, telah menominasikannya sebagai calon Gubernur DKI Jakarta mendatang, bersama 2 orang nominator lainnya.

Joko Widodo menyebut kepercayaan yang diberikan partai penyokongnya itu sebagai "tantangan".

"Karena di Jakarta ada persoalan yang sudah lama tidak pernah terselesaikan. Dan menurut saya itu menantang," kata Jokowi, yang pada tahun 2010 lalu dianugerahi 'Tokoh Perubahan 2010' oleh Harian Republika.

Menurutnya, sekarang PDI P tengah melakukan survei untuk menilai siapa nominator yang kelak layak dicalonkan secara resmi.

"Tapi terus terang, saya tidak membayangkan atau memikirkan jabatan itu. Semuanya terserah partai," kata pria kelahiran Kota Solo ini.

Pemimpin dan citra media

Kepada Jokowi, saya tanyakan pula bagaimana dirinya memposisikan diri di tengah pemberitaan media terkait segala kebijakannya dalam menata Kota Solo selama ini.

Pertanyaan ini saya utarakan terkait dengan istilah 'pencitraan' yang oleh sebagian orang dianggap sebagai persoalan yang menimpa para elit pimpinan di tingkat nasional.

Joko Widodo, yang pernah diundang memberikan materi tentang kepemimpinan di Lemhannas ini, menyatakan, pembangunan program kerja yang dilakukannya selama ini adalah nyata dan kongkrit.

"Yang penting kan membangun programnya, itu kenyataan kongkrit yang bisa dilihat, " tegasnya.

Dan menurutnya, kalau ingin mengetahui hasil kerjanya, bisa ditanyakan langsung kepada warga Kota Solo.

"Jangan tanya kepada saya, tapi tanya ke masyarakat, benar atau tidak, baik atau tidak baik".

"Saya nggak bisa menilai diri saya-sendiri," katanya lagi, seraya menambahkan, media massa bisa dijadikan sumber untuk menanyakan program-program kerjanya selama ini.

Lebih lanjut Joko mengatakan, apabila media melaporkan 'tidak baik' tentang program kerjanya, barangkali programnya itu memang tidak baik.

"Sehingga saya harus memperbaikinya (program itu)," tandas Jokowi.

Dengan kata lain, katanya, "sebuah citra terbangun bukan karena kita jaga imej, tapi memang karena rakyat mengatakan itu".

Tukang Kayu

Setelah lulus kuliah, Jokowi lantas memilih terjun sebagai pengusaha meubel, yang dia istilahkan sebagai "tukang kayu".

Pilihan ini tidak terlepas dari aktivitas keluarga besarnya -- dari garis ayah dan ibunya -- yang sejak awal menggeluti dunia perkayuan.

Itulah sebabnya, dia kemudian memilih kuliah di Fakultas Kehutanan, UGM, jurusan Industri Perkayuan.

Lebih dari 20 tahun malang-melintang berkecimpung di bisnis meubel kayu itu, lelaki berperawakan ramping ini tidak pernah membayangkan menjadi walikota.

"Saya juga bingung," jawabnya, lagi-lagi dengan tertawa, ketika saya tanya kenapa dia akhirnya bersedia dicalonkan PDI Perjuangan sebagai Walikota Solo, tahun 2005 lalu.

Ketika itu, Jokowi dan pasangannya memenangkan pilkada, dengan perolehan suara 37 persen.

"Pada saat (pemilihan) pertama, ya, kecelakaan, karena calon lain pintar-pintar dan sangat populer. Saya sendiri tidak populer dan bukan orang politik."

Mengetahui dia terpilih sebagai walikota, yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, membuat Jokowi semakin meyakini bahwa hidup seseorang itu 'ada yang mengatur'.

"Inilah hidup, saya jalani saja hidup yang sudah digariskan oleh yang di atas".

Tetapi pada pilkada berikutnya, tahun 2010 lalu, Jokowi dan pasangannya makin berkibar, dengan meraih suara 91 persen, yang tentu saja ini tidak terlepas dari berbagai program dan gebrakannya selama periode pertama kepemimpinannya sebagai orang nomor satu di Kota Solo.

Pengaruh sosok ibu

Kepada BBC Indonesia, peraih berbagai penghargaan ini, mengungkap dua orang yang disebutnya berpengaruh besar terhadap perjalanan hidup dan karakternya sekarang.

Sosok pertama adalah Bung Karno,"yang sosok dan pemikirannya begitu brilian terhadap negara ini".

Dia kemudian mengaku membaca semua buku-buku karya presiden pertama Indonesia itu.

"Dan kedua adalah ibu saya," ungkapnya. "dia banyak memberi pengaruh pada sisi karakter dan kepribadian saya".

Ketika menyebut sosok ibunya, suara Jokowi agak memelan, dan matanya terlihat berkaca-kaca.

"Ibu saya itu sangat pekerja keras. Jadi saya kira, contoh seperti itu yang saya ambil".

Solo sumbu pendek

Dalam wawancara sekitar 1 jam itu, saya dan Joko Widodo sempat menyinggung karakter Kota Solo dan sejarahnya.

Saya memulai pertanyaan dengan menyebut istilah Kota Solo sebagai kota 'bersumbu pendek'.

"Kalau orang menyebut Solo itu sumbu pendek itu dulu, sekarang tidak," tandasnya, dengan mimik serius.

Dia kemudian bercerita singkat. "Memang dalam sejarah, kota ini dibakar 11 kali, lalu balai kota itu dibakar 3 kali".

Menurutnya, tidak ada kota "seseram Kota Solo meski warganya (dikenal berperangai) halus."

"Tapi begitu keliru me-manage bisa menjadi malapetaka seperti itu".

Hal ini dia tekankan setelah saya tanya "bagaimana dia membesarkan Kota Solo yang warganya memiliki latar ideologi dan pilihan politik yang beraneka".

Seperti diketahui, PDI Perjuangan yang beraliran nasionalis sekuler dikenal mempunyai basis kuat di kota ini.

Tapi di sisi lain, di sekitar kota ini berdiri pula pesantren dan organisasi Islam yang pernah dikaitkan dengan tersangka teroris Abubakar Baasyir.

Di Jaman Orde Lama, kota ini dikenal pula sebagai salah-satu basis Partai Komunis Indonesia, PKI.

"Di sini komplit, ada fundamentalis Kristen, ada fundamentalis Islam, fundamentalis kejawen juga masih ada, bahkan fundemantelis Komunis masih ada," ungkapnya, terus-terang.

Sebagai pemimpin, Jokowi mengaku memberi akses yang sama kepada semua warganya -- demi memajukan Solo.

"Jangan sampai tersumbat komunikasi, jangan sampai saluran ide gagasan tidak bisa tersampaikan kepada kita,"katanya.

Menurutnya, komunikasi dengan siapapun sangat diperlukan. "Dan itu sangat mendinginkan psikologi kota."

"Kota ini akan menjadi dingin, sejuk, kalau komunikasi baik dengan siapapun," tandas Jokowi yang dikenal lebih sering menemui warganya ketimbang duduk di belakang meja kerjanya.

Penggemar musik cadas

Tidak banyak yang tahu kalau Joko Widodo adalah penggemar musik beraliran keras.

Saya pun baru tahu setelah membaca blog milik seorang warga Kota Solo, yang bertutur tentang pertemuan singkatnya dengan Jokowi.

Itulah sebabnya, di akhir wawancara, saya sengaja menanyakan ihwal kegemarannya ini.

Dan bisa ditebak: paras Jokowi sekonyong-konyong terlihat berpendar, dan tawanya terlihat lepas, ketika saya tanya "bagaimana Anda bisa menyukai aliran musik hingar-bingar seperti itu…"

"Ya, karena di situ ada kebebasan berekspresi," tandasnya, seraya tergelak.

"Dan kebebasan seperti itu dibutuhkan dalam membuat terobosan kebijakan," katanya lagi.

Jokowi lantas menyebut beberapa grup musik cadas, mulai era tahun 70-an hingga sekarang, seperti Led Zeppelin, Black Sabbath, Napalm Death, Sepultura, Metallica, serta Fear Factory.

"Kadang-kadang (lirik dan irama musik seperti itu) memberi inspirasi, kalau kita lakukan pada arah positif, itu bisa memberi dampak yang baik pada masyarakat," jelasnya.

Demi kebebasan itu pula, Jokowi mengenang, dia sempat memelihara rambut gondrong ketika masih belia. "Tapi kalau sekarang walikota gondrong, nanti jadi lucu...ha-ha-ha..."

Untuk menyalurkan ide kebebasan itu, alumni Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta ini, lantas menggeluti organisasi pencinta alam, tetapi bukan organisasi kemahasiswaan yang berorientasi politik.

* Kolom harus diisi

Sebar

Email del.icio.us Facebook MySpace Twitter