BBC Indonesia

Utama > Dunia

Sekjen PBB serukan gencatan senjata Israel-Palestina

Facebook Twitter
19 November 2012 11:45 WIB
Gaza

Sekjen PBB menyerukan dua pihak yang bersengketa di Israel dan Palestina segera menggelar gencatan senjata setelah serangan berbalasan dua pihak memasuki hari keenam, Senin (19/1) ini.

Sekjen Ban Ki-moon mengatakan akan berangkat ke Kairo, Mesir untuk turut mengambil peran dalam upaya mewujudkan gencatan senjata.

Hari Minggu (18/11) kemarin adalah hari terburuk sepanjang sepekan serangan Israel ke Palestina, dimana sedikitnya 26 orang tewas termasuk keluarga seorang polisi Gaza, Mohamed Dalou yang tewas bersama delapan anggota keluarganya akibat serangan bom udara Israel.

Ban mengatakan dirinya sangat sedih mendengar berita kematian keluarga Dalou serta warga Palestina lainnya, tetapi juga merasa khawatir atas berlanjutnya serangan roket dari Gaza ke sejumlah kota di Israel.

Tentara Israel mengatakan sasaran mereka adalah militan Hamas yang pada Kamis (15/11) lalu menewaskan tiga warganya, sementara hingga hari ini sedikitnya sudah 70 warga Palestina tewas akibat gempuran udara dan laut militer Israel.

"Bekerjasama"

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Minggu mengatakan siap memperluas operasi serangannya ke Palestina dan telah mengantongi izin mengirim tentara cadangan sebanyak 75.000 orang.

Rencana ini dikecam oleh berbagai negara, terutama dari Mesir yang berdekatan dengan Israel dan Palestina. Presiden Mesir Mohammed Mursi mengatakan serangan pasukan darat Israel akan membawa "dampak serius", dan Mesir tidak akan menerimanya "begitu pula dunia merdeka lainnya".

Liga Arab yang melakukan pertemuan darurat di Kairo hari Minggu, menyatakan mengirim sebuah delegasi sejumlah menteri luar negeri ke Gaza, Selasa (20/11).

"(Kekerasan) ini harus berhenti," kata Sekjen Ban Ki-moon dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan Minggu larut malam (Senin pagi WIB).

"Saya sangat mendorong agar para pihak bekerja sama dengan upaya yang dijalin Mesir untuk mencapai gencatan senjata sesegera mungkin."

Sayap militer Hamas bersumpah akan membalaskan kematian keluarga Dalou, sementara menruut seorang juru bicara militer Israel sasaran tembakan mereka sebenarnya adalah Yehiya Rabiah, kepala unit penyerang roket Hamas, namun serangan meleset sehingga jatuh "korban sipil".

Koran Haaretz yang terbit di Israel mengutip pernyataan seorang pejabat militer setempat menyebut serangan itu gagal mengenai sasaran dan malah menghancurkan bangunan sekitarnya karena "kesalahan teknis".

Lembaga amal Save the Children mengatakan keluraga warga Gaza kehabisan air dan makanan, sebagian besar terperangkap di dalam rumah mereka, mengalami pemadaman listrik hingga 18 jam sehari.

Sebar

Email del.icio.us Facebook MySpace Twitter