Penggunaan antibiotik di Inggris meningkat

  • 5 Agustus 2014
Obat
Inggris memperketat pemberian antibiotik dalam resep dokter

Proporsi pasien yang diberi antibiotik untuk batuk dan pilek di Inggris meningkat 40% pada abad ini, ungkap sebuah studi.

Kondisi itu terjadi di tengah upaya pemerintah Inggris untuk mengurangi resep antibiotik oleh dokter, yang tidak memiliki efek terhadap batuk dan pilek dan hanya 10% berdampak pada kondisi radang tenggorokan.

Penelitian University College London dan Kesehatan Masyarakat Inggris juga menemukan perbedaan penggunaan antibiotik oleh para dokter.

Para peneliti memantau lebih dari 500 dokter praktek di Inggris antara tahun 1999 dan 2011.

'Zaman kegelapan'

Mereka menemukan proporsi pasien yang diresepkan antibiotik oleh dokter mereka untuk batuk dan pilek mencapai 36% pada 1999, tetapi meningkat sampai 51% pada 2011, meningkat 40%.

Penelitian itu dipublikasikan dalam Jurnal Antimicrobial Chemotherapy, sebelumnya Perdana Menteri Inggris David Cameron memperingatkan dunia akan "kembali ke zaman kegelapan dalam ilmu kedokteran" kecuali jika diambil langkah untuk mencegah peningkatan resistensi antibiotik.

Departemen Kesehatan pertama kali membuat rekomendasi untuk membatasi peresepan antibiotik pada 1998, termasuk tidak meresepkannya untuk mengobati batuk dan pilek serta radang tenggorokan ringan.

Data dari tahun 2011 menunjukkan diantara pasien yang menerima resep antibiotik, lebih dari 30% menerima obat yang tidak direkomendasikan oleh pedoman nasional.

Peneliti mengatakan pemberian antibiotik banyak terjadi untuk penyakit infeksi telinga. Sekitar 0% dokter praktek memberikan resep antibiotik sedikitnya terhadap 97% pasien yang memiliki masalah tersebut.

Prof Jeremy Hawker, seorang konsultan dari Kesehatan Masyarakat Inggris, mengatakan: "Meskipun tidak pantas untuk mengatakan bahwa seluruh kasus batuk dan pilek atau radang tenggorokan tidak membutuhkan antibiotik, penelitian kami akan menunjukkan bahwa harus ada peningkatan dalam peresepan antibiotik."