Parasit malaria bisa memanipulasi bau badan tikus

  • 2 Juli 2014
malaria
Parasit malaria kemungkinan merekayasa bau badan tikus untuk berkembangbiak.

Parasit malaria bisa mengubah bau badan tikus untuk membantu mereka pada tahap penting proses reproduksi, demikian kesimpulan para peneliti seperti dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceeding of the National Academy of Sciences.

Para ilmuwan menemukan bahwa aroma yang sudah diubah itu bertahan pada saat yang kritis, ketika tikus tidak menunjukkan gejala penyakit tetapi sebenarnya masih tetap bisa menularkan penyakit.

Para peneliti melanjutkan percobaan-percobaan untuk menentukan apakah parasit dapat mempengaruhi bau manusia juga, seperti dilaporkan wartawan BBC Smitha Mundasad.

Para ilmuwan dari Swiss Federal Institute of Technology dan Pennsylvania State University di Amerika Serikat mempelajari bau tikus yang terinfeksi dan tidak terinfeksi malaria selama 45 hari.

Mereka menemukan bahwa aroma tikus yang terinfeksi sangat berbeda dengan yang tidak.

Perubahan senyawa

Parasit tidak benar-benar mengubah bau, melainkan mengubah tingkat senyawa yang sudah ada pada bau tikus.

Dan ini terutama terlihat pada tikus yang masih menular tetapi tak lagi menunjukkan gejala penyakit - terkait masa kritis dalam siklus hidup parasit.

Prof Consuelo De Moraes dari Pennsylvania State University dan salah seorang penulis utama penelitian mengatakan,"Tampaknya ada kenaikan yang merata pada beberapa senyawa yang menarik bagi nyamuk."

Hasil penelitian menunjukkan nyamuk paling tertarik pada tikus ketika parasit dalam tubuh mereka berada di titik kunci dalam perkembangan mereka.

Siklus hidup kompleks

Parasit malaria memiliki siklus hidup yang kompleks dengan beberapa tahap. Mereka perlu berkembang dan menjadi “matang” baik di dalam tubuh nyamuk maupun manusia.

Para ilmuwan meyakini, parasit dapat memanipulasi bau mahluk yang membawa mereka untuk menjamin keberlangsungan hidup mereka.

Para peneliti kini sedang bekerja dalam percobaan-percobaan lanjutan untuk mengetahui apakah pola perubahan bau ini ditemukan juga pada manusia.

Profesor Mark Menscher dari Pennsylvania State University, yang terlibat di penelitian ini mengatakan, semuanya masih terlalu dini.

"Pada tikus, terdapat lingkungan yang terkendali. Pada manusia, terdapat begitu banyak faktor. Mulai dari perbedaan lingkungan hingga gen yang beragam."