Larangan cepat saji untuk kurangi obesitas

  • 14 Maret 2014
Makanan cepat saji banyak dikonsumsi oleh para pekerja di Inggris

Pelarangan toko makanan cepat saji di sekitar perkantoran dan rumah dapat mengurangi epidemi obesitas, seperti disampaikan oleh peneliti Inggris.

Banyaknya toko pizza dan makanan yang digoreng dapat meningkatkan jumlah obesitas hampir dua kali lipat, kata para peneliti.

Kebijakan itu meliputi pelarangan pembukaan restoran yang menyajikan makanan untuk dibawa pulang atau dibungkus di dekat sekolah, seperti ditulis dalam jurnal sains BMJ.

Sementara argumen lainnya menyebutkan, pembuat kebijakan seharusnya lebih fokus kepada bagaimana menjadikan makanan cepat saji menjadi lebih sehat.

Faktor pendukung

Dalam studi terhadap lebih dari 5.000 orang dewasa yang lahir di Cambridgeshire antara 1950 dan 1975, para peneliti dari Universitas Cambridge menemukan para pekerja banyak mengkonsumsi makanan cepat saji, termasuk hamburger, pizza, makanan yang digoreng dan keripik, ketika berada di rumah, tempat kerja dan perjalanan.

Restoran
Restoran cepat saji disebutkan lingkungan perkantoran dan rumah dapat tingkatkan obesitas.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi obesitas adalah pendidikan, pendapatan dan kebiasaan merokok.

Para peneliti menemukan akses yang luas terhadap makanan cepat saji berkaitan dengan indeks massa tubuh yang tinggi.

"Mereka yang paling 'terpapar' toko yang menyajikan makanan untuk dibungkus, memiliki kemungkinan untuk menjadi obesitas hampir dua kali lipat," tutur Dr Thomas Burgoine, pemimpin studi.

Sejumlah otoritas lokal telah memperkenalkan kebijakan larangan pembukaan toko makanan cepat saji di sekitar sekolah atau di lokasi yang memiliki banyak toko yang menyajikan makanan untuk dibawa pulang.

"Penelitian kami menunjukkan kebijakan untuk membuat lingkungan lebih sehat dengan melarang akses makanan yang dibungkus, dapat berhasil," jelas Dr Burgoine.

Lebih sehat

Tetapi, penelitian yang dilakukan para ahli di AS, justru menunjukkan sebaiknya.

Dr Kathryn Neckerman, dari Universitas Columbia University, New York, mengatakan penelitiannya terhadap anak-anak sekolah yang di lingkungan mereka banyak terdapat toko makanan cepat saji, justru lebih ramping.

"Dibandingkan melarang makanan yang dibungkus, kami harus mencari upaya untuk mengubahnya," jelas dia kepada BMJ.

Dia mengatakan makanan cepat saji dapat diubah menjadi lebih sehat.

Dalam satu dekade terakhir di Inggris, konsumsi makanan di luar rumah meningkat 29%.