Anak miskin Asia 'lebih bersaing'

  • 4 Februari 2014
Siswa di kelas
Menurut Schleicher, anak-anak di Inggris seharusnya bisa lebih unggul.

Dampak kemiskinan bagi pendidikan di negara-negara maju mungkin terlalu dibesar-besarkan sebab anak-anak kurang beruntung di Asia bisa mencapai nilai sama dalam ujian.

Pernyataan itu disampaikan oleh analis Program Ujian Siswa Internasional (PISA), Andreas Schleicher dari Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembanguna (OECD).

Berdasarkan hasil ujian matematika, kata Schleicher, anak-anak kurang mampu di beberapa negara Asia menunjukkan pencapaian yang sama dengan anak-anak kaya di Inggris.

Para siswa paling miskin di Shanghai, Cina, menunjukkan nilai sama dalam ujian matematika dibanding siswa-siswa kaya di Inggris.

Oleh karena itu, lanjutnya, siswa-siswa kurang mampu di Inggris seharusnya lebih baik dalam pencapaian akademik.

Hasil ujian PISA terbaru diterbitkan tahun lalu oleh OECD dan memberikan peringkat negara-negara maju berdasarkan hasil ujian siswa berusia 15 tahun di mata pelajaran membaca, matematika dan ilmu pengetahuan.

Inggris berada di peringkat tengah, sementara negara-negara Asia seperti Singapura, Korea Selatan dan Hong Kong berada di tempat teratas.

Sebelumnya OECD mentatakan kemampuan matematika para siswi di Inggris rata-rata tertinggal tiga tahun dibandingkan remaja Shanghai

Menteri Pendidikan Inggris Michael Gove kemarin (03/02) mengatakan setiap sekolah di Inggris seharusnya menerapkan ujian PISA sehingga bisa membandingkan dengan standar internasional.