Mata pelajaran khusus mewarnai wayang kulit

  • 15 Januari 2014
Pelajaran Tatah Sungging
Dwi Sunaryo, sesepuh pengrajin wayang kulit, mengawasi pelajaran Tatah Sungging.

Ada satu hal yang khusus dan unik di SMP Negeri II Manyaran, di Wonogiri, Jawa Tengah.

Sekolah ini merupakan satu dari hanya segelintir sekolah di propinsi yang memiliki mata pelajaran menatah dan mewarnai wayang kulit..

Mata pelajaran yang disebut Tatah Sungging – menatah dan mewarnai wayang- mulai diajarkan dari kelas 7 sampai 9.

Begitu memasuki gedung sekolah, terlihat lemari kaca besar berisi hasil karya para murid berupa berbagai bentuk gantungan kunci, hiasan di mobil dan wayang dengan berbagai karakter.

Kepala Sekolah SMP II Manyaran, Ignatius Kismanto mengatakan mata pelajaran ini merupakan salah satu prioritas untuk mempertahankan budaya kerajinan wayang kulit yang telah berjalan secara turun temurun.

Minat terus menurun

Ia mengatakan sejumlah sekolah pernah menerapkan mata pelajaran khusus ini, namun kemudian berhenti karena minat yang terus menurun.

"Saya khawatir budaya pembuatan wayang ini punah. Dan bila murid tidak dikejar-kejar untuk belajar, jadi malas," kata Kismanto.

Menatah wayang
Menatah atau melubangi wayang memerlukan ketrampilan khusus, kata Dwi.

"Jadi budaya membuat wayang ini yang ingin kami pertahankan lewat pelajaran di sekolah ini," katanya lagi.

Dwi Sunaryo, sesepuh pengrajin di Desa Kepuhsari, termasuk salah seorang pembina mata pelajaran Tatah Sungging ini.

Ia mengatakan membuat wayang kulit dengan berbagai macam karakter ini memerlukan keahlian dan ketrampilan tersendiri.

"Diperlukan paling tidak dua tahun bagi seseorang untuk dapat membuat wayang," kata Dwi.

"Misalnya dalam menatah atau melubangi wayang, salah dua milimeter saja sudah kelihatan...dan dalam mengetuk, ketukannya harus tegak supaya halus," kata Dwi.

Didik ratusan siswa

Salah seorang murid yang sudah mahir membuat wayang termasuk Pandu Permana, murid kelas IX.

Tatah wayang
Kesalahan dua milimeter saja dalam melubangi wayang akan kelihatan, kata pengrajin.

Ia mengatakan waktu di sekolah saja tidak cukup untuk sampai pada kemampuan membuat karakter wayang.

Sepulang sekolah, Pandu berlatih lagi di rumah atau datang ke sejumlah pengrajin lain.

"Anak-anak yang sudah mahir bisa mendapatkan uang saku karena wayang hasil karya mereka dapat mereka jual ke penyalur," kata Dwi Sunaryo.

Sejauh ini, Kepala Sekolah SMPN II Manyaran, Kismanto mengatakan sekolah itu telah mendidik ratusan siswa terkait ketrampilan menatah dan mewarnai wayang kulit ini.

Berita terkait