Aksi tiga maestro tari tradisional

  • 17 Desember 2013
Salah-seorang empu tari tradisional yang akan tampil adalah Irawati Durban Ardjo.

Tiga orang empu tari tradisional Indonesia akan mementaskan karya-karyanya dalam acara bertajuk Maestro! Maestro! di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (18/12) malam.

Acara yang digelar Dewan Kesenian Jakarta, DKJ ini akan menampilkan karya-karya tiga empu tari Indonesia yaitu Syamsuar Sutan Marajo (65 tahun), Irawati Durban Ardjo (70 tahun) dan Amaq Raya (80 tahun).

"Peristiwa tari Maestro! Maestro! yang digelar tahun ini merupakan ke delapan kalinya, semenjak digelar 2009 lalu," demikian keterangan pers DKJ yang diterima BBC Indonesia.

Menurut DKJ, Syamsuar Sutan Marajo,asal Saniang Baka, Solok, Sumatera Barat, merupakan maestro Tari Tan Bentan.

"Tarian itu dia pelajari langsung dari mendiang Jamin Manti Jo Sutan, yang terkenal sebagai pakar Tari Piring serta Tan Bentan," kata panitia.

Adapun Irawati Durban Ardjo – salah satu murid Tjetjep Sumantri yang terkenal memperkenalkan tari Sunda sejak tahun 1950an – akan mementaskan Tari Merak Bodas.

Ini merupakan acara ke delapan Maestro! Maestro yang digelar sejak 2009.

Tari ini merupakan pengembangan terbaru dari karya klasiknya, Tari Merak, yang asalnya diciptakan pada 1965, ungkap DKJ dalam rilisnya.

"Dia juga akan mementaskan Tari Klana Bandopati Losari yang diambil dari salah sastu repertoar ragam Tari Topeng Cirebon gaya khas Losari," lanjut panitia.

Sementara, Amaq Raya akan menampilkan Tari Gagak Mandiq – yang lebih dikenal sebagai dasar pengembangan tari kreasi baru di Lombok – yang dia ciptakan pada 1950an.

Mengkritisi tradisi

Menurut panitia, program Maestro! Maestro! diawali tujuan untuk menampilkan para empu penari tradisi yang mencerminkan kekayaan kebudayaan tari lokal di Indonesia.

Sejak dilaksanakan sejak 2009, acara ini telah mementaskan beragam tari tradisi yang ditarikan sendiri oleh sang empu sebagai sumber gerak tradisi yang diwakilinya.

Amaq Raya adalah empu tari tradisional dari Nusa Tenggara Barat, NTB.

Pengecualian terjadi di edisi keenam (2012) ketika program bertema Dialog Tari menampilkan para empu yang tidak melulu berlatar tari tradisi Indonesia.

"Dalam edisi 2013 ini, Maestro! Maestro! tidak hanya ingin menampilkan para empu sebagai sumber referensi tradisi, namun juga mulai menempatkan istilah ‘tradisi’ dan ‘tradisional’ ke dalam konteks historis yang lebih kritis," ungkap rilis DKJ.

Pendekatan serta perspektif kritis ini, lanjut panitia, tercermin dalam pemilihan ketiga Maestro pada edisi 2013.

"Yang masing-masing mewakili tiga jenis tari yang memiliki asal-muasal serta jejak historis yang berbeda satu sama lain," lanjut panitia.

Membicarakan tradisi sebagai sebuah persepsi dan perspektif historis-artistik inilah yang akan dirintis mulai Maestro! Maestro! ke-8 ini, kata DKJ.

"Semoga pendekatan ini," lanjut panitia, "bisa menjadi landasan untuk membaca kembali tari tradisi Indonesia secara kritis untuk mengenal kebudayaan kita, dan memahami kompleksitas sejarah tari Indonesia."