Sekolah anak imigran di Malaysia kewalahan

  • 10 Desember 2013
Sekolah Anak Imigran Holy Trinity
Anak-anak berasal dari berbagai latar belakang agama di sekolah ini.

Menempati gedung milik Gereja Holy Trinity di Tawau, Sabah, Malaysia, sebanyak 214 anak tenaga kerja Indonesia usia sekolah dasar menimba ilmu di sekolah yang disebut Pusat Pembelajaran Anak Imigran Holy Trinity.

Mereka berasal dari latar belakang keluarga yang amat beragam profesinya, termasuk pekerja perkebunan, bengkel, penyalur gas. Ada yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Jawa.

“Anak-anak lambat menangkap apa yang diajarkan oleh ibu guru. Biasanya kalau kita bertanya, orang tua bilang sibuk bekerja, kadang-kadang orang tua tidak ada di rumah,” kata Chellyta Tukan, seorang guru di sekolah di kawasan yang berbatasan dengan wilayah Indonesia itu.

Menurut guru lainnya, Florida Peni Wara, perbedaan bahasa percakapan dan bahasa kurikulum keluaran Departemen Pendidikan Nasional Indonesia juga menjadi kendala.

“Sehari-hari mereka menggunakan bahasa percakapan di sini yaitu Melayu, sedangkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia dan IPA, ada bahasa-bahasa yang kurang mereka pahami,” ungkapnya.

Francis Kamuntah
Francis Kamuntah berharap para guru bisa diangkat menjadi pegawai negeri Indonesia.

'Di bawah garis kemiskinan'

Di sekolah yang didirikan atas dukungan gereja dan Konsulat Indonesia di Tawau ini, daftar tunggu masuk mencapai puluhan orang dan seperti dikatakan kepala sekolahnya, siswa keluar masuk mengikuti pekerjaan orang tua.

Setiap murid hanya dipungut delapan ringgit atau sekitar Rp29.000 per bulan. Adapun guru menerima insentif dari Kementerian Pendidikan Indonesia melalui Konsulat sebesar 500 ringgit.

“Uang 500 ringgit satu bulan kalau di sini terus terang saya katakan bahwa itu di bawah paras garis kemiskinan. Oleh karena itu kita berharap jumlah itu ditinjau dan ditingkatkan karena taraf hidup sekarang pun tinggi,” kata Kepala Sekolah Pusat Pembelajaran Anak Imigran, Francis Kamuntah kepada BBCIndonesia.com.

Selain jumlah yang kecil, dana insentif dari Departemen Pendidikan Indonesia melalui Konsulat juga sering mengalami keterlambatan.

Siswa Pusat Pembelajaran Anak Imigran Holy Trinity
Para siswa menunggu lomba puisi di aula sekolah di pekan terakhir sebelum libur.

Fungsi Ekonomi, Sosial dan Budaya di Konsulat Republik Indonesia Tawau, Dian Ratri Astuti, mengatakan memang pengiriman kadang-kadang tertambat karena melibatkan transfer dana antarnegara.

“Tetapi sekarang sudah bergulir termasuk dana insentif lokal,” jelasnya.

Secara umum kondisi sekolah anak imigran dari Indonesia ini lebih memadai dibanding pusat-pusat kegiatan belajar masyarakat di kawasan perkebunan kelapa sawit. Setidaknya, gereja menyediakan gedung, listrik dan air.

Namun kelanjutan pendidikan siswa setelah sekolah setingkat SD ini belum jelas, sebab belum tersedia sekolah menengah pertama. Seorang siswa, Maria, berencana pindah ke Indonesia untuk melanjutkan sekolah.