Akankah kesepakatan perdagangan internasional lahir di Bali?

  • 6 Desember 2013
wto
Sejumlah kalangan berunjuk rasa pada hari pertama konfrensi di Bali.

Hari terakhir konferensi tingkat menteri Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di Bali diwarnai perundingan alot yang diperkirakan akan berlangsung hingga tengah malam.

Wartawan BBC Alice Budisatrijo yang berada di Bali melaporkan bahwa para delegasi mengheningkan cipta untuk pemimpin Afrika Selatan Nelson Mandela sebelum membuka diskusi.

Mandela meninggal dunia pada usia 95 tahun karena infeksi paru-paru.

Konferensi di Bali menjadi kunci masa depan perdagangan dunia dan juga WTO, sebab jika pertemuan ini gagal menghasilkan kesepakatan maka peran WTO dinilai tidak akan relevan lagi.

Pada hari terakhir ini masih terjadi aksi unjuk rasa oleh berbagai kelompok di depan gedung tempat konferensi berlangsung, meski skalnya tidak sebesar hari pertama.

Pemimpin WTO Roberto Azevedo mengatakan kesepakatan itu penting guna membongkar hambatan-hambatan perdagangan internasional.

Namun penolakan keras datang dari salah satu ekonomi terbesar dunia, India, yang menolak pasal tentang pembatasan subsidi pangan.

Pesan Mandela

Sementara itu, Menteri Perdagangan Afrika Selatan, Rob Davies, mengatakan bahwa kematian Mandela adalah "guncangan besar", dan menyebutnya sebagai "tokoh rakyat."

"Banyak dari kami ingat bagaimana interaksi dengan Madiba [Mandela] menyentuh hidup kami," kata Davies, seperti dilaporkan kantor berita AP.

Madiba adalah nama panggilan Nelson Mandela di negaranya.

Ia mengatakan belajar banyak dari Mandela mengenai pentingnya keadilan dan kejujuran dalam perdagangan internasional.

"Ketika kami melakukan negosiasi perdagangan internasional, kami tidak bisa hanya memikirkan apa untungnya untuk saya, apa untungnya untuk bisnis saya," kata Davies.

"Pertimbangan Mandela adalah mengenai apa manfaat perdagangan untuk untuk orang miskin yang paling miskin," tambahnya.

Berita terkait