BBC navigation

'Merendahkan diri' di hadapan polisi Malaysia

Terbaru  3 Desember 2013 - 12:33 WIB

Beberapa warga negara kerja asing di Malaysia mengisahkan pengalaman mereka menjadi tenaga kerja ilegal di tengah upaya pihak berwenang memutihkan dan mengusir imigran gelap.

Asnan, tenaga kerja Indonesia

Asnan

Asnan sudah mengeluarkan sekitar 5.000 ringgit untuk proses pemutihan.

Setelah tiga tahun menjadi tenaga kerja resmi, Asnan memutuskan kabur dari majikan karena gajinya kecil.

Selama tujuh tahun terakhir ia bekerja serabutan. Kini ia memoles tembok di sebuah proyek pembangunan perumahan ibukota Malaysia.

Namun hidupnya diselimuti ketakutan.

“Saya keluar dari depan pintu mau ke jalan raya, hati saya sangat kecil, karena merasa tidak punya dokumen. Tapi kalau ketakutan, tidak nekat mencari nafkah, seakan-akan terkurung di dalam rumah, lalu bagaimana kebutuhan sehari-hari?”

Ia menghindari berpapasan dengan polisi di pinggir jalan, tetapi tidak selalu beruntung.

“Walaupun digertak dan dibawa ke sana kemari oleh polisi, saya teguh pada pendirian dan ucapan tidak boleh kasar. Siapa saja bisa kasar, tapi saya merasa sudah salah tapi saya pun harus betul-betul merendahkan diri sampai di bawah,” kata Asnan, TKI asal Banyuwangi, Jawa Timur.

“Jadi seakan-akan saya mengambil hati supaya tidak sampai ditangkap dan betul-betul disalahkan. Alhamdulillah mereka tidak sampai membawa saya ke penjara,” tambahnya.

Farzana dan Sheela, tenaga kerja Bangladesh

Farzana dan Sheela

Farzana dan sepupunya, Sheela, mengaku kesuilitan mencari kerja.

Semula Farzana tiba di Malaysia dengan menggunakan visa mahasiswa. Ia mendaftarkan diri di sebuah institusi pendidikan Kuala Lumpur tujuh tahun silam.

Ketika ditanya apa yang telah ia pelajari, ia mengaku lupa. Dari toko ke toko ia berpindah kerja dan tanpa kemampuan berbahasa Melayu atau bahasa Inggris yang memadai, perpindahan tempat kerja itu semakin sering.

“Saya sering ditolak bekerja begitu tahu saya dari Bangladesh. Saya tidak mengerti mengapa itu terjadi,” ungkap Farzana.

Di Kuala Lumpur ia tinggal bersama suami dan kedua anak mereka. Atas bantuan lembaga sosial Migrant Ministry Klang, anak-anaknya bisa belajar di sekolah komunitas setempat.

Sheela, sepupu Farzana, menyusul ke Malaysia lima tahun lalu. Sama seperti sepupunya, Sheela bekerja dari satu toko ke toko lain.

“Kemanapun saya mencari kerja, begitu tahu saya orang Bangladesh mereka langsung menurunkan gaji yang ditawarkan. Jika ada pekerjaan dengan gaji 1.500 ringgit, mereka akan memberikan gaji 1.000 ringgit kepada orang Bangladesh,” jelas Sheela.

Apakah Anda tahu penyebabnya?

“Saya tidak tahu. Apa yang salah dengan orang Bangladesh? Apakah orang Bangladesh nakal?”

Win, tenaga kerja Indonesia

Win

Selain bekerja di hotel, Win juga membersihkan apartemen-apartemen.

Ia meninggalkan buah hati semata wayang berumur lima tahun di Tuban, Jawa Timur. Awalnya ia bekerja di restoran dan memegang dokumen lengkap termasuk izin kerja.

Ketika pindah kerja, semua dokumen ditahan majikan lama. Selama beberapa tahun terakhir, Win bekerja secara ilegal di Malaysia. Hampir tanpa mengambil hari libur, ia membersihkan kamar di sebuah hotel berbintang di Kuala Lumpur.

“Di tempat saya kerja, saya tidak langsung bekerja dengan perusahaan hotel. Saya melalui agen dan agen tidak sampai menanyakan dokumen seperti paspor atau izin kerja,” kata Win.

Dengan gaji rata-rata 900 ringgit atau sekitar Rp3 juta per bulan, ia mampu mengontrak kamar di Kampung Pandan, hanya sekitar 15 menit naik mobil dari arah menara kembar Petronas, dan mengirim uang untuk anaknya di kampung.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.