Informasi non-akademis kian dipertimbangkan

  • 18 Oktober 2013
graduation
Data ini dinilai memberikan kesempatan yang merata bagi kaum miskin untuk berkuliah.

Semakin banyak universitas di Inggris yang mempertimbangkan informasi personal dan informasi tambahan lainnya - disamping juga nilai - dalam proses penerimaan mahasiswa baru, kata sebuah laporan.

Sebuah penelitian mengatakan 37% dari 67 universitas yang menjawab survei mereka menyebutkan bahwa mereka menggunakan apa yang disebut "data kontekstual" - dan sebagian besar lain berencana untuk melakukannya.

Universitas di Inggris didorong untuk menggunakan data nonakademis tersebut untuk merekrut lebih banyak siswa dari keluarga miskin.

Para pemimpin universitas menyerukan diadakan debat publik tentang masalah ini.

Di Inggris, universitas boleh membebankan biaya kuliah lebih tinggi dari £6.000 per tahun dengan syarat bahwa mereka harus merekrut lebih banyak mahasiswa dari keluarga miskin.

Akses yang adil

education
Data kontekstual makin dipertimbangkan dalam penerimaan siswa.

Penelitian yang dilakukan oleh Spa (Supporting Professionalism in Admissions), suatu badan yang didanai publik tetapi independen, melihat jenis informasi tambahan seperti apa yang digunakan universitas ketika membuat penawaran kepada siswa atau memutuskan siapa yang diterima.

Sebelumnya, diketahui bahwa anak-anak dari latar belakang keluarga lebih sejahtera cenderung untuk lebih sukses dalam pendidikan.

Menurut Spa, data kontekstual telah digunakan selama "bertahun-tahun," tetapi sekarang "lebih berperan dalam memperkuat sistem penerimaan yang adil dan akses pada semua tahap proses penerimaan."

Spa mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan, disamping juga transparansi universitas tentang sistem penerimaan siswa baru mereka.

Profesor Janet Beer, ketua Spa dan wakil rektor Oxford Brookes University, mengatakan: "Laporan Spa, untuk pertama kalinya, menyatukan dasar bukti penggunaan data kontekstual di sektor pendidikan tinggi Inggris.

"Ini menunjukkan kepada kita bahwa informasi ini memiliki peran penting untuk menjamin akses yang adil bagi pelamar serta membantu mempertahankan keunggulan akademik dengan mengakui orang-orang yang menunjukkan potensi kuat untuk berkembang dalam pendidikan tinggi."

Profesor Beer menambahkan bahwa ada "pertumbuhan keinginan" di antara universitas untuk menggunakan data kontekstual karena pasar lebih kompetitif.