Korban pabrik Bangladesh disantuni produsen

  • 11 September 2013
Selebaran Rana Plaza
Kasus Rana Plaza adalah salah satu kecelakaan sektor garmen terburuk di dunia.

Sejumlah produsen pemilik merek busana global akan bertemu untuk membahas besarnya ganti rugi yang layak diberikan pada para pekerja sektor garmen korban sebuah pabrik yang ambruk April lalu.

Kasus itu menjadi salah satu insiden kecelakaan kerja terparah yang pernah terjadi dalam industri garmen, dengan korban diatas 1.200 orang tewas.

Kelompok produsen pemilik merek sempat dikecam keras karena dianggap membiarkan praktek perlakuan pekerja yang buruk untuk baju-baju buatannya di Bangladesh, hingga timbul kecelakaan.

Mereka akan bertemu untuk menetapkan besaran santunan kepada korban di Rana Plaza, Dhaka.

Selain ribuan korban tewas, juga terdapat 2.500 lainnya yang luka dalam kecelakaan itu.

Ribuan buruh berdemonstrasi menuntut perbaikan kesejahteraan dan kelaikan kerja setelah kasus fatal tersebut.

Menurut sejumlah serikat kerja Bangladesh keluarga ahli waris korban kecelakaan tersebut kini banyak mengalami kesulitan hidup karena kehilangan sosok pencari nafkah.

Inspeksi pabrik

Pertemuan ini diharapkan juga akan menghasilkan kesepakatan mengenai santunan untuk korban dalam insiden lain, seperti yang terjadi di pabrik Tazreen Fashions di Dhaka November lalu, saat kecelakaan menewaskan lebih dari 100 pekerja.

Pabrik garmen
Kasus kebakaran juga kerap terjadi di Bangladesh, bahkan dnegan korban ratusan.

Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung dua hari di Jenewa itu diprakarsai oleh serikat perdagangan global, IndustriALL.

Menurut serikat tersebut diantara sejumlah pabrikan garmen raksasa, akan hadir pula perusahaan pengecer seperti C&A dan Primark. Tetapi menurut wartawan BBC, Imogen Foulkes, nama-nama lain seperti Walmart dan Mango menolak datang.

Padahal kedua pemilik merek ini, sama-sama turut memesan busana dari pabrik di Rana Plaza.

Meski iniatif menggelar pertemuan ini dipuji, tetapi kelompok pegiat mengkritik lambatnya respon perusahaan terhadap tuntutan keluarga korban. Pegiat juga mengkhawatirkan pertemuan tak akan sesukses yang diharapkan karena belum ada perkiraan dana santunan yang akan diberikan .

Juli lalu sekelompok perusahaan pengecer terdiri dari 70 perusahaan multinasional sepakat melakukan inspeksi ke pabrik garmen di Bangladesh agar kecelakaan tak terulang.

Ekspor dari industri garmen Bangladesh merupakan yang terbesar kedua di dunia setelah Cina.

Berita terkait