BBC navigation

Paket stimulus dipuji tapi 'harus cepat'

Terbaru  23 Agustus 2013 - 20:49 WIB
Rupiah

Nilai rupiah terpukul dampak kebijakan Bak Sentral AS The Fed, hingga turun lebih 10%.

Paket kebijakan fiskal terbaru yang diumumkan pemerintah Jumat (23/08) dipuji pengamat dan pengusaha namun disertai desakan agar realisasi aturan dibuat segera mungkin agar nilai rupiah tak makin tergelincir.

Nilai rupiah tertekan oleh paket kebijakan moneter Bank Sentral AS serta kondisi ekonomi domestik Cina sehingga berkurang sedikitnya 10% sejak awal tahun ini.

Pengusaha mengaku sangat Klik mengkhawatirkan merosotnya nilai tukar, dan minta agar pemerintah segera merealisir paket kebijakan terbaru yang diumumkan Jumat (23/08) untuk menenangkan pasar dan membuat keyakinan penguasaha kembali.

"Komponen bahan baku untuk industru kami sangat besar, 60-100%, nilai rupiah yang lemah ini bikin bingung kami harus bikin harga produk berapa?" keluh Ketua Gabungan Pengusaha Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhe S Lukman kepada Dewi Safitri dari BBC Indonesia.

Sejak rupiah melemah sebulan terakhir menurut Adhe pengusaha bertahan dengan harga lama karena sulit menyesuaikan dengan perkembangan nilai tukar dollar baru.

"Patokan kita sebelumnya rupiah Ro10.000, ternyata berikutnya jadi 10.500. Kita mau hitung 10.500 ternyata turun jadi 10.800, begitu terus cepat sekali," kata Adhi yang mengklaim hari ini nilai tukar sudah merosot lebih rendah dari Rp11.000.

'Dikorbankan'

"Saya melihat fokus Bank Indonesia sejauh ini masih pada pertumbuhan padahal persoalan jangka pendek-menengah kita adalah bengkaknya angka defisit neraca"

David Sumual

Dalam pengumumannya, Menko Perekonomian, Hatta Radjasa, menyebut Klik empat paketKlik kebijakan meliputi paket kebijakan fiskal, moneter, pasar modal sampai industri.

Dia menambahkan paket kebijakan diharapkan menorong "defisit pada transaksi berjalan pada triwulan ketiga dan keempat 2013 akan menurun dan momentum pertumbuhan ekonomi dapat kita jaga".

Namun dua target ini dianggap terlalu berat dikejar dalam kondisi ekonomi saat ini, kata ekonom Utama BCA David Sumual.

Meski memuji paket stimulus yang baru diumumkan, David menilai butuh waktu hingga beberapa bulan untuk membuat kebiajkan bekerja hingga dampaknya terasa di pasar.

Sementara kebutuhan utama ekonomi saat ini menurutnya adalah mengembalikan kepercayaan pasar agar rupiah terdorong nilainya sehingga aktivitas ekonomi kembali normal.

"Saya melihat fokus Bank Indonesia sejauh ini masih pada pertumbuhan padahal persoalan jangka pendek-menengah kita adalah bengkaknya angka defisit neraca," kata David.

Defisit perdagangan yang bengkak hingga 4,4% sepanjang tahun ini, menurut David, membuat tingkat kepercayaan terhadap ekonomi nasional melorot.

Demi pertumbuhan?

Dalam pengumumannya Jumat (23/08) siang, pemerintah menyebut bertekad menjinakkan defisit hingga berada di bawah kisaran 3%.

Bank Sentral pada kesempatan terpisah juga mengumumkan beberapa langkah sebagai upaya memperkuat rupiah dan investasi.

Tetapi beban target pertumbuhan yang mencapai 6,4% menurut David 'harus dikorbankan' demi pulihnya kepercayaan pasar.

"Setidaknya sementara ini karena memang mengejar target pertumbuhan akan berat, bisa tumbuh 6% saja sudah bagus."

Sementara pasar rupanya bereaksi dingin terhadap paket kebijakan yang diumumkan pemerintah, dan hingga saat penutupan perdagangan Bursa Efek Jumat 23 Agustus, Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 0,04% (4.169) atau sangat jauh dari posisi puncak Mei lalu yang mencapai di atas 5.000.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.