Jepang desak Inggris tak tinggalkan Uni Eropa

  • 21 Juli 2013
Euro
Jepang harap Inggris tetap jadi pemain utama di Uni Eropa.

Ribuan lapangan pekerjaan dengan perusahaan Jepang berisiko jika Inggris meninggalkan Uni Eropa, seperti diperingatkan oleh pemerintah Jepang.

Dalam memo dengan pemerintah Inggris, Jepang mengatakan perusahan-perusahaan tersebut tertarik untuk berinvestasi di Inggris karena merupakan pintu masuk pasar Eropa.

Tetapi meraka dapat meninjau kembali posisinya jika Inggris tidak lagi 'memainkan peranan utama' dalam Uni Eropa, seperti dilaporkan koran the Sunday Times.

David Cameron telah menjanjikan akan menggelar referendum atas keanggotaan di Uni Eropa jika pemerintah partai Tory kembali terpilih pada pemilu yang akan datang.

Dan perdana menteri telah berkomitmen untuk melakukan negosiasi mengenai hubungan Inggris dengan Brussels, sewaktu-waktu.

Pemerintah akan mempublikasikan sebuah analisa mengenai "apakah keanggotaan Inggris di Uni Eropa berarti bagi kepentingan Inggris", yang disebut dengan nama Tinjauan Keseimbangan Kompetensi.

Sebagai bagian dari tinjauan itu, pemerintah asing diundang untuk memberikan pemikiran mereka.

'Kabar buruk' tarif

Dalam permohonannya, Jepang mengatakan "berkomitmen untuk membangun hubungan dengan Uni Eropa lebih kuat dibandingkan dengan sebelumnya".

Pernyataan itu juga menyebutkan: "Dalam konteks ini, diharapkan Inggris dapat tetap sebagai 'pemain utama' di Uni Eropa.

"Inggris, sebagai jago dalam perdagangan bebas, merupakan mitra yang dapat diandalkan oleh Jepang. Lebih dari 1.300 perusahaan Jepang telah berinvestasi di Inggris, sebagai bagian dari pasar tunggal Uni Eropa, dan telah menciptakan 130.000 pekerjaan, paling besar di seluruh Eropa.

"Fakta ini menunjukan bahwa Inggris sebagai pintu gerbang pasar Eropa telah menarik bagi investasi Jepang."

Dalam pernyataan kepada Sunday Times, kedutaan besar Jepang di London mengatakan:" Kami mengetahui sejumlah negara telah memutuskan untuk tidak mencantumkan komentar tetapi sebagai negara non-Uni Eropa dan investor besar di Inggris kami berpikir bahwa itu pantas dilakukan.

"Kami mengambli kesempatan ini untuk mengungkapkan ekspektasi kami.... jika Inggris meninggalkan pasar tunggal, negara-negara yang berinvestasi di Inggris dan mengeskpor ke Uni Eropa akan membayar tarif, dan itu bukan kabar baik."

Tetapi, anggota parlemen dari partai konservatif Julian Brazie rmengatakan kepada harian Sunday Times, "Dalam memutuskan kepentingan negara kami, kemungkinan kami akan mengecewakan ekspektasi meraka."