Anomali cuaca ganggu produksi petani

  • 3 Juli 2013
pasar
Hujan di musim kemarau mengganggu sebagian produksi pangan.

Anomali cuaca di musim kemarau kali ini berdampak buruk bagi produksi petani di beberapa daerah. Warga pun diminta waspada menghadapi musim kemarau yang tak seperti biasanya ini.

"Rawit merah? Iya ini yang lagi mahal banget Rp55.000 sekilo. Wortel, kol, kentang harganya juga naik. Ini gara-gara stoknya di Jawa pada habis," kata seorang pedagang di Tangerang Selatan mengeluhkan stok petani yang terbatas.

Menurunnya produksi ini diakui oleh sejumlah petani. Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia Dadi Sudiana mengatakan panen cabai nasional yang normalnya mencapai 1,1 juta ton, tahun ini bisa turun jadi hampir setengahnya.

Tren penurunan ini disebabkan oleh anomali cuaca yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

"Pagi-siang itu panas, terus tiba-tiba hujan, ekstrim cuaca harian. Tanaman jadi stress dan lemah sehingga mudah terserang penyakit," katanya untuk program Lingkungan BBC Indonesia, pekan lalu.

Musim panen yang buruk ini juga dialami banyak petani hampir di seluruh daerah di Indonesia. Ketua Dewan Hortikultura Nasional, Benny Kusbini mengatakan cuaca ekstrim yang terjadi kali ini sangat merugikan.

Adapun sistem tanam terbuka yang umum dilakukan oleh mayoritas petani Indonesia membuat hasil panen sangat rentan terhadap kondisi cuaca.

"Cabai, kentang, tomat sudah terasa kegagalan panen sampai 40%. Semua tanaman yang musim 3-4 bulan pasti terganggu. Termasuk buah-buahan juga yang harusnya berbuah di bulan enam atau tujuh, bunganya bisa langsung rontok karena perubahan cuaca," katanya Benny Kusbini.

Peran ramalan cuaca dan pertanian memang sangat erat. Sayangnya, menurut Benny, informasi cuaca selalu telat disampaikan sehingga petani sulit melakukan antisipasi.

'Tak kering'

kemarau
Musim kemarau kali ini tidak 'sekering biasanya'.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengakui bahwa tahun ini, musim kemarau yang telah dimulai Mei kemarin, tidak sekering biasanya. Potensi hujan masih akan terjadi hingga Agustus mendatang.

"Intensitas hujannya di atas rata-rata, tetapi belum masuk kriteria musim hujan. Lebih mudahnya diistilahkan kemarau basah. Kemarau yang tidak kering seperti biasanya," jelas Deputi Bidang Klimatologi BMKG Widada Sulistya.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan fenomena ini, antara lain pengaruh angin monsun Australia yang tidak begitu kuat, adanya massa udara basah, suhu laut yang panas sehingga menyebabkan penguapan, serta munculnya gangguan siklon sepeti siklon Leepi pada Juni lalu.

Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, mengakui bahwa iklim kali ini memang sulit diprediksi. Pasalnya, mekanisme pemanasan suhu laut yang tidak diketahui polanya, menyebabkan prediksi cuaca meleset pada tahun ini.

"Dari pola angin memang bisa diperkirakan ini bulan kemarau, tetapi yang tidak bisa diperkirakan adalah kondisi muka laut di Indonesia yang ternyata lebih hangat dari biasanya," jelas Thomas.

"Tentu bagi peneliti atmosfir ini jadi tantangan. Walau diakui, oleh peneliti atmosfir internasional bahwa untuk wilayah Indonesia, tingkat kesulitannya lebih banyak karena sangat dinamis dan variabelnya meningkat."

Menyikapi anomali cuaca di musim kemarau ini, BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan bencana hidrometeorologi yang umumnya terjadi pada musim hujan seperti banjir atau longsor, masih bisa terjadi pada musim kemarau ini.

Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menghimbau warga tetap waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan dan memahami bahwa daerahnya rawan bencana.

Bencana hidrometeorologi khususnya terkait iklim seperti banjir dan longsor merupakan bencana yang paling sering terjadi. BNPB mencatat sekitar 85% bencana di Indonesia terkait dengan hidromoeteorologi.