BBC navigation

Kekerasan terhadap perempuan meluas

Terbaru  21 Juni 2013 - 14:57 WIB
perempuan

Pelaku kekerasan umumnya adalah pasangan.

Satu dari tiga perempuan di dunia mengalami kekerasan atau pelecehan seksual, demikian menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Kepala WHO Margaret Chan mengatakan kekerasan terhadap perempuan adalah "masalah kesehatan global yang sudah menjadi epidemi".

Penelitian ini menyerukan agar sikap toleran terhadap kasus kekerasan perempuan dihentikan.

Pedoman baru harus diadopsi oleh pejabat kesehatan di seluruh dunia untuk mencegah pelecehan dan menawarkan perlindungan yang lebih baik kepada para korban.

Laporan -yang dirilis WHO, London School of Hygiene and Tropical Medicine (LSHTM), serta South African Medical Research Council (SAMRC)- menjadi laporan sistematis pertama secara global yang merinci dampak pelecehan terhadap fisik dan mental perempuan.

Beberapa data yang ditemukan antara lain:

  • kekerasan yang dilakukan pasangan merupakan kasus pelecehan yang paling umum terjadi, mempengaruhi 30% perempuan di dunia.
  • 38% pembunuhan perempuan, dilakukan oleh pasangannya.
  • korban serangan seksual dan kekerasan (yang dilakukan bukan oleh pasangan) akan mengalami depresi dan kegelisahan 2,6 kali lebih besar dibandingkan dengan perempuan yang tidak mengalami kekerasan.
  • korban pelecehan (dengan pelaku pasangan sendiri) mengalami depresi dan kegelisahan dua kali lebih besar.
  • korban cenderung memiliki masalah dengan alkohol, aborsi, dan penyakit yang dibawa dalam hubungan seksual, dan HIV.
"Data baru ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan sangat umum," kata Charlotte Watts dari LSHTM.

"Kita sangat membutuhkan upaya pencegahan untuk mengatasi penyebab masalah ini."

Dokumen tersebut menambahkan bahwa "ketakutan terhadap stigma" menghalangi perempuan untuk melaporkan kasus kekerasan seksual yang dialaminya.

Ini menekankan bahwa pejabat kesehatan di seluruh dunia perlu menangani masalah kekerasan perempuan dengan "lebih serius", memberikan pelatihan lebih baik bagi pekerja kesehatan dalam mengenali kemungkinan pasien perempuan yang memiliki resiko kekerasan dan memastikan cara penanganan yang tepat.

WHO mengatakan akan mulai menerapkan pedoman baru bersama dengan organisasi lain pada akhir Juni.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.