Perubahan iklim luar negeri pengaruhi pangan Inggris

  • 17 Juni 2013
Produsen mungkin menutup ekspor pangan untuk cadangan dalam negeri mereka.

Perubahan iklim yang terjadi di luar Inggris dinilai lebih berpengaruh pada pasokan pangan mereka bila dibandingkan dengan yang terjadi dalam negeri, kata para pengamat.

Penelitian yang dipublikasikan oleh sebuah lembaga konsultan untuk Departemen Lingkungan dan Pangan di Inggris yaitu PWC menunjukkan bahwa harga berbagai komoditas yang cenderung berubah cepat dapat memukul keamanan pangan Inggris.

Terdapat beberapa komoditas pangan yang diperlukan di seluruh dunia tetapi hanya diproduksi oleh beberapa negara saja.

Sayangnya negara-negara ini kini menderita oleh perubahan cuaca yang sangat ekstrim.

"Yang menarik adalah bahwa ancaman perubahan iklim yang terjadi di luar negeri memiliki pengaruh lebih besar daripada ancaman yang terjadi di dalam negeri," Richard Gledhill dari lembaga konsultan itu mengatakan kepada BBC News.

Para analis melihat ancaman terbesar bukan hanya dari pergerakan harga yang tidak stabil tetapi juga kebijakan beberapa negara seperti India yang melarang ekspor beras dan Bolivia yang membuat undang-undang mengenai ketahanan pangan dalam negeri.

"Hal ini tidak hanya mengacu kepada negara-negara kepulauan yang memang rawan, tetapi juga pada bencana seperti banjir di daratan Eropa dan topan Sandy di Amerika Serikat."

Selain ancaman ketahanan pangan, laporan ini juga menyebutkan bahwa Inggris dapat mengambil keuntungan dari perubahan iklim.

Keuntungan yang dimaksud diantaranya yaitu kemampuan untuk menjual ilmu pengetahuan dan mengurangi ongkos pelayaran apabila tidak ada lagi es di wilayah Antartika.

Kawasan Antartika diperkirakan menjadi wilayah bisnis yang sangat menarik dan para pengamat memprediksi wilayah ini akan menarik investasi dengan nilai lebih dari £64 miliar (Rp992 triliun) pada beberapa dekade mendatang.

Berita terkait