BBC navigation

Musik pilihan Sutradara Indonesia

Terbaru  5 Mei 2013 - 13:03 WIB
Demi Ucok/ Geraldine Sianturi

Dalam Demi Ucok Geraldine Sianturi berakting sekaligus mengisi lagu tema utamanya.

Sutradara Sammaria Simanjuntak mengaku sangat 'patuh' pada mood filmnya sebelum memilih soundtrack atau lagu tema.

"Yang penting harus sesuai mood filmnya. Tidak boleh lebih menonjol apalagi bertentangan," katanya saat diwawancarai untuk Program Info Musika BBC, pekan pertama Mei.

Dalam Demi Ucok, film komedi bersetting keluarga Batak, Sammaria menempatkan jenis musik dangdut ala Medan sampai lagu gereja berbahasa Batak.

"Sejak awal aku merasa (lagu dangdut) Anak Medan itu memang harus masuk film ini," serunya sambil tertawa.

Lagu lain yang juga kental bernuansa Batak adalah Dung Sonang Rohaku, lagu gereja yang disadur dari bahasa Inggris dan menjadi materi pujian umum di banyak gereja Huria Kristen Batak Protestan.

"Kebetulan Geraldine Sianipar yang juga pemain (utama) Demi Ucok sedang bikin album dari lagu-lagu gereja itu, waktu denger wah ini cocok banget nih sama filmnya," tambah sutradara berambut cepak ini.

Cocok juga adalah kata yang dipilih sutradara Guntur Soeharjanto saat menggunakan Andai aku bisa, sebagai soundtrack untuk Tampan Tailor yang baru diputar di bioskop ibukota April.

"Biasa kalau (proses pembuatan) filmnya jalan, aku cari-cari yang cocok. Aku selalu pilih yang lirik maupun mood lagunya itu sesuai," kata sutradara yang sudah membesut tujuh film bioskop ini.

Saat mendengar Andai aku bisa versi Chrisye almarhum, Guntur mengaku tergugah oleh kekuatan liriknya.

"Diskusi sama produser, kita sepakat mau cari penyanyi baru. Ternyata Ahmad Dhani mau nyanyiin, kebetulan memang lagu itu hasil karya Dhani dan Beby Romero."

Perkara penonton/pendengar merasa versi Chrisye lebih 'bagus', Guntur tak masalah.

"Namanya saja selera, kan subyektif sekali."

Minat pribadi

Diar

Diar alias Antonius Mashdiarto Wiryanto mengisi soundtrack Laura dan Marsha.

Kalau sutradara harus selalu menyesuaikan dengan arah film, apakah berarti selera pribadinya tak mempengaruhi musik filmnya?

Tidak juga. Dinna Jasanti yang baru menyutradarai Laura dan Marsha mengaku soundtrack Summertime dalam film itu menegaskan kesukaannya pada jenis musik folk.

"Saya tidak akan pakai kalau tidak suka," jawab sutradara yang lebih kerap jadi produser ini.

Laura dan Marsha, film perjalanan atau biasa disebut road movie, menurut Dinna sangat pas memakai latar musik folk.

"Apalagi karena settingnya Eropa, dengan musisi yang juga punya bakat luar biasa," puji Dinna pada penulis dan penampil Summertime, musisi muda Antonius Mashdiarto Wiryanto.

Bisa jadi film Dinna ini akan jadi gerbang Diar, nama panggung Antonius, untuk dikenal publik khususnya di Indonesia.

Genrenya yang unik dan tak biasa mengingatkan pada Sandhy Sondoro; sama-sama asal Indonesia, belajar ke Jerman namun kemudian lebih ngetop sebagai musisi.

Film dilupakan

Bagaimana kalau Summertime/Diar jadi lebih terkenal dari pada Laura dan Marsha?

"Kan memang film maupun soundtrack harus win-win position. Kalau Diar terkenal, saya malah makin senang," kata Dinna bersemangat.

Lagu tema yang populer umumnya dipandang sebagai salah satu resep terbaik menjual film.

Ingat waktu semua radio berlomba memutar My heart will go on sementara orang antri nonton Titanic (1997)?

Atau ledakan film Pretty Woman diikuti single Roxette, It must have been love (1990).

Meskipun pada kenyataannya, lagu soundtrack umumnya punya siklus hidup lebih lama ketimbang filmnya.

Album Badai Pasti Berlalu

Sampai kini artis kontemporer masih terus merekam ulang versi lagu Badai pasti berlalu.

Ini misalnya terjadi pada lagu-lagu Bee Gees yang abadi – Stayin' Alive, How Deep Is Your Love, Night Fever – yang terus dinyanyiulangkan, sementara sedikit sekali orang sekarang yang tahu gambaran cerita dalam Saturday Night Fever tahun 1977.

Sedikit lebih klasik adalah Smoke gets in your eyes, dari film American Graffiti tahun 1973 . Versi jazz lagu ini jadi standar penyanyi berbagai kafe, entah apakah ada yang masih ingat filmnya.

Saat Goo Goo Dolls tiba-tiba sangat terkenal di Indonesia tahun 1998 dengan single Iris, hanya sedikit orang tahu kalau lagu itu sebenarnya dikemas dalam album soundtrack City of angels (Meg Ryan/Nic Cage).

Dan And I will always love you patut dikenang sebagai soundtrack terlaris sepanjang masa.

Dikenang sebagai adikarya abadi Whitney Houston, meski sebenarnya lagu itu adalah teman adegan dalam film yang dibintanginya bersama Kevin Costner pada The Bodyguard (1992).

Di Indonesia gelar album lagu tema terbaik sampai kini masih selalu disematkan pada film Badai Pasti Berlalu (1977).

Majalah Rolling Stones Indonesia menyebutnya sebagai Album terbaik sepanjang masa, tiga lagunya Badai pasti berlalu, Merpati putih dan Merepih alam sebagai lagu terbaik sepanjang masa.

Info Musika adalah program BBC Indonesia yang mengupas berbagai sisi tentang musik dan disiarkan tiap Jumat petang WIB.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.