Potret pekerja migran di Malaysia

  • 3 Mei 2013

Data Organisasi Buruh Internasional (ILO) tahun 2011 memperkirakan terdapat sekitar 3,5 juta lebih pekerja asing di Malaysia dan sebagian besar adalah pekerja tanpa keterampilan.

Mereka berasal dari kawasan Asia Tenggara, seperti Indonesia, Filipina, Burma maupun Asia Selatan, seperti Bangladesh, Nepal dan Pakistan. Wartawan BBC Indonesia Liston Siregar bertemu dengan beberapa di antara mereka dan inilah kisah singkat masing-masing pekerja.

Rajan Kumar Manjal dari Nepal

Rajan Kumar ditemui BBC ketika ia baru tiba di Kuala Lumpur, Kamis (02/05).

Rajan Kumar

"Saya terbang ke Kuala Lumpur dari Kathmandu. Kampung saya di Rajbirat dekat perbatasan dengan India dan satu malam naik bus ke ibukota Khatmandu. Saya diajak kawan untuk bekerja di Malaysia dan semuanya sudah disiapkan jadi saya tinggal ikut rombongan. Nanti akan bekerja di pabrik elektronik dan kontraknya satu tahun. Di Rajbirat sulit mencari kerja jadi saya ke Malaysia."

Farida asal Madura

Farida sebagai pembersih di pusat jajan pertokoan Suria KLCC, tidak jauh dari menara Petronas.

Farida

"Saya bekerja ke Malaysia untuk bayar hutang karena dagang barang-barang elektronik tapi tidak laku. Ayah saya sudah membayar hutang itu dengan menjual sawah, jadi saya membayar ke ayah. Di Madura tidak mungkin dapat kerja dengan gaji seperti di sini dan saya tidak bisa tani. Baru satu tahun kerja di sini dan mau coba sampai tiga tahun. Gajinya cukup tapi tidak enak karena seperti di penjara. Setiap malam selesai kerja jam 23.00 terus pulang dan tidur dan siang sudah harus mulai kerja lagi."

Nyi Lay Wyin dari Burma

Nyi Lay Wyin

Bekerja sebagai pelayan restoran di Jalan Alor, Kuala Lumpur. Ia sudah 10 tahun di Malaysia.

"Di Malaysia enak, bisa jalan-jalan juga seperti ke Genting Highland. Tidak main judi tapi lihat-lihat saja. Di Burma sulit mencari pekerjaan. Saya sudah 10 tahun bekerja di sini dan di majikan yang sama. Majikan saya baik. Sekarang izin kerja sudah lebih murah. Dulu harus membayar US$4.000 tapi sekarang tinggal US$1.600. Adik saya sekarang saya ajak kerja di sini dan dia juga senang. Saya ingin terus bekerja di Malaysia dan uang tabungan saya sudah cukup untuk bisa membeli tanah di kampung saya."

Linda Sitompul dari Belawan, Sumut

Linda Sitompul

Bekerja jadi pelayan restoran di Jalan Alor, Kuala Lumpur. Sudah 16 tahun bekerja di Malaysia.

"Kalau di Medan kerja seperti ini paling dapat satu juta, tapi di sini bisa tiga juta sebulan. Saya kerja di dua tempat, kalau pagi sampai siang di warung kopi, terus di Jalan Alor ini dari jam 4 sore sampai 2 subuh. Tidur sampai jam 6 pagi karena jam 7 sudah mulai kerja di warung kopi sampai jam 2 siang. Sebulan saya dapat sekitar 6 juta dan kalau di Indonesia harus jadi pegawai negeri baru bisa dapat sebanyak itu. Anak saya di Medan sekarang sudah berumur 22 tahun, suami sudah meninggalkan saya, jadi di sini saja. Setiap tahun bisa pulang tapi tergantung bos, kalau sedang sibuk tidak boleh pulang."

Rahman dari Banjarnegara, Jawa Tengah

Rahman

Sudah 11 tahun di Malaysia sebagai tukang parkir di Bukit Bintang di sebuah lahan kosong bersama beberapa orang lainnya.

"Saya bisa dapat tiga kali lipat di sini daripada kerja di pabrik di Jawa. Saya di sini diajak ipar dan senang. Anak dan istri di kampung dan kadang bisa pulang dua kali setahun, kemarin bulan April baru pulang. Bos kami menyewa tanah kosong ini dari orang Cina. Sehari kerja delapan jam karena parkir ini buka 24 jam dan saya lebih suka yang malam karena di tempat tinggal tidak ada kerjaan. Belum ada rencana untuk pulang dan bekerja di Indonesia. Susah cari kerja di Indonesia."