Usia Stonehenge lebih tua 5.000 tahun

  • 20 April 2013
Perayaan kaum Pagan masih digelar di Monumen prasejarah Stonehenge di Inggris.

Sebuah penggalian di dekat peninggalan prasejarah, Stonehenge, menunjukkan bahwa situs ini telah dihuni oleh manusia sekitar 5.000 tahun lebih awal dari perkiraan semula.

Tim arkeolog dari Univesitas Terbuka yang dipimpin arkeolog David Jacques melakukan penggalian di wilayah Amesbury, Wiltshire, tidak jauh dari situs Stonehenge, menemukan bukti baru yang bertentangan dengan teori lama yang menyebut tidak ada pemukiman manusia di lokasi itu sampai akhir 2.500 sebelum masehi.

Dari penggalian itu, para ahli itu menyimpulkan bahwa sudah ada pemukiman manusia di sekitar Stonehange sejak 7.500 sebelum masehi (SM)

Para arkeolog itu juga yakin bahwa orang-orang yang menetap di sekitar lokasi berdirinya monumen batu itu mula-mula mendirikan monumen yang terbuat dari kayu, yaitu antara 9.000 dan 7.000 SM.

Arkeolog Josh Pollard, dari Universitas Southampton mengatakan, para peneliti telah menemukan bukti-bukti "adanya komunitas manusia yang pertama kali mendirikan monumen di lokasi yang kini dinamakan Stonehenge".

Temuan ini menunjukkan pula bahwa Stonehenge bukan hanya ditinggali oleh manusia Mesolithic dan kemudian ditempati oleh manusia Neolitik ribuan tahun kemudian.

Sebaliknya, demikian kesimpulan terbaru, lokasi itu ditempati berbagai orang dengan aneka budaya yang berbaur satu dengan yang lain.

Foto udara

David Jacques mulai melakukan penelitian di sebuah tempat yang diberi nama Vespasian's Camp di Amesbury, Wiltshirese ini, telah melihat foto udara pertama Stonehenge -- diabadikan pada 1906 -- saat dirinya berstatus mahasiswa, pada 1999.

Temuan terbaru membuktikan bahwa sekelompok manusia sudah menghuni di sekitar Stonehenge lebih awal dari perkiraan semula.

Menyadari wilayah itu belum diteliti para arkeolog, Jacques memutuskan untuk melakukan survei ke Amesbury.

Pada 1999, Jacques dan teman-teman mahasiswa mulai mendatangi lokasi itu, dan mereka menemukan bahwa di sana terdapat sumber mata air yang lokasinya paling mendekati Stonehenge.

Temuan mata air yang mengalir sepanjang tahun ini, menurut Jacques, membuat daya tarik hewan dan manusia untuk mendatanginya, dan sekaligus menjadikannya sebagai tempat hunian baru.

"Saya berpikir, kalau ada banyak binatang liar datang ke sini, Anda cenderung akan mengatakan bahwa kelompok manusia pemburu akan datang setekahnya," katanya..

Menurut Peter Rowley-Conwy, arkeolog yang juga guru besar di Universitas Durham, temuan Jacques dan kawan-kawan ini sangatlah penting.

"Situs ini memiliki potensi untuk menjadi salah satu situs Mesolithic paling penting di Eropa barat," kata Rowley-Conwy.

Berita terkait