BBC navigation

50 puisi Rudyard Kipling ditemukan

Terbaru  27 Februari 2013 - 09:03 WIB
Rudyard Kipling

Kipling banyak dikritik karena pandangan politiknya yang dianggap pro-penjajahan.

Lebih dari 50 puisi yang belum pernah diterbitkan karya penulis ternama Rudyard Kipling telah ditemukan oleh seorang akademisi AS.

Thomas Pinney menemukan sejumlah manuskrip di beberapa tempat termasuk di sebuah rumah di Manhattan yang tengah direnovasi yang dulunya dihuni oleh seorang kapten kapal pelayaran wisata Cunard Line.

Pinney melukiskan temuannya sebagai "saat yang sangat menyenangkan untuk cendekiawan dan fans".

Puisi-puisi ini akan diterbitkan bersamaan dengan sekitar 1.300 puisi lain yang ditulis Kipling, dalams ebuah edisi lengkap karyanya pada 7 Maret nanti.

Kipling, lahir 1865 dan meninggal tahun 1936, dikenal luas karena karya cerita pendeknya seperti The Jungle Book serta puisi Mandalay dan If.

Puisi-puisi yang baru ditemukan ini termasuk beberapa buah yang ditulis dari era Perang Dunia I, termasuk satu yang berjudul Never Again In Any Port, juga ada jurnal yang ditulis Kipling saat mengikuti sebuah tur menelusuri makam-makam korban perang di Belgia dan Prancis tahun 1924.

'Harta karun'

Pinney, seorang profesor bahasa Inggris di Universitas California, mengatakan: "Kipling sudah lama diabaikan para akademisi mungkin karena alasan politik. Karyanya jarang diteliti dengan layak tapi situasinya berubah kini."

"Ada tumpukan harta karun berwujud karya-karya yang belum dikumpulkan, belum terbit dan belum diteliti di luar sana. Saya menemukan tulisan-tulisan yang belum pernah diketahui ada sebelumnya baru-baru ini dan situasi seperti ini akan terus terjadi."

Linda Bree, Direktur bidang puisi dan literatur pada penerbitan Cambridge University Press, mengatakan : "Puisi karya Kipling (berjudul) If adalah salah satu puisi paling populer dalam bahasa Inggris, namun berbagai karya lainnya menunjukkan bahwa dia menulis banyak versi untuk menghibur, menarik dan menantang pembacanya."

Kipling dilahirkan di Mumbai, India, kemudian pindah ke Inggris dengan keluarganya saat berusia lima tahun.

Namun sepanjang abad 20 reputasinya dinodai oleh sikapnya yang membela pandangan imperialis, termasuk seperti kritik penulis ternama George Orwell yang menyebutnya "Nabi imperialisme Inggris".

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.