BBC navigation

Efektivitas obat anti nyamuk 'berkurang'

Terbaru  24 Februari 2013 - 14:11 WIB
Nyamuk

Makin lama keampuhan Deet makin luntur untuk menolak serbuan nyamuk.

Zat yang paling umum dipakai sebagai bahan dasar penangkal gigitan nyamuk, Deet, ternyata mulai kehilangan keampuhannya kata para peneliti.

Sejumlah pakar dari London School of Hygiene and Tropical Medicine mengatakan nyamuk mula-mula enggan mendekati zat itu namun kemudian mereka mengacuhkannya. Para peneliti menyimpulkan untuk mendapatkan penangkal nyamuk yang efektif harus dilakukan penelitian baru untuk mencari alternatif Deet.

Dalam sebuah riset yang ditujukan tehadap nyamuk Aedes aegypti, jenis nyamuk yang menyebarkan penyakit demam berdarah dan demam kuning, muncul kesimpulan Deet makin kehilangan kemanjurannya terhadap nyamuk.

Temuan ini dipublikasikan di dalam jurnal pengetahuan Plos One.

Menurut Dr James Logan dari London School of Hygiene and Tropical Medicine: "Makin kita pahami bagaimana cara kerja zat anti nyamuk dan bagaimana nyamuk mengenali zat itu, makin baik kita ketahui alasan mahluk ini bisa menjadi anti penolak nyamuk."

Umpan manusia

Deet -atau N,N-diethyl-meta-toluamide- adalah zat anti serangga yang paling banyak dipakai di dunia. Zat ini ditemukan dan dikembangkan oleh militer AS setelah berpengalaman dalam pertempuran di hutan-hutan selama Perang Dunia II.

Selama bertahun-tahun belum jels bagaimana zat kimia ini mampu menolak nyamuk namun menurut berbagai riset terbaru zat ini efektif karena serangga tak suka pada baunya.

Meski demikian mulai muncul kemudian kekhawatiran karena diduga nyamuk mulai mengacuhkannya sehingga Deet tak lagi mempan.

Peneliti dari London School of Hygiene and Tropical Medicine melakukan riset dengan menggunakan nyamuk Aedes aegypti di dalam laboraorium dan menggoda nyamuk-nyamuk ini dengan lengan manusia yang sudah diolesi Deet.

Ternyata Deet terbukti berhasil menolak nyamuk. Namun beberapa jam berikutnya nyamuk yang sama mulai mengigit lengan si manusia umpan, sehingga diduga Deet berkurang efektivitasnya.

Untuk menyelidiki apa yang sesungguhnya terjadi, para peneliti meletakkan elektroda pada antena hewan bersayap itu.

Dr Logan menjelaskan: "Kami berhasil merekam respon reseptor pada antena terhadap Deet, dan temuan kami adalah bahwa nyamuk ini sudah tidak lagi sensitif terhadap zat kimianya, jadi mereka tidak terganggu."

"Ada sesuatu tentang paparan Deet saat pertama terjadi yang mempengaruhi sistem tubuh mereka, mengubah indra penciuman mereka, serta kemampuan mencium Deet, sehingga kemudian Deet menjadi kurang efektif."

Riset sebelumnya menyebut yang juga dilakukan tim pakar ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan genetis terhadap spesies nyamuk yang sama yan membuat jenis serangga ini kebal terhadap pengaruh Deet, meski belum jelas apakah ada jenis nyamuk semacam ini di alam liar.

Dr Logan mengatakan sangat penting memahami perubahan genetis sekaligus perubahan temporer yang mempengaruhi sistem tubuh nyamuk ini.

"(Karena) Nyamuk sangat pintar berubah dengan amat cepat."

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.