BBC navigation

Kejutan laba Panasonic akibat lemahnya yen

Terbaru  4 Februari 2013 - 12:00 WIB
Panasonic

Persaingan di pasar televisi dan perabot listrik global sangat ketat saat ini.

Saham Panasonic melonjak 17% menjadi 692 yen di bursa saham Tokyo, setelah perusahaan pembuat TV dan perabot listrik itu kembali menghasilkan laba pada kuartal ketiga tahun lalu.

Jumat (1/2) lalu Panasonic melaporkan lonjakan keuntungan senilai 61,3 miliar yen (sekitar Rp6,4 triliun) sepanjang Oktober-Desember, padahal tahun sebelumnya pada periode yang sama perusahaan terkemuka Jepang itu memanggul kerugian 197,6 miliar yen (sekitar Rp20,6 triliun).

Dalam ramalan bisnisnya Panasonic sebelumnya menyatakan sepanjang tahun masih akan terus merugi dengan nilai kerugian 765 miliar yen hingga 31 Maret pada tahun 2013.

Tetapi karena rendahnya mata uang yen, maka keuntungan mulai masuk dan kondisi bisnisnya dipandang mulai membaik.

Keuntungan ini menjadi dasar analisis sejumlah pengamat yang menyebut investor mengharapkan lemahnya nilai yen berlanjut agar keuntungan terus mengalir pada kuartal pertama tahun ini.

Strategi baru

"Saat ini bisnis Panasonic tertolong oleh nilai mata uang yang rendah dan kelihatannya untuk kuartal keempat kinerja mereka masih berlanjut baik," kata Yuki Sakurai analis pasar dari Fukoku Capital Management kepada BBC.

Secara keseluruhan mata uang yen sudah melemah lebih dari 15% terhadap dollar AS sejak November lalu.

Perusahaan eksportir seperti Panasonic sangat tertolong dengan melemahnya nilai tukar ini karena harga barang bikinan Jepang menjadi lebih murah di pasar luar negeri.

Kemalangan Panasonic dimulai sejak merebaknya krisis ekonomi global serta makin turunnya harga TV. Kompetisi produk serupa juga sangat ketat terutama dari merek asal Korea Selatan, Samsung yang kini memimpin pasar TV dunia.

Panasonic menyatakan konsumsi global TV layar datar dan peralatan digital sudah makin turun.

Angka penjualan melorot 8% tahun lalu dan situasi ini menurut pengamat menunjukkan pentingnya Panasonic mencari terobosan baru agar tetap dapat bertahan dalam bisnis.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.