Vonis kasus diskriminasi warga Kristen

  • 15 Januari 2013
Nadia Eweida mengatakan ia dipecat karena menolak mencopot kalung salib.

Mahkamah hak asasi manusia Eropa hari ini akan memutuskan kasus gugatan empat orang pemeluk Kristen di Inggris yang mengaku kehilangan pekerjaan akibat diskriminasi terhadap kepercayaan mereka di tempat kerja.

Di antara mereka ada seorang pegawai maskapai penerbangan yang berhenti mengenakan salib dan seorang pencatat pernikahan yang menolak menikahkan pasangan gay.

Para penggugat terdiri dari seorang petugas check-in British Airways, Nadia Eweida, perawat Shirley Chaplin, penasihat hubungan Gary McFarlene dan pencatat pernikahan Lilian Ladele.

Eweida, seorang pemeluk Kristen Pantekosta dari Twickenham, di barat daya London, dirumahkan oleh perusahaannya British Airways pada 2006 setelah ia menolak mencopot kalung salibnya.

Sedangkan Chaplin, seorang perawat di Devon, dipindahkan ke tata usaha oleh RS Kerajaan Devon and Exeter NHS karena alasan serupa.

McFarlene, seorang penasihat dari Bristol, dipecat oleh Relate setelah mengatakan dalam pelatihan ia mungkin akan keberatan jika harus memberikan terapi seksual pada pasangan gay.

Ladele diberikan sanksi disipliner setelah ia menolak bertugas pada pernikahan pasangan gay di London utara.

Ditolak kelompok sekuler

Setiap individu mengajukan gugatan terpisah ke pengadilan, tetapi sidang kasus ini disatukan.

Dokumen pengadilan menjelaskan bahwa Eweida dan Chaplin yakin hukum Inggris telah "gagal melindungi hak mereka untuk menjalankan agama" yang bertentangan dengan Pasal 9 Konvensi HAM Eropa.

Pasal itu menjanjikan kebebasan agama, termasuk untuk beribadah, mengajarkan, menerapkan dan menjalankan elemen-elemen keyakinan mereka.

Mereka juga mengklaim bahwa keputusan pengadilan sebelumnya melanggar Pasal 14 konvensi yang mengatakan diskriminasi agama adalah sebuah pelanggaran.

Mereka akhirnya membawa kasus dugaan diskriminasi agama ini ke Mahkamah HAM Eropa, setelah mereka kalah di pengadilan Inggris.

Kelompok-kelompok sekuler di Inggris mengkhawatirkan, apabila putusan empat warga Kristen ini dikabulkan, dapat menggoyahkan undang-undang persamaan hak yang diberlakukan di Inggris.

Di mata kelompok sekuler ini, empat orang warga Kristen ini ingin mendapatkan status istimewa.

Namun demikian, warga Kristen Inggris yang mendukung langkah empat orang ini menyatakan, peraturan hukum yang berlaku harus diubah demi nilai-nilai kebebasan beragama dan hati nurani.

Mahkamah Eropa dijadwalkan akan memutuskan perkara ini pada Selasa (15/01) ini.

Berita terkait