Kaum muda Inggris berjuang dalam kehidupan

  • 1 Januari 2013
Anak muda
Lebih dari seperlima memngaku tidak memiliki orang untuk diajak bicara.

Sekitar satu dari sepuluh anak muda di Inggris merasa mereka tidak mampu untuk mengatasi kehidupan sehari-hari.

Penelitian tentang Indeks Kaum Muda yang dilakukan badan amal The Prince's Trust memperlihatkan 10% dari kelompok usia 16-25 tahun di Inggris mengaku berjuang dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka yang tidak bekerja, tidak mengikuti pendidikan atau pelatihan lebih memungkinkan memiliki perasaan tidak mampu tersebut.

"Jumlah yang mengkhawatirkan dari anak-anak muda yang tidak bekerja yang tidak mampu mengatasinya, khususnya amat berat bagi yang tidak memiliki jaringan dukungan di tempatnya," tutur Martina Milburn, Direktur Eksekutif The Prince's Trust.

Temuan lain adalah lebih dari seperlima, atau 22%, mengatakan tidak memiliki seseorang untuk diajak berbicara tentang masalah yang mereka hadapi.

Sementara 33% mengatakan 'selalu' maupun 'sering' merasa kehilangan semangat atau tertekan.

Faktor pendidikan

Martina Milburn mengatakan anak-anak muda dengan latar belakang keluarga yang paling lemah berada paling jauh dari pasar tenaga kerja.

"Namun dengan dukungan yang tepat, kita bisa bisa membantu hidup mereka kembali ke jalur yang benar," tambahnya.

Sebanyak 2.136 anak muda di Inggris, termasuk Skotlandia dan Wales, diwawancarai dalam penelitian yang dilakukan The Prince's Trust, lembaga amal yang didirikan Pangeran Charles.

Faktor pendidikan terlihat berperan penting dalam pola kehidupan kaum muda, seperti diungkap dalam penelitian.

Mereka yang memiliki pendidikan lebih rendah, misalnya, hampir dua kali lipat (26%) mengaku tidak mampu mengatasi kehidupan sehari-hari dibanding proporsi 10% secara umum.

Sebanyak 27% anak muda yang ikut penelitian mengatakan tidak mengatur jam tidur dan tingkatnya meningkat 39% di kalangan putus sekolah atau yang memiliki kurang dari lima kualifikasi sekolah menengah pertama atau GCSE.

Berita terkait