PBB tegaskan komitmen untuk pendidikan perempuan

Terbaru  23 Oktober 2012 - 20:07 WIB
Malala Yousafzai

Malala Yousufzai dianggap sebagai pahlawan di seluruh dunia.

Dua badan PBB, UNESCO dan UNGEI -prakarsa PBB untuk pendidikan perempuan- menegaskan komitmen untuk mencapai sasaran pembangunan pendidikan bagi perempuan di Pakistan.

Dalam pertemuan khusus yang berlangsung di Islamabad, Turki, Koordinator PBB untuk Pakistan, Timo Pakkala, kembali mengangkat isu hak perempuan untuk pendidikan di negara itu.

Penegasan yang disampaikan Selasa (23/10) itu disampaikan setelah diluncurkan laporan pendidikan UNESCO Kamis (18/10) pekan lalu yang diberi judul 'Pendidikan Untuk Semua, Laporan Pengawasn Global 2012'.

Dalam laporan tersebut terlihat ketimpangan antara perempuan dan laki-laki.

Untuk kelompok usia 15-24 tahun, misalnya, tingkat melek huruf di kalangan perempuan mencapai 61% sementara laki-laki pada 71%.

Sementara perbandingan tingkat buta huruf perempuan dan laki-laki mencapai 64% dan 34% untuk kelompok usia yang sama.

Jika dilihat dari anak yang ke luar sekolah, dari 5,1 juta total anak Pakistan yang tidak melanjutkan sekolah maka jumlah anak perempuan mencapai 63% atau hampir dua pertiga.

Penghormatan untuk Malala

"Di mana saja dan kapan saja seorang anak perempuan dilarang pergi ke sekolah, itu merupakan serangan terhadap semua perempuan, terhadap hak untuk belajar, hak untuk hidup secara utuh dan itu tidak bisa diterima."

Irina Bokova

Isu pendidikan perempuan di Pakistan menjadi perhatian dunia setelah seorang anak perempuan berusia 14 tahun, Malala Yousufzai, ditembak dalam perjalanan ke sekolah oleh kelompok militan.

Malala ditembak karena dengan gigih memperjuangan pendidikan untuk kaum perempuan di tempat tinggalnya, di kawasan Lembah Swat di dekat perbatasan Afghanistan dan Pakistan.

Kisahnya menarik perhatian warga seluruh dunia dan dia sudah diterbangkan ke Inggris dan sedang mendapat perawatan di sebuah rumah sakit di Birmingham, Inggris.

Kaum perempuan di seluruh dunia menganggap dia sebagai pahlawan.

Sebelumnya, dalam penutupan pertemuan Dewan Eksekutif UNESCO, Jumat 19 Oktober, Direktur Jenderal UNESCO, Irina Bokova, menggelar sesi khusus untuk menghromati Malala.

"Di mana saja dan kapan saja seorang anak perempuan dilarang pergi ke sekolah, itu merupakan serangan terhadap semua perempuan, terhadap hak untuk belajar, hak untuk hidup secara utuh dan itu tidak bisa diterima," tutur Bokova.

Pertemuan antara UNESCO dan UNGEI di Islamabad untuk menegaskan komitmen atas pendidikan perempuan di Pakistan.

Acara ini digelar sejalan dengan sesi khusus untuk Malala yang digelar oleh UNESCO.

Malala Yousufzai sudah menjadi perhatian internasional pada tahun 2009 ketika dia menulis blog yang berisi catatan kehidupan sehari-harinya di wilayah yang masih dikuasai Taliban.

Belakangan dia menjadi pegiat hak pendidikan untuk perempuan, yang mengundang kemarahan kaum militan yang mengganggap pendidikan perempuan sebagai nilai-nilai budaya Barat.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.