Tanaman juga membutuhkan klinik

Terbaru  17 April 2012 - 20:28 WIB
suryo_wiyono_klinik_tanaman

Dr Suryo Wiyono menunjukan salah satu contoh tanaman yang dibawa petani ke Klinik Tanaman.

Mencari Klinik untuk mengobati tanaman yang terserang penyakit atau hama dengan fasilitas dan dukungan tenaga ahli bukan perkara mudah di Indonesia, bahkan untuk warga yang tinggal di Jakarta sekalipun.

Namun sesungguhnya klinik untuk tanaman dengan fasilitas lengkap sudah sejak lama ada, salah satunya adalah Klinik Tanaman milik Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB).

Kepala Klinik Tanaman Dr Suryo Wiyono mengatakan siapapun boleh datang untuk meminta petugas membantu menangani persoalan tanaman.

"Tinggal datang saja. Kita tidak ada birokrasi yang terlalu rumit. Bawa saja contoh tanaman yang sakit nanti kita catat dan analisis," kata Suryo.

Seperti layaknya perlakuan dokter kepada pasiennya yang kerap memberikan resep obat untuk menyembuhkan penyakit sang pasien, perlakuan serupa juga diberikan oleh petugas klinik tanaman kepada mereka yang datang ke klinik ini.

"Di sini diberikan resep tapi resepnya bukan meminta klien membeli obat tapi kami berikan saran pengendalian seperti harus melakukan persemaian seperti apa," kata Suryo.

Ia mengatakan dalam satu bulan ada sekitar 12 orang yang datang ke klinik untuk melaporkan tanaman mereka yang terkena penyakit atau hama.

Belum banyak dikenal

"Kita jadi tahu jenis penyakit dan kita juga jadi tahu cara penanganannya. Tidak harus menggunakan pestisida tapi lewat agensi hayati."

Usnadi

Patut disayangkan dengan fasilitas dan tenaga ahli yang bagus hanya sedikit orang yang bisa memanfaatkan layanan ini.

"Saya dibantu lima tenaga ahli dan satu tenaga teknis namun kami juga dibantu sekitar 35-an tenaga ahli lain di departemen proteksi tanaman yang siap mendukung," jelas Suryo.

Klinik Tanaman memiliki klien dari kalangan petani, swasta, penyuka koleksi tanaman hingga pelaku ekspor impor tanaman.

Di kalangan petani sekitar Bogor, klinik ini sudah cukup dikenal dan kerap dimintai bantuan untuk menangani sejumlah persoalan yang mereka hadapi.

Salah satu yang sering mendatangi dan merasakan manfaat keberadaan Klinik Tanaman IPB ini adalah Ketua Kelompok Tani Silih Asuh Cibungbulang, Bogor, Usnadi.

"Kita jadi tahu jenis penyakit dan kita juga tahu cara penanganannya. Tidak harus menggunakan pestisida tapi lewat agensi hayati dan kita diajarkan juga cara membuatnya," kata Usnadi yang telah menerima layanan dari klinik ini sejak tahun 2004 lalu.

Tarif gratis

usnedi_klinik_tanaman

Usnadi adalah petani yang sudah sejak tahun 2004 memanfaatkan layanan Klinik Tanaman.

Suryo Wiyono mengatakan dalam prakteknya klinik ini mengandalkan kemandirian para petani dan kliennya dalam membantu mengatasi persoalan penyakit tanaman.

"Yang melakukan pengendalian penyakit atau mengatasi hama itu petani sendiri atau perusahaan itu sendiri karena kalau mengandalkan tenaga kita untuk melakukan semuanya langsung di lapangan memang tidak cukup," kata Suryo.

Usnadi juga mengatakan petugas klinik tidak menetapkan tarif atas layanan yang diberikan kepada petani seperti dirinya.

"Saya paling urunan ongkos transportasi ke sini sama teman-teman. Kalau sama petugas klinik sudah seperti saudara," katanya sambil tergelak.

Klinik Tanaman seperti ini memang membantu namun sejauh ini tidak banyak yang keberadaannya.

Padahal persoalan hama dan penyakit tanaman terus berkembang seiring dengan perubahan iklim dan lingkungan sejumlah wilayah.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.