Bisnis penyelundupan manusia Korea

Terbaru  7 Juli 2011 - 17:39 WIB
Kondisi politik di Korea Utara mendorong banyak warga ingin keluar

Kondisi politik di Korea Utara mendorong banyak warga ingin keluar

Penyelundup manusia, Ny. Kwon meminta bayaran ribuan dolar untuk menyelundupkan orang keluar dari Korea Utara.

Kwon kelihatannya bekerja untuk usaha keluarga yang membosankan tetapi dengan reputasi baik.

Jaket biru dan sepatu kantor yang dipakai sepertinya tidak nyaman.

Tetapi pakaian seperti apa yang harus anda pakai jika bisnis anda adalah menyelundupkan orang keluar Korea Utara?

Ny. Kwon adalah seorang perantara yang bekerja di Korea Selatan.

Pada pertemuan pertama kami, dia menerima sejumlah telfon lewat beberapa telfon genggamnya, termasuk satu panggilan dari Korea Utara. Kami mendengar dia berbicara cepat dengan sejumlah kontak tanpa nama yang merupakan bagian dari jaringannya.

"Tidak mudah berbicara dengan seseorang di Korea Utara," dia menjelaskan. "Anda tidak bisa langsung menggunakan telfon. Anda sebelumnya harus mengatur tempat yang dapat dikunjungi dan waktunya."

Sulit mendapatkan informasi dari Korea Utara, apalagi mengeluarkan warganya.

Komunikasi dan perjalanan internasional sangat dibatasi, hanya untuk kelompok elit negara itu. Korut bergantung pada bantuan pangan dan bahan bakar. Penilaian Komisi Eropa bulan lalu menemukan lebih 500 ribu orang berisiko sekarat karena sangat kurang gizi. Banyak penduduk memakan rumput.

Kwon mendapatkan bayaran US$2.000-US$3.000 per bulan atau Rp17 juta sampai Rp25,5 juta untuk jasa membantu orang melarikan diri. Dia tidak malu mengatakan hal ini.

"Saya bukan pedagang obat gelap. Saya bukan orang jahat, saya hanya membawa keluar orang. Saya melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan pemerintah Korea Selatan. Ya, saya memang mendapatkan keuntungan, tetapi hal ini menyelamatkan nyawa orang," katanya.

Pasar yang tumbuh pesat

Chon Gi-wan

Pastor Korea Selatan Chon Gi-wan membantu orang Korut mencapai perbatasan Cina

Sekitar tiga ribu warga Korea Utara berhasil mencapai Selatan setiap tahun. Mereka dipandang sebagai pembelot. Diantara mereka terdapat migran ekonomi dan pengungsi politik. Begitu tiba di Korsel, mereka memulai usaha membawa keluar keluarganya.

Kim Sal-yun tinggal di rumah susun, jauh dari pusat kota Seoul. Dia baru saja mengeluarkan anak perempuannya dari Korea Utara dengan bantuan perantara. Sekarang orang tuanya mengatakan ingin pindah juga.

"Sekarang mereka meminta 3,5 juta won per orang untuk membawa keluar dari Korea Utara ke Cina," katanya.

"Sekitar US$3.500 (Rp29,8 juta). Biaya dari Cina ke Korea Selatang adalah US$2.500 (Rp21,3 juta). Saya tidak memiliki uang sebanyak itu, jadi saya mengatakan 'Tidak'. Biayanya melonjak karena semakin sulit membawa keluar orang."

Sejumlah laporan terbaru - yang sulit dikukuhkan - menyatakan Korea Utara memperketat perbatasan dengan Cina, jalur utama pembelot. Sementara risiko meningkat, biayanya juga melonjak.

Operasi Cina

"Keadaan semakin sulit karena Cina melarang misionaris masuk. Dan karena itulah semakin banyak perantara swasta sekarang, yang bekerja terutama untuk mendapatkan keuntungan"

Chon Gi-wan

Dalam beberapa tahun terakhir Cina meluncurkan serangkaian operasi terhadap jaringan yang beroperasi di kawasan perbatasan. Para pegiat mengatakan aksi ini mempengaruhi industri penyelundupan.

Chon Gi-wan sangat mengenal daerah perbatasan. Dia adalah pastor Korea Selatan di Gereja Durihana Seoul. Sebagian besar jemaatnya adalah pembelot Korea Utara yang dia bantu agar dapat melintasi perbatasan Cina.

"Orang Korea Utara biasa mematuhi pemimpin, karena itulah mereka mencari kelompok gereja seperti ini di Cina. Mereka mencari siapa yang menjadi pemimpin dan kemudian menjadi pengikut - ini cara mereka agar dapat bertahan hidup," katanya.

Chon sebelumnya memimpin kelompok pelarian, tetapi Cina kemudian melarangnya melakukan hal itu sebagai bagian dari operasi terhadap kelompok misionaris di sana.

"Keadaan semakin sulit karena Cina melarang misionaris masuk. Dan karena itulah semakin banyak perantara swasta sekarang, yang bekerja terutama untuk mendapatkan keuntungan.

"Pembelot tidak memiliki uang di muka, jadi mereka sepakat untuk membayar perantara begitu tiba di Korea Selatan. Ini menimbulkan serangkaian masalah seperti kejahatan dan hutang."

Perantara tidak berpengalaman

"Warga Korea Utara sekarang berusaha mencari uang dalam jumlah besar, budaya uang menyebar di Korea Utara. Banyak orang berhubungan dengan para perantara"

Joanna Hosaniak

Joanna Hosaniak adalah pegiat hak asasi manusia yang bekerja untuk salah satu organisasi utama Korea Utara, Persekutuan Warga.

Dia mengatakan operasi Cina meningkatkan jumlah broker yang tidak berpengalaman. Mereka bersedia mengambil resiko yang lebih besar untuk mendapatkan imbalan yang lebih banyak.

"Saya dengar ada orang-orang baru. Tetapi karena mereka tidak berpengalaman, muncul banyak masalah.

"Karena mereka tidak mengetahui apa yang harus dilakukan, mereka membahayakan banyak warga Korea Utara yang mempercayai mereka."

Dan dia mengatakan "budaya uang" yang berkembang di kawasan perbatasan berkembang ke Korea Utara sendiri.

"Sekelompok warga Korea Utara juga menjadi bagian jaringan ini - mereka tidak ingin pergi, mereka membantu orang keluar.

"Karena warga Korea Utara sekarang berusaha mencari uang dalam jumlah besar, budaya uang menyebar di Korea Utara. Banyak orang berhubungan dengan para perantara."

Ny. Kwon mengatakan," Pekerjaan ini membuat saya tidak bisa tidur di malam hari. Orang terus menelefon dan saya tidak bisa mengatakan 'Tidak'."

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.