Cerita dua teman akrab Osama bin Laden

Terbaru  17 Mei 2011 - 17:12 WIB
Khaled Batarfi

Sejak kecil, Khaled Batarfi berteman dengan Osama bin Laden

Suatu hari, ketika mereka masih di sekolah, Khaled Batarfi main sepak bola bersama Osama bin Laden.

Osama didorong oleh seorang pemain dari pihak lawan, Khaled kemudian datang dan menarik si pemain lawan itu untuk menjauh.

"Sewaktu saya datang kembali ke Osama, dengan harapan dia akan berterima kasih, dia malah mengatakan kalau kamu tunggu sedikit lagi, saya akan menyelesaikannya dengan damai. Seperti itulah Osama, sampai Afghanistan kemudian mengubah dirinya."

Khaled Batarfi dan Osama bin Laden besar di jalan sepi kawasan permukiman di Jedah pusat.

Rumah Bin Laden diruntuhkan, diganti dengan gedung flat berlantai enam. Seorang tamu di komplek itu, ketika diceritakan mengenai sejarah lingkungan tetangga di situ, mengatakan bahwa dia tidak tahu "dan saya tidak ingin tahu".

"Dampak Osama bin Laden pada Arab Saudi adalah ideologi yang dikembangkannya"

Jenderal Mansour Sultan al-Turki

Seorang tetangga mengatakan dia merasa kasihan Bin Laden dibunuh "karena dia seorang saudara Muslim", sementara anak laki-laki remaja orang itu mengatakan "dia berkorban untuk Muslim. Dia tidak pantas dibunuh".

Di segenap pelosok Jedah, tempat keluarga besar Bin Laden masih bermukim dan tempat sebagian bisnisnya bermarkas, simpati untuk Osama terasa di mana-mana walaupun tidak banyak bukti yang mendukung keyakinan dan tindakannya.

Pada satu malam di salah satu pojok Jedah, pada saat keluarga-keluarga berkumpul untuk makan dan minum dan menyaksikan ombak Laut Merah menghempas ke pantai, banyak orang juga mempertanyakan apakah Osama betul-betul terbunuh.

Tidak ada bukti

Bangunan flat di atas bekas rumah keluluarga Bin Laden

Bangunan flat di atas bekas tapak rumah keluarga Bin Laden di Jedah

Seorang wanita muda yang memakai hijab dan nikab mengutarakan pandangan yang ada di benak banyak orang dengan mengatakan, "Kita tidak melihat bukti. Mereka mungkin saja memalsukan kematiannya, menukangi gambar-gambarnya."

Osama bin Laden meninggalkan Jedah pada pertengahan tahun 1980-an, pergi ke Afghanistan untuk bertempur melawan tentara Uni Soviet.

Orang Arab Saudi melihat perjuangan ini benar dan banyak lainnya yang mengikuti Osama untuk mendukung para pejuang mujahidin.

Pada awal 1990, Osama kembali ke Arab Saudi dan memberikan kuliah. Di situ dia memperkirakan Saddam Hussein akan menyerbu Kuwait.

Jamal Khashoggi, yang sering sekali bepergian bersama Osama di Afghanistan, hadir di dalam ceramah itu. Dia kemudian bertanya kepada Osama, mengapa dia begitu yakin apa yang akan terjadi.

"Dia membacakan satu ayat al-Qur'an," ujar Jamal mengenang kembali jawaban Osama.

"Ayat itu berarti orang yang mempraktikkan jihad untuk Allah, Allah akan menunjukkan mereka jalan yang lurus. Saya tidak begitu enak mendengar ini. Dia menempatkan dirinya pada posisi 'Saya ini bisa melihat itu karena Allah menunjuki saya ke arah itu'. Itulah pertama kali saya merasa bahwa Osama mulai memiliki ego yang besar."

Ideologi gagal

Jamal putus kontak dengan Osama bin Laden pada pertengahan 1990-an dan Khaled pada awal 1990-an karena kedua orang ini menolak ideologi Osama.

Jamal Khashoggi

Jamal Khashoggi menganggap Osama bin Laden memiliki ego yang besar

Meskipun sudah bertahun-tahun mereka tidak pernah berjumpa dengan Osama, kedua orang itu mengaku sedih dengan kematian sahabat lama mereka dalam serangan oleh pasukan AS di Pakistan awal bulan ini.

Khaled Batarfi berpendapat AS seharusnya berusaha menangkap Osama atau, kalau itu gagal, makamkan dia dengan layak.

"Mereka bisa menunjukkan video seorang ulama melakukan sholat jenazah sebagaimana mestinya, dan kemudian kuburkan dia di darat tanpa harus mengatakan di mana dikebumikan. Kalau mereka lakukan seperti ini, mungkin tidak akan ada protes atau kontroversi."

Bagi Jamal Khashoggi, ada sesuatu yang berkebetulan sehubungan dengan terbunuhnya Osama pada saat sekarang ini, di tengah pemberontakan di seluruh Timur Tengah.

"Organisasi, gagasan, dan pemikirannya menemui jalan buntu," katanya.

"Semuanya gagal di Lapangan Tahrir. Dia sebetulnya bisa jauh lebih baik untuk dirinya, untuk keluarganya, untuk agamanya kalau dia tetap moderat."

Pemerintah Saudi boleh dikatakan bereaksi diam terhadap kematian Osama, dengan hanya mengatakan pihaknya berharap pembunuhan ini akan membantu upaya internasional untuk membasmi terorisme.

Namun demikian juru bicara kementerian dalam negeri, Jenderal Mansour Sultan al-Turki, mengakui bahwa putra negaranya yang paling terkenal buruk itu akan terus berdampak terhadap Arab Saudi.

"Dampak Osama bin Laden pada Arab Saudi adalah ideologi yang dikembangkannya, ideologi... yang kami anggap menjadi kekuatan bagi terorisme yang terkait dengan al-Qaeda."

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.