BBC navigation

Ideologi salafi tantang Hamas

Terbaru  13 Mei 2011 - 21:41 WIB
Pendukung aliran jihad Salafi menganggap Osama bin Laden pahlawan mereka

Pendukung aliran jihad Salafi menganggap Osama bin Laden pahlawan mereka

Tak lama setelah kabar bahwa Osama bin Laden ditembak mati oleh pasukan komando AS, sekelompok pemuda berdemonstrasi di ibu kota Jalur Gaza, Kota Gaza.

Mereka mengecam Presiden AS Barack Obama, dan sebaliknya memuji Osama.

''Osama masih ada di dalam diri kami,'' pekik mereka.

Kebanyakan dari demonstran tadi adalah anak-anak muda usia 20 tahunan. Jumlah mereka memang kecil, tidak lebih dari 50 orang, tapi suara mereka lantang.

''Kami datang kemari untuk menunjukkan kemarahan kami atas pembunuhan Syaikh Osama Bin Laden," kata Jihad, pemuda kekar berjenggot.

Pemuda yang mengenakan busana tradisional Arab itu adalah seorang pendukung faham jihad salafi.

''Orang-orang jihad Salafi di Gaza sudah lama ingin mendapatkan pengakuan dari al-Qaida,'' kata Nathan Thrall, seorang analis Timur Tengah di lembaga International Crisis Group (ICG) dan sekaligus ahli Islam radikal di Gaza.

''Mereka bukan orang-orang yang berafiliasi dengan al-Qaida, tapi jika mereka dikatakan diilhami oleh al-Qaida itu tepat,'' kata Thrall.

Praktik Salafi adalah bentuk perwujudan Islam sangat konservatif. Mereka mendapatkan ilham dari generasi awal umat Islam yang dekat dengan Nabi Muhammad dan ajarannya.

Di Jalur Gaza, sebagian besar muslim bukan orang yang mengedepankan tindak kekerasan. Orang-orang penganut jihad salafi mendukung tindak kekerasan.

Jumlah penganut jihad salafi sangat kecil di Gaza. Nathal Thrall menaksir jumlah mereka puluhan bukannya ratusan.

Orang-orang tersebut sering bertikai dengan pemerintah Hamas di Jalur Gaza. Menurut mereka, pemerintah Hamas terlalu moderat dan terlalu mudah menerima kompromi soal prinsip Islam.

'Ancaman ideologis'

Aktivis Vittorio Arrigoni mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina

Aktivis Vittorio Arrigoni mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina

Suara kelompok Salafi didengar orang.

Awal bulan ini, satu hari setelah pembunuhan Osama Bin Laden di Pakistan, Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyeh dari Hamas mengutuk operasi komando Amerika.

Haniyeh menyebut Bin Laden ''pejuang suci Arab dan muslim''.

Pernyataan semacam itu dianggap muncul pada waktu tidak tepat oleh pihak yang mengharapkan bahwa kesepakatan rekonsiliasi Palestina antara Hamas dan saingan sekulernya, Fatah, mungkin mendorong Hamas memoderatkan pandangan.

Hamas belakangan memperlunak pandangan, tapi banyak orang yakin Haniyeh sedikitnya juga mempertimbangkan konstituen Salafi ketika melontarkan pernyataan.

''Ancaman yang ditimbulkan oleh orang-orang Salafi terhadap Hamas sebenarnya urusan ideologi,'' kata Nathan Thrall.

"Ancaman yang ditimbulkan oleh orang-orang Salafi terhadap Hamas sebenarnya urusan ideologi"

Nathan Thrall

''Sangat sulit bagi Hamas untuk membela diri di hadapan penantang dari kalangan Muslim yang menyatakan Hamas lalai menerapkan hukum Islam, memerangi Israel dan membebaskan bangsa Palestina,'' tambah Thrall.

Namun, menurut dia, ancaman fisik yang ditimbulkan orang-orang Salafi terhadap Hamas jauh lebih kecil.

''Hamas telah memperlihatkan diri di masa lalu bahwa kelompok itu bisa melibas orang-orang yang mendukung jihad Salafi ketika mereka melanggar batas,'' katanya.

Salah satu batas itu adalah penculikan dan pembunuhan aktivis pro-Palestina asal Italia, Vittorio Arrigoni, oleh sekelompok kecil orang Salafi di Gaza bulan April.

Mendiang Arrigoni yang bermukim di Jalur Gaza diculik dan kemudian dicekik.

Sebelum dia dibunuh, rekaman video yang memperlihatkan warga asing berusia 36 tahun itu dipukuli dan ditutup matanya dipublikasikan situs internet Salafi.

Para penculik menuntut pembebasan tahanan Salafi yang ditahan di penjara-penjara Hamas.

Hamas dianggap berjasa meredam ancaman penculikan di Gaza, dan pembunuhan Arrigoni sebagai tantangan terhadap otoritasnya. Pasukan Hamas membalas dengan keras.

Beberapa hari setelah pembunuhan, aparat keamanan Hamas mengepung sebuah rumah di bagian tengah Gaza tempat tiga penculik yang diyakini penganut faham Salafi bersembunyi.

Setelah baku tembak sengit, dua orang Salafi tewas. Satu lagi ditangkap. Berikutnya sejumlah orang Salafi diyakini ditahan di berbagai lokasi di Jalur Gaza.

"Saya rasa kami berhasil menutup berkas ini sekarang,'' kata Wakil Menteri Luar Negeri Ghazi Hamed dari Hamas.

''Ini kelompok kecil. Sebagian dari mereka terbunuh. Sebagian dari mereka ditahan. Semua sudah terkendali,'' ujar Hamed.

Pekan lalu terungkap seorang warga Amerika yang tinggal di Gaza dianjurkan oleh Hamas agar meninggalkan Jalur Gaza, akibat ancaman dari kelompok-kelompok Salafi dan kemungkinan ada rencana penculikan untuk membalas pembunuhan Osama Bin Laden.

Bergantung dengan sudut pandang kita, kabar ini bisa jadi bukti bahwa Hamas selangkah lebih cepat dari orang-orang Salafis, dan memang memegang kendali atas Gaza, atau bahwa ancaman Salafi lebih besar dari yang mungkin diungkapkan Hamas.

Pemerintah dan 'perlawanan'

Pasukan bersenjata Hamas menjaga rute Maraton Gaza

Pasukan bersenjata Hamas menjaga rute Maraton Gaza

Hamas memang memiliki sarana untuk bisa mengendalikan Gaza. Puluhan ribu warga bekerja di jajaran aparat keamanan di sini.

Hanya beberapa pekan setelah pembunuhan Arrigoni, Hamas berhasil mengamankan penyelenggaraan lomba Maraton Gaza pertama. Acara itu bisa saja menjadi sasaran empuk bagi orang-orang jihad Salafi.

Ribuan polisi Hamas menjaga sepanjang rute lomba dari ujung atas ke ujung bawah Gaza. Peristiwa olahraga ini membuka kesempatan bagi Hamas untuk menunjukkan dia memegang kendali penuh di sana.

Sisi militer Hamas sudah menjadi pemandangan lumrah. Hamas memang menyodorkan diri sebagai gerakan pejuang yang melawan pendudukan Israel.

Namun, kelompok perlawanan itu juga harus menjalankan pemerintahan. Itu berarti mengelola sekolah, rumah sakit dan kebersihan jalan.

Maher Sabra, analis di Universitas al-Ummah di Gaza, mengatakan kondisi ini memunculkan tantangan bagi Hamas.

''Sangat sulit menggabungkan kedua urusan, berkuasa sebagai pemerintah yang mengurusi masyarakat dan pada saat yang sama bekerja sebagai gerakan perlawanan,'' kata Sabra.

Dalam empat tahun terakhir, menurut keyakinan Sabra, Hamas telah menjadi semakain pragmatis.

"Mereka berada di posisi yang sulit. Namun, sejauh ini mereka bisa bertahan dari kesulitan"

Maher Sabra

''Mereka berada di posisi yang sulit. Namun, sejauh ini mereka bisa bertahan dalam kesulitan itu,'' ujarnya.

Bagi sekelompok kecil pendukung jihad Salafi, Hamas sudah menyimpang.

Sebagian orang Salafi adalah bekas anggota Hamas yang kecewa, karena mereka menilai gerakan itu mengesampingkan prinsipnya.

Fakta bahwa sejumlah kecil orang Salafi pernah memiliki kaitan dengan Hamas menjadi alasan sebagian pihak di Israel yang menuding media membesar-besarkan pertikaian Hamas-Salafi.

Mereka secara tersirat mengatakan, kedua kubu sebenarnya lebih dekat daripada yang kadang-kadang terungkap.

Namun, Nathan Thrall dari ICG menolak pandangan tersebut dan menurut dia konflik itu nyata.

"Hamas sangat tidak menghendaki penantang dari kalangan Islam mempertanyakan kredensialnya," kata Thrall.

Orang-orang aliran jihad Salafi berjumlah kecil di Jalur Gaza.

Namun, selagi dinamika politik Palestina bergeser di bulan-bulan mendatang, mereka tidak punya banyak kesempatan untuk didengar, baik dengan menembakkan roket ke Israel untuk memecahkan situasi yang relatif tenang atau dengan mencoba secara lebih terbuka menantang Hamas.

Link terkait

Topik Terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.