Terbaru  24 Desember 2010 - 15:24 GMT

Alat baru pengubah energi Matahari

Reaktor sinar Matahari

Reaktor sinar Matahari yang bisa meniru pekerjaan tumbuhan

Satu prototip alat serap sinar Matahari dipamerkan baru-baru ini. Alat itu bisa menirukan kehidupan tumbuh-tumbuhan, mengubah energi Matahari menjadi bahan bakar.

Mesin itu menggunakan sinar Matahari dan oksida logam yang disebut cerium (serium) untuk mengurai karbon dioksida atau air menjadi bahan bakar yang bisa disimpan dan diangkut.

Panel konvensional harus menggunakan listrik yang dihasilkan di tempat, dan tidak bisa mengalirkan tenaga listrik pada malam hari.

Rincian mengenai alat baru ini dimuat di dalam jurnal Science.

Prototip yang diciptakan oleh para periset di AS dan Swiss itu, menggunakan jendela dan lubang kristal dan untuk menyalurkan cahaya Matahari ke dalam tabung yang dilapisi dengan serium oksida yang juga dikenal dengan ceria (seria).

Seria memiliki kecenderungan alami untuk mengeluarkan oksigen ketika memanas dan menghirupnya sewaktu mendingin.

Jika seperti yang ada di prototip itu, yaitu karbon dioksida dan/atau air dipompakan ke bejana, seria dengan cepat akan melepaskan oksigen pada saat suhu menurun sehingga menciptakan hidrogen dan/atau karbon monoksida.

Hidrogen yang dihasilkan bisa digunakan untuk menggerakkan sel bahan bakar hidrogen di mobil, sebagai contoh, sementara campuran hidrogen dan karbon monoksida bisa digunakan membuat "sin-gas" untuk bahan bakar.

Menara listrik tenaga Matahari

Menara pembangkit listrik tenaga Matahari PS10 dekat Seville, Spanyol

Persenyawaan zat seria di dalam reaktor sinar Matahari itulah yang merupakan terobosan besar, kata penemu alat itu. Mereka juga mengatakan logam itu sudah tersedia di Bumi.

Metana bisa dihasilkan dengan memakai mesin yang sama, ujar mereka.

Diperlukan peningkatan

Prototip ini sangat tidak efisien. Bahan bakar yang diciptakan hanya mengikat antara 0,7% sampai 0,8% energi Matahari yang dimasukkan ke tabung (bejana).

Sebagian besar energi lenyap begitu panas hilang lewat dinding reaktor atau melalui re-radiasi cahaya Matahari lewat mulut tabung itu.

Tetapi para periset yakin bahwa tingkat efisiensi sampai 19% bisa dicapai dengan insulasi yang lebih baik dan mulut tabung yang lebih kecil.

Tingkat efisiensi seperti ini, kata mereka, bisa membuat proses itu lebih memungkinkan untuk tujuan komersial.

"Campuran bahan itu sangat cocok untuk proses ini," ujar Profesor Sossina Haile dari Institut Teknologi Kalifornia (Caltech).

Dia mengatakan reaktor itu bisa dipakai untuk menciptakan bahan bakar angkutan atau dipasang di pembangkit energi skala besar, di mana tenaga bersumber Matahari bisa tersedia siang dam malam.

Jika kita punya kebijakan karbon, maka alat seperti ini akan mencapai kemajuan lebih cepat

Prof Sossina Haile

Namun begitu, Prof Haile mengakui nasib alat ini dan juga alat-alat lain yang sedang dikembangkan akan tergantung pada apakah negara-negara bagian menganut kebijakan karbon rendah.

"Sangat terikat dengan kebijakan itu. Jika kita punya kebijakan karbon, maka alat seperti ini akan mencapai kemajuan lebih cepat," katanya kepada BBC.

Ada yang mengatakan bahwa alat tersebut meniru fungsi tumbuhan, yang juga menggunakan karbon dioksida, air dan sinar Matahari untuk menciptakan energi sebagai bagian dari proses fotosintesa.

Tetapi, Prof Haile berpendapat analogi itu terlalu sederhana.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.