Terbaru  30 November 2010 - 10:17 GMT

tokoh

Ratna Ibrahim, kesetiaan sang pendengar

Ratna Indraswari mengaku dunia sastra telah memberinya daya hidup.

Sastrawan Ratna Indraswari Ibrahim mampu melahirkan karya sastra secara produktif, walaupun kemampuan fisiknya nyaris tidak berfungsi.

Sejak usia 10 tahun mengalami kelumpuhan akibat rachitis, kesetiaan berkarya Ratna di dunia sastra ditandai dengan lebih dari 400 karya cerpen dan novel yang dihasilkannya sejak usia remaja hingga sekarang.

"Saya setia menggeluti dunia sastra, itulah kuncinya," ungkap Ratna Indraswari, 61 tahun, saat ditemui BBC Indonesia di kediamannya di Kota Malang, Jawa Timur, tentang kemampuannya yang produktif dalam menghasilkan karya sastra berupa cerita pendek (cerpen).

Selain melahirkan belasan buku kumpulan cerpen, karya-karya perempuan kelahiran Kota Malang, 24 April 1949 ini beberapakali terpilih masuk dalam kumpulan cerita pendek harian Kompas.

Anda tahu saya cacat kan, tetapi (sejak kecil) saya tidak dididik untuk cengeng

Ratna Indraswari Ibrahim

Dua novelnya yang berjudul Bukan Pinang Dibelah Dua (2003) dan Lemah Tanjung (2003) juga ikut menyemarakkan perjalanan sastra Indonesia moderen.

Pencapaian itu, tambah Ratna, juga tidak terlepas dari peran orang tuanya yang sejak awal tidak mengistimewakan dirinya karena kelumpuhannya itu.

"Anda tahu saya cacat kan, tetapi (sejak kecil) saya tidak dididik untuk cengeng," kata Ratna, dengan kalimat yang datar.

Sambil duduk di kursi rodanya, Ratna kemudian menerawang jauh, menceritakan pengalamannya di masa kecil. Dia menyebut sosok ibunya, yang disebutnya mampu membentuk karakternya seperti sekarang.

"Ibu saya keras sekali (sifatnya). Kalau saya tidak datang di meja makan (untuk sarapan) pada pukul 7 pagi, dia akan memukul saya, seperti dia memukul saudara-saudara saya," ungkapnya, dalam wawancara di ruang tamu rumahnya yang sejuk.

Sejak usia 10 tahun, kemampuan fisik Ratna secara perlahan-lahan nyaris tidak berfungsi. Tangan dan kakinya mengecil dan menjadi lumpuh.

Walaupun masih pro dan kontra, dokter saat itu mendiagnosa apa dialami Ratna sebagai rachitis yang menyerang persendiannya.

Mulai saat itulah dia duduk di atas kursi roda hingga sekarang.

Untuk melihat materi ini, JavaScript harus dinyalakan dan Flash terbaru harus dipasang.

Putar dengan media player alternatif

Pernah ateis

Dalam perjalanan hidupnya, sebagai difabel, Ratna mengaku pernah mengalami masa-masa yang disebutnya sebagai "kemarahan usia remaja".

"Saya marah kepada Tuhan, lima saudara saya cantik-cantik, kok saya nggak cantik, dan cacat lagi," tutur Ratna, membuka kisah ini.

Ratna kecil kemudian memproklamasikan dirinya sebagai ateis.

"Sudah, saya nggak mau kenal Kamu (Tuhan), saya mulai sekarang atheis," ungkap Ratna, yang sejak kecil sudah dikenalkan buku-buku bertema 'berat' milik mendiang ayahnya.

Sikap seperti ini kemudian dia utarakan kepada ibunya.

Bagaimana reaksi sang ibu?

Akibat kelumpuhan, Ratna sempat menolak keberadaan Tuhan.

"Tidak apa-apa. Nanti kalau kamu memasuki usia 50 tahun, kamu nanti kembali ke Tuhan," ujar Ratna menirukan jawaban ibunya.

Jawaban sang ibu, belakangan disyukuri sepenuhnya oleh Ratna. "Saya dibiarkan belajar dari alam," kata Ratna lagi.

Dan apa yang terjadi saat usia Ratna mendekati usia 50 tahun?

"Nyatanya memang iya. Siapa yang membantu saya selama ini, 'kan Tuhan..."

"Lagipula saudara-saudara saya yang cantik, ya lama-kelamanan nggak cantik 'kan. Mereka 'kan jadi perempuan yang usianya 50 tahun," kata Ratna, kali ini dengan menebar tawa.

Sastra lisan

Saat wawancara berlangsung, Ratna yang duduk di kursi roda, beberapa kali memencet tombol di kursinya untuk memanggil asistennya yang bernama Umi.

Tombol yang dipencet itu menimbulkan suara "assalamualaikum" yang terdengar nyaring di ruang kerja Umi.

Tak berapa lama kemudian, Umi muncul. Dia lantas membantu Ratna, seperti yang dimintanya,-misalnya membantu memberi minum air jeruk, mendorong kursi rodanya, hingga membawakan belasan buku karya-karyanya.

Kehadiran asisten seperti diperagakan Umi, juga berlaku dalam aktivitasnya 'menulis'.

Karena keterbatasan fisik, Ratna memang tidak mampu mengetik atau menulis.

Belasan buku tentang kumpulan cerpen dan novel telah lahir dari tangannya.

Untuk itulah, Ratna dibantu seorang asisten lainnya (namanya Slamet) untuk mengetik kalimat demi kalimat yang dia utarakan -yang kelak melahirkan cerpen atau novel.

Dalam berbagai kesempatan, Ratna kemudian menyebut aktivitasnya itu sebagai "sastra lisan".

Penasaran dengan istilah itu, dalam wawancara yang berlangsung satu jam itu, saya secara khusus menanyakan kenapa dia memunculkan istilah itu.

"Sejak kecil, saya punya kebiasaan belajar dengan mendengar," kata Ratna

Kebiasaan ini tidak terlepas dari kondisi tangannya yang tidak mampu menulis.

Dan lagi-lagi, menurut Ratna, sosok ibunya ikut berperan dalam melatih kepekaan pendengarannya. "Ketika tangan saya nggak bisa, pasti telinga saya bisa, begitulah yang selalu ditekankan ibu saya".

"Jadi dari kuping saya, kemudian saya olah sehingga jadi cerpen," ungkapnya.

Sekarang dalam berkarya, Ratna mengaku selain melibatkan orang lain untuk mengetik apa yang dia utarakan, juga dibantu alat perekam.

Terjun beroganisasi

Di kalangan pegiat lingkungan, aktivis mahasiswa dan pekerja seni di Kota Malang, Jawa Timur, nama Ratna Indraswari acap disebut-sebut.

Hubungi kami

* Kolom harus diisi

(Maksimal 500 karakter)

Rumahnya pernah menjadi tempat pertemuan serta diskusi, membahas berbagai persoalan sosial hingga masalah isu pengrusakan lingkungan.

Salah-satu novelnya yang berjudul Lemah Tanjung (2003), sebutlah, lahir dari kemarahannya terhadap pengrusakan lahan hutan kota di Kota Malang, yang dijadikan perumahan mewah.

Kepada BBC Indonesia, Ratna mengaku ada semacam ketidakpuasan ketika karya sastranya belum berdampak secara luas, sehingga diakuinya perlu ada 'langkah lebih besar'.

"Ini barangkali sebuah kesombongan ya, saya ingin menolong orang lain," kata Ratna.

Itulah sebabnya, Ratna kemudian terjun di berbagai organisasi, mulai kelompok diskusi seperti Forum Pelangi sampai Yayasan Bakti Nurani (didirikan 30 tahun silam) yang beranggotakan puluhan penyandang difabel. Dia juga mendirikan toko buku di paviliun rumahnya.

Awal menulis

Keputusan Ratna Indraswari terjun total ke dunia sastra, berawal dari latar belakang keluarganya yang menggemari dunia buku serta tulis-menulis.

Dan ini betul-betul ditanamkan sejak dia dan sembilan saudaranya masih belia.

"Jadi saat saya kecil, ketika saya minta baju, tidak dibolehkan. Tetapi orang tua kami memberi kesempatan, kalau kita minta buku," ungkap Ratna yang siang itu mengenakan baju hijau terang.

"Kalau baju, hanya tiga kali dalam setahun, lebaran, ulang tahun atau kenaikan kelas," katanya terkekeh.

Selain menulis cerpen dan novel, Ratna terjun beroganisasi.

Alasan orang tuanya kenapa mereka dibiasakan membaca buku, "agar kami dengan membaca apa saja, kita akan ber-iqra atau berpikir ada cerita lain tentang dunia ini".

Kemampuannya 'menulis-nya' mulai terasah, juga karena didikan orang tuanya.

Ibunya selalu menanamkan kepada Ratna kecil bahwa kemampuan fisiknya yang terbatas, tidak bisa dijadikan alasan untuk bersikap minder.

"Mengapa tidak. Kamu 'kan punya otak. Kalau menulis kan bisa minta orang lain untuk mengetik," kata pengagum novelis dan tokoh feminis asal Inggris -Viriginia Woolf ini- menirukan nasihat ibunya.

Sebelum beranjak dari rumahnya, saya tanyakan pula apa keinginannya yang belum terwujud.

Menurut Ratna, jika diberi kesempatan bisa mengulang waktu, dia ingin bertemu kembali dengan adiknya yang baru saja meninggal dunia.

"Ini kesedihan saya. Saya ingin jalan-jalan dengan dia, ngobrol, nyanyi, nonton Peterpan bareng dengan dia," ungap Ratna.

"Tapi secara umum yang ingin saya lakukan adalah menulis dengan sangat tekun, sehingga bisa seperti Virginia Woolf," kata Ratna Indraswari menutup pembicaraan.

bbc.co.uk navigation

BBC © 2012 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.