Terbaru  11 Oktober 2010 - 13:10 GMT

Ahmadiyah belum tentu bersedia pindah

Protes anti-Ahmadiyah

Sebagian kalangan tidak bisa menerima keberadaan Ahmadiyah

Pemerintah Kabupaten Lombok Barat berencana akan segera menempatkan sekitar 20 kepala keluarga penganut Ahmadiyah ke salah satu pulau di Kecamatan Sekotong dari lokasi pengungsian mereka di di Asrama Transito, Mataram.

Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Lombok Barat Ispan Junaidi mengatakan selama hampir lima tahun terakhir mereka mendiami Asrama Transito Transmigrasi dengan nasib yang tidak jelas.

"Karena itu, atas nama kemanusiaan kita perlu merelokasi para pengikut Ahmadiyah karena sesungguhnya kalau mereka kembali ke tanah asal, mereka tidak diterima oleh kelompok masyarakat, sebagian besar bahkan semua orang warga non-Ahmadiyah di sana," kata Ispan kepada BBC Indonesia.

Pulau yang direncanakan akan digunakan untuk relokasi, kata Ispan, adalah pulau yang menjadi obyek wisata dan akan dikembangkan menjadi kecamatan baru.

"Penduduknya di sana memang masih sedikit. Lalu kita bisa proteksi mereka. Di sana mereka tinggal sambil kita berdialog dengan mereka supaya tidak menimbulkan masalah bagi masyarakat. Artinya, supaya tingkat keberterimaan masyarakat tinggi maka kita harus mix (campur) mereka dengan masyarakat di lingkungan," jelasnya.

Akan dipertimbangkan

Sementara itu, Ketua Pengurus Ahmadiyah untuk wilayah Nusa Tenggara Barat Jauzi Djafar mengaku belum mendapat pemberitahuan resmi soal rencana pemindahan.

"Saya mendapat informasi ini baru dari media, belum langsung disampaikan oleh pemerintah, dalam hal ini Bupati Lombok Barat kepada warga Ahmadiyah atau perwakilannya," kata Jauzi kepada BBC Indonesia.

Kalau istilah dipindahkan kemudian ditelantarkan di sana tidak diberi fasilitas selayaknya warga yang lain, ya tentunya warga Ahmadiyah menolak

Jauzi Djafar

Jauzi menambahkan sejauh ini pihaknya tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan rencana relokasi namun akan mempertimbangkan usulan pemerintah.

"Sebenarnya kami ingin kepastian keputusan pemerintah itu apa terhadap warga kami yang sedang mengungsi ini. Kalau pemerintah membuat keputusan yang intinya memberikan solusi kepada warga Ahmadiyah, ya kami akan mempertimbangkan itu," tuturnya.

Bagaimanapun, dia menegaskan pemindahan tersebut ada syaratnya.

"Kalau istilah dipindahkan kemudian ditelantarkan di sana tidak diberi fasilitas selayaknya warga yang lain, ya tentunya warga Ahmadiyah menolak," kata Jauzi.

Saat ini masih terdapat sekitar 29 kepala keluarga pengikut Ahmadiyah yang masih tinggal di pengungsian pasca kerusuhan di Dusun Ketapang, Desa Gegerung, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat pada Februari 2006.

Sekitar 22 keluarga kembali ke desa mereka pada Agustus 2010 tetapi, menurut Jauzi, mereka tidak merasa aman tinggal di kampung halaman.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.