Terbaru  8 Juli 2010 - 07:28 GMT

Ada van Bronckhorst di Kramat...

Warga Ambon bangga Bronckhorst cetak gol indah

Warga Ambon bangga Bronckhorst cetak gol indah

Kemenangan Tim Belanda atas Uruguay yang mengantar tim Oranye ke final Piala Dunia 2010 ternyata juga mendatangkan suka cita luar biasa ke Kepulauan Maluku dan juga warga asal Maluku di perantauan.

Mereka semakin larut dalam suka cita atas kemenangan 3-2 mengingat pemain orang keturunan pendatang asal Maluku memberikan andil besar bagi tim Oranye.

"Kita berteriak senang, karena ada putra Maluku di Tim Belanda, Van Bronckhorst, yang mencetak gol dengan indah," kata Jopie Taihuttu, salah-seorang tokoh masyarakat Ambon kepada saya di kediamannya di Jalan Kramat 7, tidak jauh dari kawasan Senen, Jakarta Pusat.

Saat saya jumpai, Jopie, 62 tahun, ditemani beberapa rekannya sesama Ambon van Kramat yang sengaja mengenakan kaos oranye, warna khas tim kesebelasan Belanda.

Mereka juga memasang logo kesebelasan Belanda dan jadwal pertandingan berbahasa Belanda di dinding salah-satu ruangan rumahnya.

Selama satu bulan ini, Joppie dan rekan-rekannya koleganya juga menggelar nonton bareng dengan memasang layar bebas di depan rumahnya -- utamanya saat tim Oranye berlaga atau partai besar lainnya.

Saat momen seperti itulah, mereka menunjukkan dukungan sepenuhnya kepada tim Belanda.

"Jalan kita tutup, dan kita pasang bangku yang diambil dari gereja. Semua dukung Belanda, soalnya di sini sebagian besar adalah warga Maluku," ungkap Jopie.

Jopie dan keluarganya memang tinggal di sebuah kampung, yang sejak awal dibuat untuk menampung warga Maluku.

Joppie menambahkan ini merupakan produk kebijakan pemerintah Kolonial Belanda, untuk 'memisahkan' warga Ambon dari etnis lain.

Keluarga KNIL

Arak-arakan suporter Belanda ramaikan Ambon

Arak-arakan suporter Belanda ramaikan Ambon dan kota lain di Maluku

Saat wawancara berlangsung, keluarga Joppie ikut bergabung. Mereka juga mengenakan kaos warna oranye, dan bersemangat mendukung kesebelasan Belanda. Diantara mereka juga memutar lagu-lagu berbahasa Belanda.

Salah-seorang koleganya bercerita baru saja pulang dari Ambon. "Kenapa bapak tidak ke Ambon, di sana lebih semarak dukungan terhadap tim Belanda," kata salah-seorang ibu, bersemangat.

Ibu itu kemudian bercerita, selama tim Oranye bertanding, ratusan orang pendukungnya pawai dengan naik motor keliling kota Ambon. "Mereka juga pakai atribut kaos oranye, juga membawa bendera merah-putih-biru," ungkapnya.

Saya jadi teringat kasus bentrokan antara suporter Belanda dan Brazil di sebuah kota di Maluku, usai pertandingan kedua kesebelasan di babak perempat final lalu.

Polisi dan aparat TNI kemudian diturunkan untuk melerai insiden tersebut.

Dan ketika saya tanya kenapa ada kecenderungan sebagian besar warga Maluku mendukung tim Belanda, Jopie mengaku "ini tidak terlepas faktor sejarah".

Secara terus-terang Jopie mengaku orang tuanya dulu adalah bekas tentara KNIL, tentara Kerajaan Hindia Belanda.

"Kita memang punya keterikatan emosional, karena mungkin latar belakang orang tua kita yang banyak eks KNIL," ungkapnya.

Total Football

Sebagai penggemar berat tim kesebelasan Belanda, Joppie dan sesama warga Ambol lainnya sangat terusik jika diingatkan kekalahan tim kesayangan mereka di Piala Dunia 1974 dan 1978.

"Itu yang kita sayangkan," ungkap Jopie, masygul.

Seperti diketahui, di Piala Dunia 1974, tim Oranye difavoritkan meraih juara, karena penampilan ekplosif Johan Cryuff dan kawan-kawan dengan sistem total football-nya. Namun di final, mereka takluk di kaki Jerman Barat.

Kemalangan serupa terulang di piala dunia empat tahun setelahnya di Argentina.

Warga Maluku yang bekas wartawan koran Sinar Harapan dan dikenal sebagai pengamat sepakbola, John Halmahera yang saya hubungi melalui telepon, juga pedih ketika mengenang semua itu.

"Seharusnya Belanda menang saat itu," kata John, yang lahir di Maluku Utara, seraya menggambarkan tendangan pemain Belanda di final piala dunia 1978 yang disebutnya "seharusnya masuk".

Jopie Taihuttu dan Guus Moselman

John mengaku punya keterikatan emosi dengan tim Belanda karena permainan total football era Johan Cruyff yang dianggapnya indah.

"Selain itu, ya, karena saya dulu sekolah yang memakai Bahasa Belanda, dan ada keluarga saya yang tinggal di negara itu," papar lelaki kelahiran 1947 ini.

Dari ikatan emosi inilah, saya akhirnya bisa memahami apabila analisanya seputar tim Belanda yang diterbitkan tahun 80-an, cenderung berempati.

Namun dia buru-buru menimpali, "Kalau sebagai wartawan, saya tetap obyektif. Tapi sebagai manusia, harus saya akui, ada ketertarikan, ada kecondongan pro Belanda sedikit," terangnya seraya tertawa.

Di tempat saya bertemu Jopie, saya juga dikenalkan lelaki keturunan Ambon yang berperawakan tinggi besar. "Nama saya Guus Moselman," katanya mengenalkan diri.

Dia disebut sebagai salah-satu warga Ambon yang pernah tampil sebagai pesepakbola tenar di masanya. "Waktu saya bermain sepakbola, ada beberapa pemain asal Belanda. Saat itulah, kami menjadi 'gila' Belanda dalam hal sepakbolanya," katanya.

Keluarga Bronckhorst

Disebut-sebut ada beberapa warga keturunan Maluku -- diantaranya van Bronckhorst -- yang sekarang memperkuat tim Belanda di Piala Dunia 2010.

Van Bronckhorst cetak gol indah

Van Bronckhorst disebut punya ibu bermarga Sapulete

Jopie, Moselman dan John Halmahera tidak membantah informasi ini. Tetapi ketika saya tanya apakah mereka paham secara detil kelaurga mereka di Maluku, semua mengangkat tangan.

"Saya tak tahu persis," kata Jopie. Dia mengaku hanya memperoleh informasi dari warga Ambon lainnya.

Dia kemudian menyebut sejumlah nama pemain keturunan Maluku yang disebut-sebut memperkuat tim Oranye sekarang.

Tetapi jawaban agak terang saya peroleh dari Rino Berhitoe, warga Ambon di Jakarta, yang sampai sekarang rajin berhubungan dengan keturunan Ambon di Negeri Belanda.

Dari informasi yang diperolehnya, Van Bronckhorst disebutnya punya ibu berdarah Maluku dengan marga Sapulete. Sementara ayahnya orang Belanda. "Dan saya dulu punya foto Van Bronckhorst saat masih kecil tengah memegang papan kecil bertuliskan 'I Love Maluku'," ungkapnya.

Menurut Guus Moselman, Bronckhorst bukan warga Maluku pertama yang memperkuat tim Oranye. "Dulu ada Simon Tahamata, kiri luar tim Belanda. Dari nama belakangnya jelas dia orang Maluku, Ungkapnya.

Belanda selamanya

Dan menjelang final piala dunia, Jopie, Rino, Moselman, dan John Halmahera mengharap Arjen Robben dkk dapat merengkuh piala dunia untuk pertama kalinya.

Tim Belanda didukung di Kramat

Tim Belanda didukung di Kramat

"Ini waktunya Belanda jadi juara," timpal mereka.

Tetapi saat tanya saya bagaimana kesan mereka terhadap penampilan Belanda yang kini cenderung pragmatis, Joppie, John dan Moselman tak memasalahkan.

Kalau main cantik, lalu kalah, itu lebih menyedihkan, kata Moselman. Mereka kemudian mengaca pada kegagalan Belanda di Piala Dunia 1974 dan 1978.

Sebelum saya pamit, Jopie menunjukkan pesan pendek yang dia terima dari para kerabatnya di Ambon, yang meminta didoakan agar Belanda menjadi juara dunia.

"Mereka minta didoakan, karena ada lima putra Maluku sedang bertarung merebut juara dunia," kata Jopie Taihuttu berulang-ulang.

Saya kemudian minta pamit, tetapi Jopie meminta agar saya ikut nonton bareng di kampung Ambon ketika Belanda menghaapi Spanyol di final Piala Dunia 2010. Ketika saya mengaku bukan pengagum Tim Belanda, mereka tertawa sebelum berkata "wah kalau begitu bapak harus siap-siap untuk diculik."

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.