Terbaru  15 Februari 2010 - 05:59 GMT

Kisah cinta Bung Hatta dan bukunya

Koleksi perpustakaan M Hatta

Foto Meutia kecil dan ayahnya, kini dipajang di perpustakaan Bung Hatta

Muhammad Hatta, pertama kali mengoleksi buku saat melanjutkan Sekolah Dagang di Batavia, sekitar tahun 1919.

Saat itu umurnya 17 belas tahun, tetapi sejak usianya lebih muda, dia sudah fasih berbahasa Belanda serta telah mendapat pelajaran tambahan bahasa Prancis di Bukti Tinggi tanah kelahirannya.

"Ayah menguasai bahasa Inggris, Belanda, Prancis dan Jerman sebagai bahasa asing. Itulah sebabnya buku-bukunya banyak sekali menggunakan pengantar bahasa-bahasa tersebut,"kata Meutia Hatta, putri tertuanya.

Buku-buku koleksi Hatta sejak saat itu, disimpan dengan rapi dalam bentuk perpustakaan yang kini masih dirawat baik di rumah keluarga Hatta, Jalan Diponegoro 57 Jakarta Pusat.

"Perpustakaan ini dulu dibangun setelah ayah meletakkan jabatan sebagai wakil presiden tahun 1956, dibuat oleh insinyur terkemuka, Professor Rooseno,"kisah Meutia.

Dalam ruangan yang tidak seberapa besar di lantai dua itulah, buku-buku Hatta berada kini, meskipun sang empunya sudah meninggal tahun 1980.

"Sebagian besar dibeli sendiri, sebagian lagi pemberian teman atau kenalan yang tahu ayah saya adalah pencinta buku,"kata Meutia.

Meski sebagian tampak kuning dimakan usia buku-buku tua itu nampak mulus, tanpa coretan, lipatan atau kerusakan berarti.

Kecuali untuk membubuhkan tanda tangan, Hatta tidak pernah menulisi buku atau melipat halamannya. Ia juga hanya membaca buku dengan posisi duduk dan lampu penerangan cukup.

Buku tanda cinta

Sebagai murid yang brilian, Hatta muda mendapatkan kesempatan belajar dengan beasiswa ke Negeri Belanda. Seperti ditulis dalam memoarnya yang belum selesai hingga dia meninggal, Bung Hatta banyak mengoleksi buku saat berada di negeri Belanda.

Bung Hatta dan Rahmi Hatta

Hatta menikah pada usia 43 tahun dengan mas kawin buku tulisannya

Di belanda Hatta giat belajar dan sangat aktif terlibat pergerakan kemerdekaan. Dari sana dia membawa pulang harta karun berupa buku-buku setelah tamat belajar.

Bahkan di tengah kesulitan politik akibat tekanan kolonialis Belanda yang berkuasa di Indonesia saat itu, Meutia menceritakan bagaimana Hatta tidak bisa berpisah jauh dari buku-bukunya.

"Buku-buku inilah yang juga dibawa Ayah saat diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda, pertama ke Banda Neira, kemudian ke Boven Digoel. Seluruhnya 16 peti. Di sana dia banyak punya waktu untuk membaca dan menulis."

Buku-buku inilah yang juga dibawa Ayah saat diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda, pertama ke Banda Neira, kemudian ke Boven Digoel. Seluruhnya 16 peti

Meutia Hatta

Diantara hasil tulisannya di pembuangan, sebuah buku tentang filsafat berjudul Alam Pikiran Yunani, kemudian menjadi mas kawin pernikahannya dengan Rahmi Rachim, seorang gadis yang dikenalkan Presiden pertama Indonesia Soekarno, kepada Hatta.

Hatta yang pendiam dan dikenal tidak banyak berhubungan dengan perempuan, telah bersumpah tidak akan menikah kalau Indonesia belum merdeka.

Saat akhirnya menikahi Rahmi tahun 1945, tiga bulan setelah Indonesia merdeka.

"Nenek saya terkejut, kok mas kawin berupa buku? Padahal keluarga mereka cukup berada, ada uang emas ada perhiasan," tambah Meutia.

Tapi Hatta berkeras. Cintanya pada buku dan pengetahuan membuatnya yakin, buku dari hasil kerja dan pemikirannya sendiri lebih berharga sebagai bukti cinta dari pada harta benda lainnya.

Kabarnya, barangkali ini sebabnya rekan sejawat Hatta kerap berseloroh, buku adalah 'istri pertama' sedangkan Rahmi, 'istri kedua'.

Wasiat buku

Setelah meletakkan jabatan karena ketidakcocokan garis politik dengan Soekarno, Hatta punya lebih banyak waktu untuk buku-bukunya.

Meutia bercerita, dalam sehari 6-8 jam dihabiskannya untuk membaca dan menulis buku.

Koleksi buku Bung Hatta

Buku adalah salah satu hadiah yang paling sering diterima Bung Hatta

"Semua bukunya dibaca. Beliau bukan jenis orang yang membeli buku untuk dipajang saja."

Buku yang paling diminati Hatta adalah buku ekonomi, yang koleksinya meliputi buku tentang ekonomi sosialis, komunis hingga kapitalis dari Belanda sampai Cina.

Namun ia juga berminat pada hukum, hubungan internasional, sejarah, biografi, dan sosial.

"Beliau sangat menghormati Mahatma Gandhi. Ada satu rak untuk menyimpan buku-buku khusus tentang Gandhi," tambah Meutia.

Rahmi Hatta, juga kemudian menambah besar koleksi perpustakaan ini dengan buku-buku tentang Indonesia, Kajian Islam serta sastra.

Seluruhnya ada sekitar 10 ribu judul, dengan tahun terbitan tertua sekitar akhir tahun 1800, hingga menjelang Hatta wafat.

Tahun 70an, Hatta memanggil Meutia dan meminta pendapatnya bagaimana kalau buku-buku koleksinya dijual saja. Rupanya, menurut Meutia, ayahnya takut setelah ditinggalkannya nanti buku-buku itu tak ada yang merawat.

Menurut Hatta lebih baik buku dijual agar uangnya sekalian bisa dipakai sebagai bekal untuk anak-anak yang ditinggalkan kelak.

"Saya sedih. Kok bisa ayah berbicara begitu, padahal saya tahu buku-buku itu sangat dicintainya. Seperti anak saja," kata Meutia.

Untung lah ketiga putri Hatta, menolak permintaan itu.

Kini agar bisa dimanfaatkan masyarakat, Meutia berencana membuka koleksi perpustakaan pribadi ayahnya untuk kalangan umum.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.