Parpol dinilai kurang sosialisasi program

  • 18 Februari 2014
Stiker dan spanduk yang ditempel para caleg dinilai tak efektif

Spanduk dan atribut kampanye lain milik para calon legislatif mulai dipasang di sejumlah lokasi beberapa bulan sebelum pemilu 9 April mendatang.

Sebagian besar spanduk dan atribut kampanye berisikan foto, nama caleg dan partai serta nomor urut, tak ada informasi tentang program-program partai atau visi misi caleg jika terpilih nanti.

Padahal dalam sebuah survei yang dilakukan oleh lembaga Pol-Tracking Institute, sebagian besar alasan responden memilih caleg dan partai politik berdasarkan visi, misi dan programnya.

Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute Hanta Yuda mengatakan itu hasil survei yang dilakukan terhadap 1.200 responden, mengenai informasi apa yang perlu diketahui oleh publik termasuk caleg dan capres. Berdasarkan jumlah ini, diperkirakan margin error 2,83 persen.

"Sebanyak 37,6 % dari seluruh responden mengatakan visi misi program yang ditawarkan merupakan paling penting bagi publik artinya menjadi referensi bagi mereka," jelas Hanta.

Kemudian, disusul 31,03% masyarakat dalam survei itu menilai caleg dan capres dari rekam jejak dan latar belakang pengalaman. Hanta mengatakan visi dan misi merupakan alasan 29,5% responden dalam memilih partai politik.

Tokoh lebih dikenal

Hasil survei masyarakat butuh informasi program parpol

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengaku telah meminta para caleg untuk menyampaikan program-program mereka kepada para pemilih.

"Kami satu-satunya partai yang sudah mempublikasikan programnya, dibandingkan dengan partai lain karena memang bagi kami program itu sangat penting, itu yang kami minta para caleg untuk mensosialisasikannya ke masyarakat," jelas Fadli.

Sekjen DPP PPP M Romahurmuzy mengatakan pertanyaan tentang program juga kerap disampaikan oleh para pemilih ketika bertemu langsung dengan caleg PPP.

"Bagi sebagian besar penduduk ketika bertemu lebih banyak menanyakan tentang bapak akam melakukan apa jika terpilih nanti, hampir tak ada yang menanyakan visi dan misi karena masyarakat yang memiliki pendidikan sarjana hanya empat persen," jelas Romahurmuzy.

Untuk itu, dia menekankan para caleg PPP harus dapat menjelaskan kepada masyarakat tentang program parpol selama lima tahun mendatang.

Politik transaksional

Partai seperti Gerindra dan PPP memilih untuk melakukan sosialisasi program kepada masyarakat secara langsung.

"Kita meminta caleg untuk lebih banyak tatap muka dengan masyarakat, meski ada hambatan karena masyarakat lebih terbiasa dengan politik transaksional, seperti perbaikan jalan, pemberian sembako, padahal kan caleg tak punya kemampuan itu," jelas Fadli.

Romahurmuzy mengakui politik transaksional masih ada, tetapi PPP memilih untuk menghindari segmen pemilih tersebut.

"Dalam survei internal yang kita dilakukan seperempat pemilih kita memilih karena sesuatu yang transaksional, tetapi kita pesan kepada caleg kita hindari itu karena memilih parpol adalah memilih pemimpin yang memberikan kesejahteraan kepada mereka, jika memilih itu (politik transaksional " jelas Romahurmuzy.

Sosialisasi program juga disampaikan PPP melalui kampanye mulai pertengahan Maret mendatang. Sementara Partai Gerindra, melalui iklan di televisi, selain melalui situs resmi partai.

Meski kebutuhan masyarakat akan program yang dibawa para caleg cukup tinggi, tetapi informasi yang mereka dapatkan sangat sedikit.

Menurut Hanta masyarakat lebih banyak mengetahui nama parpol dan tokohnya, tetapi tak banyak yang tahu tentang program kerja parpol tersebut.

"Publik tak mendapatkan banyak mengenai program partai dan apa bedanya para caleg, perbedaan kebijakan mereka jika terpilih nanti misalnya kebijakan ekonomi, luar negeri dll," jelas Hanta.

Berita terkait