BBC navigation

Biaya politik mahal menyusahkan caleg

Terbaru  18 Februari 2014 - 13:46 WIB
Caleg Pileg

Caleg harus mencetak atribut menarik, kemudian memasangnya di lokasi terbaik.

Sejumlah hitungan menunjukkan butuh ratusan juta hingga miliaran rupiah untuk sampai pada kursi legislatif di tingkat pusat mauoun daerah.

Menurut beberapa Caleg yang dihubungi BBC, hitungan itu nyata adanya.

Jumadin Bona sedang berjuang memperebutkan satu dari 20 kursi di DPRD Kabupaten Kepulauan Banggai di Sulawesi Tengah.

Menurut perkiraannya sampai Pemilu bulan April berlangsung, ia akan menghabiskan dana setidaknya Rp250 juta.

"Itu untuk cari antara 2.000-2.250an suara disini ya," katanya dengan menekankan posisi Banggai yang terpencil dan hanya bisa dijangkau dari ibukota propinsi dengan kapal laut.

Untuk mengirit ongkos ia kadang mendapat pinjaman kapal atau perlengkapan lain, tetap saja besarnya biaya kampanye membuatnya pening.

"Kalau atribut seperti spanduk, kartu nama, sih tidak mahal, paling berapa juta. Biaya perjalan dan program ini yang banyak," tutur Wakil Sekjen Partai Bulan Bintang yang mendapat nomor urut pencalonan 1 ini.

"Selain masa sosialisasi yang mepet, memang dana juga sih persoalannya"

Yana Ismayana

Yana Mahyana sependapat dengan Jumadin.

Caleg untuk Dapil II Jabar dari PAN ini akan mencoba peruntungan keduanya di arena Pemilu 2014.

Lima tahun lalu, ia gagal. Salah satu alasannya: dana cekak.

"Selain masa sosialisasi yang mepet, memang dana juga sih persoalannya," kata Caleg nomor urut 4 ini.

Tahun ini ia mengaku menambah pundi modal bertarung meski tak mau menyebut pasti berapa jumlahnya.

Orang terkenal

Ongkos kampanye Caleg

  • Administrasi pendaftaran
  • Cetak atribut: spanduk, stiker, kartu nama
  • Gelar program: temu muka, sumbangan, lomba
  • Konsultasi politik: survey Dapil, konsultasi strategi
  • Iklan media: cetak, online, radio dan televisi

Menurut Yana besarnya anggaran kampanye sebenarnya merupakan risiko seorang Caleg.

"Kalau mau dikenal pemilih ya memang harus memperkenalkan diri kan? Kita kan bukan artis.

"Bahkan artis aja berlomba-lomba menyampaikan pada masyakat (kalau) dia Caleg dari partai tertentu, minimal supaya orang tau dia nyaleg," kata Yana.

Tetapi buat orang terkenal pun, biaya politik dianggap masih sangat besar.

Ketua DPP PDI Perjuangan - juga salah satu tokohnya yang paling terkemuka - Pramono Anung, mengaku ditawari sebuah lembaga konsultasi politik ongkos sosialisasi sampai Rp18 miliar.

Padahal Pram adalah adalah politisi sangat senior dengan jam terbang media yang tinggi.

Oleh media ia sempat dikutip memperkirakan ongkos mencalonkan diri hingga terpilih sampai Senayan memakan biaya tak kurang dari Rp6 miliar.

Biaya yang membuat Jumadin berseru kagum.

"Untuk partai yang mulai dari nol seperti kami di daerah, jangan mimpi pakai konsultan politik atau dana miliaran. Terlalu berat.

"Ini juga bukan pembenaran kalau kemudian ada korupsi di legislatif, tapi tolong pikirkan supaya kami tidak keberatan menanggung ongkos politik ini," pintanya.

Persaingan 'sengit'

Biaya politik di Indonesia sangat tinggi karena peminat ke arah lembaga legislatif melambung, kata peneliti Lingkaran Survey Indonesia, Adjie Alfaraby.

LSI yang sangat laris kebanjiran pesanan survey potensi suara Caleg serta konsultasi politik pemenangan pemilu mencatat, meski mahal tetap terjadi lonjakan peminat memanfaatkan jasa konsultan profesional untuk mengerek popularitas calon.

"Pada saat yang sama makin tinggi jumlah pemilu apatis, mereka merasa kepentingan Caleg sama sekali tidak mewakili kepentingan pemilih.

Caleg Pileg

Kalau dana tak masalah, kampanye bisa dipasrahkan pada tim profesional seperti LSI.

"Dalam kondisi demikian cara mendapat suara menjadi sangat pragmatis, apa yang langsung bisa dirasakan warga, itu yang dipilih," tambah Adjie.

Artinya, lagi-lagi uang mengambil peran besar.

Dari atribut yang macam-macam modelnya, sampai bingkisan sembako dan amplop berisi uang tunai pun ditempuh Caleg demi suara.

Apakah berpengaruh pada perolehan suara?

"Menurut pengalaman kami, hasilnya berkorelasi sangat positif. Makin banyak beriklan, (serta) menggelar program lansung akan makin baik.

"Karena pemilu banyak ditentukan oleh tingkat popularitas calon dan memang itu lah cara-cara yang terbukti mampu menggaet popularitas."

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.