Linda Christanty, sang penutur kesedihan

  • 8 Oktober 2013
Linda Christanty melalui kumpulan cerita pendeknya meraih berbagai penghargaan sastra.

Sang penutur kesedihan, begitulah predikat yang acap dilekatkan pada sosok Linda Christanty, penulis fiksi serta sekaligus jurnalis.

Sebagian besar puluhan cerita pendeknya, yang telah dibukukan dan meraih beberapa kali penghargaan sastra, termasuk penghargaan terbaru dari Southeast Asian Writers Award 2013 pada pertengahan Oktober ini, memang banyak mengungkap suasana kelam.

Salah-satu buku kumpulan cerpennya Rahasia Selma (2010), misalnya, membuat seorang editor buku, Tessa Febiani, ketika membaca cerpen berjudul Pohon Kersen, seperti “merasa sendirian berada di ruangan gelap,”.

Lainnya, “Sulit rasanya bersukacita jika membaca cerpen-cerpennya,” begitu tulis sebuah blog sepetaklangitku, mengomentari kisah-kisah pahit yang dirajut dalam Rahasia Selma.

Penulis blog ini kemudian menyimpulkan tulisan-tulisannya: “… Mengusung kesedihan sebagai bagian kehidupan manusia yang kerap kali begitu dominan.”

Dalam sebuah resensinya, penulis Avianti Armand menulis, bahwa di balik salah-satu kumpulan cerita pendek karya perempuan ini, “Kita tahu ada sesuatu yang meresahkan dan mendesak-desak … Sesuatu yang belum selesai dan tak bisa kita pahami seutuhnya…”

Itulah Linda Christanty, perempuan kelahiran 18 Maret 1970, salah-satu cerpenis Indonesia, yang sebagian besar karya-karya fiksinya banyak mengangkat permasalahan kemanusiaan -- utamanya kaum perempuan yang mengalami ketidakadilan, anak-anak yang dilecehkan, hingga kelompok-kelompok yang terpinggirkan.

“Jadi, Linda…“demikian saya membuka percakapan dengan Linda Christanty, dalam sebuah wawancara khusus, di sebuah malam, Selasa, 24 September 2013 lalu, “apakah karya-karya Anda yang seperti mewakili kesedihan itu, merupakan bagian dari siasat Anda dalam berkarya, atau memang berangkat dari roh dalam diri Anda?”

Linda menjadi pembicara di forum PEN International dan Japan PEN Club di Tokyo, pada 2008 lalu.

Berperawakan mungil, tetap dengan kacamata tebalnya, dan sesekali melontarkan humor, tetapi lebih sering tampil menganalisa diri, serta terlatih bertutur, Linda memberikan jawaban:

“Saya sebenarnya tidak pernah meniatkan untuk menulis cerita-cerita sedih, tetapi memang itulah yang terjadi hampir setiap hidup dari kita,” ujar peraih penghargaan sastra Khatulistiwa Award 2004 untuk kumpulan cerpennya Kuda Terbang Mario Pinto (2004) serta Khatulistiwa Award 2010 untuk kumpulan cerpen Rahasia Selma (2010).

Menurutnya, apa yang disebut sebagai kesedihan, kepahitan dan kesengsaraan, kekerasan merupakan kenyataan sehari-sehari, yang banyak dialami masyarakat.

“Seringkali orang berkata,” lanjutnya, dengan mimik serius, “mereka tidak mau menonton berita di televisi, atau mendengarkan radio, karena menceritakan tentang kekerasan, kesedihan, kehilangan.”

“Tapi menurut saya, itulah yang terjadi dalam hidup kita,” ujar Linda yang sejak kanak-kanak sudah akrab dengan buku-buku sastra beraliran realis karya Victor Hugo dan Karl May ini.

Namun demikian, akunya, tidak berarti karya-karyanya berhenti pada penggambaran kenyataan pahit semata.

“Manusia yang mengetahuinya,” lanjut Linda, yang kini bergabung sebagai jurnalis di sebuah majalah bulanan terbitan Jakarta, “mungkin dengan membaca cerita itu, mereka mempunyai suatu semangat kalau ingin membuat kehidupan lebih baik, mungkin mereka melakukan sesuatu.”

Pengalaman pembaca

Malam itu, Linda mengenakan kemeja putih dipadu rok gelap. Dihiasi sejumput rambut keperakan yang mulai tumbuh di bagian atas kepalanya, putri sulung dari empat bersaudara ini, kemudian menganalisa kaitan isi karya-karyanya – yang pahit dan getir -- dan para pembacanya.

Linda mengatakan, pengalaman pembaca ikut menentukan caranya memaknai karya-karyanya.

“Mungkin pembaca saya menganggap saya sebagai ‘penutur kesedihan’, jadi mereka selalu berusaha mencari bagian-bagian sedih (dalam karya-karya fiksinya),” katanya, setengah menganalisa.

Padahal Anda pun menyusupkan unsur jenaka dalam cerpen-cerpen Anda? Tanya saya, seraya mengutip beberapa resensi atas sejumlah cerpen-cerpennya.

Linda membenarkan. “Memang kelihatan sedih, tapi sebetulnya sangat lucu. Jadi (saya) menceritakan hal-hal tragis, tetapi tetap ada lucunya.”

Dia kemudian mencontohkan beberapa cerita pendeknya, yang walaupun tragis, nada jenaka tetap mewarnai di beberapa bagian kisahnya.

Namun demikian, di hadapannya, saya mencoba berkilah, dengan menyodorkan salah-satu cerpennya yang berjudul Makam Malam, yang menurut saya sangat getir.

Apa jawaban Linda?

“Inilah yang ingin saya katakan: setiap orang punya suatu pengalaman, tidak harus hidupnya sendiri, mungkin kehidupan orang lain yang dia kenal. Kemudian ketika dia membaca cerpen itu, semua pengalaman, pengetahuan dan kenangan dia bekerja bersamaan saat membacanya, seperti saya mencipta karya itu.“

“Kadang-kadang pengalaman di mana dia hidup, budaya dia tumbuh juga ikut menentukan dalam cara dia memaknai sesuatu,” jelasnya.

Memilih realis

Walaupun lebih dikenal sebagai penulis cerita pendek, Linda Christanty adalah juga seorang jurnalis.

Pernah aktif di majalah Pantau, perempuan asal Pulau Bangka ini kini bergabung di sebuah majalah bulanan terbitan Jakarta.

Dia juga telah menerbitkan buku yang menghimpun kumpulan esai dengan judul Dari Jawa ke Atjeh (2009).

“Saya rasa, saya tidak bisa memilih, karena ternyata saya menyukai bidang-bidang ini,” kata Linda, terlihat serius, saat saya menanyakan pilihan profesi utamanya apakah cenderung seorang jurnalis atau penulis.

Linda Christanty dalam sebuah acara diskusi tentang sastra di India, 2010.

Tapi, dia mengaku, kadangkala dia harus memilih dua pendekatan itu ketika dihadapkan kenyataan-kenyataan yang dia jumpai di lapangan.

Dia lantas memberikan contoh, yaitu ketika dia tidak mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk sebuah laporan jurnalistik, maka bahan-bahannya “saya jadikan fiksi, atau menjadi bagian dari fiksi saya, meski tidak dalam bentuk yang utuh...”

Bagaimanapun, profesinya sebagai wartawan, menurut Linda, sedikit-banyak akhirnya mempengaruhi gaya penulisannya dalam berbagai cerpennya yang cenderung realis.

“Bisa jadi juga itu (terkait latar profesi wartawan), tetapi bisa jadi juga karena bacaan-bacaan yang saya baca,” ungkap Linda.

Dia menjelaskan, kebanyakan para penulis di dunia merupakan penulis realis.

“Jadi ada Victor Hugo yang saya baca di masa kecil, kemudian ada John Steinbeck, lalu cerita yang ditulis Karl May. Semua cerita-cerita realis,” jelasnya.

Dari pijakan itulah, sebagian besar karya-karya fiksinya lebih banyak berangkat dari kejadian nyata.

“Ya, ada kejadian yang saya alami, tapi juga kejadian yang saya dengar dari cerita orang lain. Lalu kemudian, saya berimajinasi,” katanya.

Kendatipun pernah menulis dengan gaya fantasi atau simbolisme, alumni Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini, mengaku lebih menyukai gaya realis.

“Karena,” tandas Linda, “cerita -cerita realis itu membuat saya merasa bahwa para pembaca ketika membaca, mereka merasa itu adalah bagian pengalaman mereka juga.”

Kemudian dia melanjutkan, “pesan yang ingin saya sampaikan juga mungkin lebih muda dicerna, meskipun tentu saja setiap orang akan menangkap pesan itu sesuai dengan pengalamannya masing-masing.”

Membawa pesan

Mengaku tertarik dunia politik sejak belia, sehingga menganggap “politik seperti mengalir dalam darahnya”, Linda Christanty – bisa ditebak – di masa mahasiswa pernah terjun sebagai aktivis politik.

Di sela-sela aktivitasnya menulis, Linda pernah beraktivitas di Aceh, antara lain mengajar sukarela di sekolah menengah di Lamteuba, Aceh Besar.

Pada pertengahan 1990-an, anak sulung mendiang pegawai menengah PT Timah di pulau Bangka ini, bergabung dalam organisasi Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi, SMID. Dia kemudian terjun di organisasi Pusat Perjuangan Buruh Indonesia, PPBI.

Meski di masa itu Linda mengaku jarang menulis fiksi tentang kaitannya dengan pilihan politiknya, dia menyatakan secara tegas, bahwa semua karya sastra selalu mengandung “pesan politik” penulisnya.

Tapi, jika diperhatikan, sepertinya karya-karya cerpen Anda tidak menampakkan pesan politik secara gamblang? Tanya saya, agak setengah menyelidik.

“Mungkin karena yang membacanya apolitis, sehingga seolah-olah tidak ada pesan politiknya,” cetus Linda, yang kemudian disusul tawa renyahnya. Saya pun ikut tertawa.

Tetapi dia kemudian tiba-tiba berubah serius. “Karena, sebetulnya setiap karya, ini secara sederhana saja ya, setiap karya mengandung 'pesan politik' penulisnya, apakah itu terlihat gamblang maupun tidak.”

Di sinilah letak perbedaan penulis berpengalaman dan tidak, menurutnya.

“Semakin canggih orang itu menulis, semakin halus cara dia menyampaikannya.”

Tapi, “penulis yang tidak berpengalaman, akan sangat telanjang sekali. Misalnya dia membela apa itu, dia akan menulis kelihatan sekali membelanya. Jadi terihat seperti pamflet.”

Linda kemudian menganalisa lebih lanjut, dengan menengok sejumlah penulis top dunia.

“Siapa bilang, misalnya penulis-penulis seperti Marques (Gabriel Garcia Marquez), seperti Saramago (Jose Saramago), mereka tidak ada pesan-pesan politik dalam karyanya?”

“Sekalipun, misalnya, mereka menceritakan tentang kehidupan sebuah keluarga, itulah politik sebenarnya,” paparnya, seraya menambahkan, bahwa keluarga adalah unit terkecil yang mencerminkan politik di sebuah negara.

Dengan kalimat tanpa basa-basi, Linda kemudian berujar: “Jadi, sangat lucu kalau ada orang berkata: ‘Karya saya adalah sastra untuk sastra; Karya saya pokoknya tidak ada unsur politik sama sekali; Dan ini adalah karya yang harus dibaca sebagai karya itu sendiri; itu tidak mungkin... ha-ha-ha... Absurd sekali!”

Diary warna merah

Awalnya adalah sebuah catatan harian (diary) bersampul merah pemberian kakeknya.

Begitulah Linda mengisahkan awal mula dia suka menulis, ketika dia bersama keluarga besarnya tinggal di pulau nan mungil, Bangka.

Alasan sang kakek, yang bernama Uni Saleh, memberinya buku bersampul merah, karena dia acap melihat cucunya itu acap bertengkar dengan ibunya.

“Ibu saya selalu menuruh saya sholat. Kemudian ketika saya tanya: Untuk apa saya sholat? ‘Ya, kita harus berdoa pada Tuhan, kepada Allah’. Ada di mana Tuhan itu? Ibu saya tidak bisa menjelaskan,” ungkap Linda, mulai bercerita.

Perdebatan seperti ini selalu terulang, sehingga kakeknya suatu saat berkata seraya menyodorkan buku catatan harian bersampul plastik merah.

“Sebaiknya mulai sekarang, kalau ingin bertengkar, tulis saja di sini (buku diary),” kata Linda, menirukan suara kakeknya.

Walaupun mulai menulis, Linda mengaku, awalnya halaman-halaman buku itu acap kosong, karena dia tidak tahu apa yang mesti dituliskan.

Suatu saat, ketika dia duduk di sekolah dasar, Raja Spanyol Juan Carlos dan permaisurinya berkunjung ke Jakarta untuk pertama kalinya, sang kakek meminta cucunya untuk menuliskannya.

“Kakek saya bilang: nanti lain kali, yang kamu tulis boleh soal pertengkaranmu dengan mama, boleh juga cerita apa yang kamu mau ceritakan, boleh juga peristiwa penting seperti ini,” ungkap Linda.

Semenjak saat itulah dia rajin dan tidak pernah berhenti menulis, yang didukung pula kegemarannya membaca buku-buku milik kakek dan ibunya.

“Mungkin dari situlah latihan-latihan (menulis) itu dimulai,” katanya mencoba mengingat-ingat.

Dia kemudian mengungkapkan pengalamannya di masa kecil, yaitu berdiri di hadapan cermin, dan berkata pada dirinya sendiri: ‘Wah, saya yakin, saya akan menjadi penulis besar...’

Linda Christanty menduga, imajinasi seperti itu muncul pada dirinya, karena dia tinggal di pulau kecil Bangka, yang batas pandang terakhirnya adalah laut, sementara isi buku-buku yang dia baca memberikan pandangan yang begitu luas.

“Saya kemudian berpikir bahwa pasti di seberang laut, ada tempat lain,” ungkapnya, kali agak menerawang.

Kenangan, pengetahuan dan...

Percakapan dengan penulis dan jurnalis Linda Christanty, akhirnya menyentuh juga tema menarik dan menantang, yaitu bagaimana tekniknya menulis fiksi.

“Sebenarnya, dalam menulis cerita fiksi,” ujarnya tenang, seolah-olah membuka halaman pertama sebuah dokumen rahasia yang selama ini disimpannya rapat-rapat, “Kita melihat atau mendengar, atau membaca sesuatu, lalu kita terinspirasi untuk menulis sebuah cerita...”

Linda diundang menjadi pembicara tentang peran media dan demokrasi di Berlin, 2008.

“Apakah itu tentang perang, cinta, atau kekerasan atau korban kekerasan, atau apa saja,” lanjutnya, dengan kemahiran seorang pendongeng.

“Tetapi,” ujar Linda seraya menatap saya, “ketika kita meramunya menjadi sebuah cerita, antara pengetahuan, kenangan, masa lalu, dan pengalaman hidup kita, tiba-tiba seperti sebuah bank data yang semuanya hadir pada saat bersamaan...”

Rahasia itu mulai terkuak, pikirku. Dia melanjutkan: “... Dan tiba-tiba menyesuaikan diri dengan cerita yang kita tulis sehingga dia menyediakan informasi.”

Sehingga, demikian dia melanjutkan, “kadang-kadang ketika saya ingin menceritakan suatu kejadian masa kini, tiba-tiba ada kilasan masa kanak-anak saya ikut masuk, lalu saya tulis, yang sesuai dengan apa yang kita ceritakan.”

Tergoda untuk terlibat, saya menyelipkan satu kalimat tanya: Jadi saling berkelindan ya, Linda? “Ya, berkelindan, seperti kolase-kolase.”

Saya coba terus menyimak. Kupasang radar telingaku sedemikian rupa.

“Jadi, ketika kita menulis, semua pengetahuan kita, kekayaan pengetahun kita, kemudian kenang-kenangan masa lalu, dan pengalaman hidup kita, itu menjadi satu seperti bank data yang bekerja sedemikan rupa menyediakan diri mereka untuk kita,” Linda sering memberikan penekanan pada kalimat-kalimat yang menurutnya penting. Dan memang penting, batinku.

Tidak bisa menjelaskan

“Tinggal kita akan berpikir secara spontan apa saja yang perlu kita tulis dalam cerita itu,” tandasnya.

Dia membuka rahasia lainnya. “Kadang-kadang kita tulis semua lalu kita edit.”

Menulis semuanya? Tanyaku, lagi-lagi diwarnai rasa ingin tahu.

“Menulis apa yang kita pikirkan, mungkin kita berlarat-larat di bagian tertentu. Tetapi setelah tulisan itu selesai, ‘kan ada proses kita mengedit lagi.”

Saya seperti bernapas lega. Tapi, Linda tiba-tiba menambahkan kalimat lanjutan:

“Tetapi yang tidak bisa saya jelaskan, kenapa kenangan, pengalaman dan pengetahuan bisa hadir serentak, lalu kita tinggal memilih-milihnya saja pada saat menulis.”

“Saya tidak bisa menjelaskan itu, tetapi itulah yang terjadi,” ungkapnya, dengan gaya bertutur yang tetap memikat.

“Sehingga, bisa jadi, cerita tentang hari ini, tetapi ada unsur masa lalu kita hadir dalam cerita,” tekannya.

Apakah Anda bisa menakar mana porsi yang terbesar atau sebaliknya, apakah itu kenangan masa kecil, pengetahuan atau pengalaman, yang mendominasi tulisan itu? Kali ini saya bertanya agak penasaran.

“Setelah cerita itu ditulis. Tetapi ketika cerita itu sedang ditulis, semuanya bekerja otomatis, dan kita tidak bisa langsung memilah-milah: ‘oh, ini bagian masa lalu, oh ini adalah pengetahuan saya tentang sesuatu...”

Menulis seperti menggambar

"Saya menulis seperti saya menggambar," kata Linda Christanty ketika saya menanyakan apa komentarnya terhadap kendala yang banyak dialami penulis pemula yang mengaku kesulitan memulai sebuah tulisan.

Dia rupanya memberikan contoh langsung strateginya menulis fiksi, dengan membandingkan kegemarannya sejak kecil yaitu menggambar rancangan busana.

Kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Linda Christanty menjelaskan proses kreatif dalam menulis fiksi.

Menurutnya, dia kadang-kadang menggambar lebih dulu bagian kaki, kemudian disusul "bagian bawah roknya, lalu ke atas, lalu ke kepala."

Tapi, sebaliknya, "Kadang-kadang dari kepala dulu terus ke bawa, dan kadang-kadang dari tangan. Saya menulis juga seperti itu."

"Jadi kadang-kadang ada satu cerita yang tidak selesai-selesai selama berbulan-bulan, karena saya belum menemukan bagian lainnya," ungkapnya, jujur.

Linda kemudian memberikan contoh: "Kadang-kadang saya berpikir 'wah kayaknya menarik menulis ini', saya tulis saja, tapi saya tidak tahu akan menjadi bagian dari cerita yang mana, tapi saya menulis dulu."

"Seperti itulah saya menulis," katanya, menandaskan. "Tapi ada juga misalnya saya yang betul-betul tertarik, saya sudah langsung pikirkan, kira-kira kerangkanya seperti apa, akan saya taruh dimana cerita ini. Otak saya langsung bekerja."

Tapi, di sela-sela kesibukan Anda sebagai jurnalis, apakah Anda memiliki waktu khusus untuk menulis fiksi? Saya bertanya.

Dia mengaku, kesibukannya itu kadang-kadang membuatnya "tidak ada waktu bisa menulis fiksi".

"Tapi, ada satu masa, misalnya, di mana saya membaca sesuatu, saya mendapat surat dari teman saya, saya menonton film, atau tiba-tiba pagi-pagi saya ingat sesuatu, itu bisa menjadi pemicu saya menulis fiksi," ungkapnya, meski menurutnya tidak tuntas hari itu juga.

Di sinilah, Linda mengaku menerapkan disiplin ketat untuk menulis fiksi.

"Disiplin menulis itu sangat penting, karena itu juga suatu bentuk latihan kalau kita menulis," kata Linda, yang mengaku terlatih berdisiplin sejak masa kanak-kanak.

Hobi berdisko

"Hobi saya agak mengejutkan bagi penulis lain.Saya sangat suka sekali disko... Ha-ha-ha..." Linda kemudian tertawa kencang, setelah memberikan jawaban atas pertanyaan saya tentang hobinya mengisi waktu luang.

Mengaku sebagai tipe penyendiri, Linda mengaku berdisko sebagai salah-satu hobinya.

Di sinilah, Linda kemudian mengaku dirinya merupakan tipe "orang yang sendirian".

"Orang menghibur diri dengan misalnya berbicara dengan orang lain. Kemudian pergi dengan teman-teman begitu banyak. Seperti rombongan itik ya...ha-ha-ha. Tapi saya orang yang sendirian," ungkapnya.

Itulah sebabnya, ketika tengah tertimpa masalah, Linda mengaku berkata pada dirinya sendiri bahwa itu bukanlah persoalan besar.

"Yang penting saya masih bisa berdisko, ada musik, ada satu ruangan, saya sendiri ber-ajojing," katanya.

Menurutnya, menari merupakan salah-satu cara untuk mengobati kesedihan, untuk memberi semangat. "Dan kalau kita menari rasanya dunia ini adalah milik kita saat itu juga."

Dia lantas membandingkan dengan hobinya menulis. "Kalau menulis, kita nggak bisa mengatakan 'hai dunia, kamu adalah milikku'.

"Tapi kalau kita menari, meskipun di satu ruangan, seluruh atmosfir yang ada itu, rasa-rasanya itu sangat berpihak pada kita," kata Linda yang saat ini sedang menyelesaikan sebuah novel dan buku berisi kumpulan esai-esai politiknya.

Berita terkait