Sindikat hanya butuh 'lima menit' untuk culik bayi

  • 13 Februari 2013
bayi
Sindikat memperoleh bayi dengan berbagai cara

Beberapa korban sindikat perdagangan bayi menceritakan pada BBC bagaimana bayi mereka berpindah ke tangan sindikat penculik atau pedagang bayi.

Jaja Nurdiansyah, 31 dan Syifa Maysatul Khairat, 21

Cello Aditia lahir tanggal 12 September tanpa kesulitan meski harus melalui operasi caesar.

"Saya kawin agak telat, umur 30, begitu tahu dapat anak lelaki beneran buset dah senengnya kaga ketulungan," kata Jaja, buruh sebuah pabrik di kawasan industri Cibitung Bekasi.

Sang istri yang masih cukup muda, Syifa, sudah siap meninggalkan RSIA Siti Zachroh di Tambun Bekasi lima hari setelah kejadian, tinggal menunggu ibunya menjemput. Jaja yangsudah dua hari menemani harus bekerja pada hari naas itu.

Syifa yang baru menjalani operasi caesar sedang menggendong Cello saat merasa perlu pergi ke kamar mandi. Karena ruangan perawatan sepi Cello lalu dititipkan pada ibu pasien lain yang kebetulan sekamar dengan Syifa.

Lima menit berikutnya segalanya berjalan sangat cepat. Tiba-tiba datang seorang perawat yang meminta Cello dari gendongan si ibu, dengan alasan 'hendak diperiksa dokter'. Si ibu melihat sang perawat masuk ruang bayi, namun ketika Syifa menanyakan Cello, dalam ruang bayi sudah tak ada putranya, juga perawat misterius itu.

"Bayangkan, cuma lima menit," kata Jaja masygul menahan geram dan sedih.

Syifa mengalami depresi hingga beberapa bulan setelahnya, antara lain ditandai dengan memukulkan kepala ke tembok dan keluar rumah tengah malam menunggu bayinya kembali di rumah kontrakan mereka di Cibitung, Bekasi.

M, 31

M Ibu bayi
M memilih bicara terbuka pada media karena 'merasa tak bersalah' dalam kasus ini.

"Saya sama sekali tak ada niat menjual, bayi ini akan kami rawat sendiri, demi Tuhan," kata M dengan mata berkaca-kaca saat menjelaskan bagaimana anaknya yang lahir 28 Desember itu hilang.

Bayi perempuan berkulit terang berambut hitam itu menurut M mestinya sudah dibawa pulang sejak hari ketiga kelahiran tetapi lantaran suaminya, Suwandi (35) yang berkerja sebagai supir angkot tak kunjung mendapat uang, akhirnya baik bayi maupun ibunya tak kunjung bisa pulang.

"Bidan menekan terus, mana uangnya, mana uangnya, ingat ya ini bukan panti perawatan bayi," tutur penduduk Kelurahan Kamal, Kalideres Jakarta Barat ini sesenggukan.

Tempat Bersalin milik Bidan Y, sekitar satu kilometer dari rumah kontrakan M, sedang diperbaiki saat BBC kesana, sang bidan juga sedang tak ada di tempat.

Di tengah suasana kalut itu, tetangga kontrakan yang baru sebulan dikenal M, ibu dan anak L dan D, tiba-tiba datang dan menawarkan bantuan.

"Katanya 'Kak jangan khawatir soal ongkos Bidan, nanti dibantu terus si dede biar dirawat sama orang yang sudah 15 tahun enggak punya anak ya," kata M.

Tiga perempuan yang tak dikenal kemudian datang malam hari, menengok M dan melongok bayinya serta menjanjikan dia akan segera pulang.

Setelah pembayaran sebesar Rp1,4 juta beres, di luar klinik salah satu perempuan meminta bayinya dengan alasan akan dirawat lebih dulu di tempat lain.

"Saya cium keningnya, terus ya sudah itu terakhir kali saya lihat bayi saya," tambah M lirih.

Setelah kejadian M menerima tambahan uang Rp1,6 juta sebagai 'ongkos berobat' dari L, sementara tiap menanyakan anaknya dijawab 'tak usah khawatir, sekarang bayinya sudah hidup enak'.

Polisi Jakarta Barat akhirnya menangkap L dan D, setelah keduanya meninggalkan rumah kontrakan di sebelah M. Polisi menduga mereka kabur begitu mendengar anggota sindikat lain telah tertangkap. M mengaku dia sendiri turut menangkap L dengan memberi tahu polisi saat L datang membereskan sisa barang sebelum pindah. Belakangan Polisi juga mengenakan statsu wajib lapor pada M karena dianggap terlibat sindikat karena sudah menerima pembayaran bayinya.

Sopiah, 20 tahunan

Kampung kumuh Jakarta
Kampung kumuh kerap jadi target sindikat antara lain karena kontrol aparat umumnya lemah.

Nasib perempuan tukang nasi uduk ini benar-benar malang, ditinggal suami yang tewas ditembak polisis karena dituduh sebagai pengedar narkoba.

Tinggal di Kampung Beting, kawasan yang berbatasan langsung dengan bekas komplek pelacuran Kramat Tunggak di Jakarta Utara, Sopiah benar-benar bingung waktu melahirkan tahun lalu diminta membayar biaya persalinan dengan operasi caesar senilai Rp4,5 juta.

Sejumlah orang mendatangi ke RS dan menawarkan biaya persalinan dengan imbalan bayinya 'agar dapat dirawat oleh keluarga yang lebih layak'.

"Itu rumah sakit sudah penuh orangnya sindikat, saya kesana terus langsung negosiasi sama pihak rumah sakit," kata Ketua RW XIX Kp Beting, Ricardo Hutahaen, wilayah tempat Sopiah tinggal.

Rumah Sakit akhirnya menggratiskan biaya persalinan Sopiah, dan bayi dapat diselamatkan dari incaran sindikat.

"Sekarang kalau ketemu dia bilang bahagia, untung anaknya selamat," tambah Ricardo.

Kp Beting menjadi perhatian media nasional pada tahun 2010 akibat kasus perdagangan dua bayi, masing-masing anak dari pasangan tanpa nikah salah satunya anak pekerja seks komersial.

"Itu bayi sudah lahir, sempat dibawa pulang ke rumah, terus kita dengar ada yang mau 'ambil'. Waktu kesana, kita sudah terlambat," kata tokoh Kp Beting beranak dua itu.

Tahun 2011 kasus yang sama terulang, kali ini A, ibu dengan enam anak, menyerahkan dua anak kandungnya sekaligus pada orang yang diduga kaki tangan sindikat.

Berita terkait