Syiah Sampang tolak relokasi

Terbaru  13 September 2012 - 17:03 WIB

Pengungsi Syiah Sampang berharap bisa kembali ke kampungnya.

Masa depan warga Islam Syiah di Sampang, Madura, yang terusir dari kampung halamannya, masih belum jelas.

Sampai pekan kedua September, sedikitnya 200 orang warga Syiah masih tinggal di gedung olah raga Sampang dengan status sebagai pengungsi.

Keinginan mereka untuk kembali ke kampungnya di Desa Karang Gayam, Sampang, ditolak otoritas terkait karena "alasan keamanan".

"Wilayah (Dusun) Nangkernang bukan wilayah yang tidak berpenghuni. Wilayah desa yang sudah ada penduduknya, dan mereka sudah punya keyakinan," kata Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Sampang, Rudi Setiadhi, menjawab pertanyaan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, di kantornya di Sampang, Madura, Rabu (05/09) lalu.

Seperti diketahui, warga Syiah diusir dari kampungnya di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, pada 26 Agustus lalu, setelah sebagian besar rumah mereka dibakar dan dirusak oleh sekelompok orang.

Dan setelah sekitar tiga pekan setelah kejadian, belum diketahui sampai kapan mereka bertahan hidup di lokasi pengungsian.

"Saya masih berharap penyelesaian ke depan, tentunya tidak bisa langsung dikembalikan (ke kampung halamannya). Harus ada mediasi semua pihak."

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Sampang, Rudi Setiadhi.

Namun menurut Rudi, pemerintah Kabupaten Sampang saat itu tengah melakukan mediasi dengan berbagai kelompok atau perorangan untuk menyelesaikan persoalan. .

Sambil menunggu proses itu, lanjutnya, warga Syiah diminta tinggal di lokasi pengungsian dalam waktu yang belum bisa ditentukan.

"Saya masih berharap penyelesaian ke depan, tentunya tidak bisa langsung dikembalikan (ke kampung halamannya). Harus ada mediasi semua pihak," tambahnya.

Relokasi ke Sidoarjo?

Pemerintah Daerah Jawa Timur sebelumnya telah mempertimbangkan untuk merelokasi (memindahkan) warga Syiah Sampang ke sebuah wilayah di Kota Sidoarjo, Jawa Timur.

Walaupun ini belum menjadi keputusan tetap, usulan ini menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.

Sempat lahir opsi warga Syiah Sampang akan direlokasi ke Sidoarjo, Jatim, namun kemudian diralat.

Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sampang, KH Bukhori Maksum, berada di pihak yang mendukung relokasi sampai kedua pihak yang bertikai bisa didamaikan.

"Untuk sementara ini, saya sangat tidak setuju (warga Syiah Sampang) kembali ke tempat asal, karena ini memancing situasi tidak kondusif," kata Bukhori Maksum, saat ditemui BBC Indonesia di Sampang, Jumat (07/09).

"Jadi untuk sementara jangan dikembalikan. Carikan tempat yang aman untuk mereka, sebelum dua kelompok dipertemukan yang disaksikan pejabat pemerintah propinsi, untuk didamaikan," jelasnya.

Dan, "kalau ada kesanggupan untuk damai, kedua pihak itu dikembalikan. Nah, kalau tidak sanggup (berdamai) jangan dikembalikan, nanti bisa bentrok lagi," tandasnya.

Senada dengan sikap MUI Sampang, Wakil Ketua PCNU Sampang Nuruddin mendukung rencana relokasi.

"Kalau mereka tidak mau menyesuaikan dengan tradisi yang ada di desanya, maka relokasi tidak haram."

Wakil Ketua PCNU Sampang Nuruddin.

"Kalau mereka tidak mau menyesuaikan dengan tradisi yang ada di desanya, maka relokasi tidak haram,"tegas Nuruddin kepada BBC Indonesia.

"Itu suatu keniscayaan demi ketertiban dan keamanan, dan saya sangat setuju".

Sebaliknya, ide relokasi ini ditolak warga Syiah Sampang. "Saya tak setuju, karena itu bukan penyelesaian terbaik," kata pemuka Syiah Sampang, yang juga berstatus sebagai pengungsi, Iklil Almilal.

Dia meminta agar pemerintah segera membangun kembali rumah mereka yang dirusak massa, karena Iklil mengaku ingin cepat-cepat pulang ke kampungnya.

Tetapi bukankah keamanan Anda dan warga Syiah lainnya akan terancam jika memaksa kembali ke kampung halaman? Tanya saya.

"Ya masalah keamanan itu tanggungjawab pemerintah, tanggungjawab mereka," katanya enteng.

"Lagipula kami warga negara yang berhak mendapat perlindungan hukum," tambah Iklil yang dijumpai di lokasi pengungsian, Kamis (06/09) sore.

Melanggar HAM

Kritikan terhadap wacana relokasi warga Syiah Sampang juga disuarakan organisasi Center for Marginalized Communities Studies, atau CMARs.

Organisasi yang sejak awal melakukan penelitian dan pendampingan terhadap korban kekerasan di Sampang ini menyatakan, pemaksaan pemindahan warga Syiah di Sampang masuk kategori melanggar HAM.

Pasangan suami istri lanjut usia, yang juga penganut Syiah, menolak untuk direlokasi.

Kepala divisi advokasi dan penelitian CMARs, Achmad Zainul Hamdi mengatakan, opsi relokasi sejak awal diinginkan dan disuarakan kelompok yang memusuhi warga Syiah di Sampang.

"Jadi, waktu itu ada opsi mereka kembali ke Sunni atau keluar dari Sampang," kata Zainul, saat dihubungi wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, melalui telepon, Kamis (13/09) siang.

Lebih lanjut, menurutnya, "opsi relokasi bukan solusi yang baik dan sehat, karena memenuhi keinginan kelompok yang melakukan kekerasan."

"Itu juga bukan solusi untuk korban, tapi solusi untuk pemerintah yang tidak mau bersusah payah untuk menyelesaikan konflik ini. Dan lainnya, opsi ini melanggar HAM dan jadi preseden buruk bagi kehidupan keberagamaan di masa depan," tegasnya.

"Itu juga bukan solusi untuk korban, tapi solusi untuk pemerintah yang tidak mau bersusah payah untuk menyelesaikan konflik ini."

Kepala divisi advokasi dan penelitian CMARs, Achmad Zainul Hamdi.

Anggota Dewan Syura Ahlul Bait Indonesia, organisasi yang menaungi komunitas Syiah di Indonesia, Muhsin Labib mengatakan, rencana relokasi sementara terhadap warga Syiah Sampang membuktikan pemerintah tidak berdaya akibat tekanan kelompok tertentu.

Muhsin menolak alasan jika disebut relokasi itu merupakan keniscayaan karena alasan keamanan. "Itu fungsi negara (untuk menjamin keamanan warga Syiah Sampang). Negara itu apa kalau bukan untuk menegakkan hukum," katanya kepada BBC Indonesia.

Ingin pulang

Sampai Kamis (13/09) sore, usulan relokasi sementara terhadap warga Syiah Sampang, barulah sebatas wacana.

Para pengungsi yang berjumlah sekitar 200 orang masih ditempatkan di dalam gedung olah raga Sampang, yang terletak di pusat kota.

"Selama saya nggak bisa balik ke kampung, saya nggak bahagia."

Seorang pengungsi warga Syiah Sampang.

Pelayanan dan fasilitas yang diberikan otoritas terkait cukup bisa diterima oleh para pengungsi.

Saat BBC Indonesia mengunjungi lokasi pengungsi, berbagai fasilitas kebutuhan sehari-hari para pengungsi telah disediakan, seperti MCK, pelayanan kesehatan, serta sarana pendidikan.

Kehadiran tim relawan juga terlihat mendampingi para pengungsi.

Tetapi, seperti ditunjukkan seorang pengungsi, fasilitas seperti itu tidak cukup untuk membahagiakan mereka.

"Saya tidak kerasan tinggal di pengungsian, meski saya mendapat fasilitas dan hiburan," kata seorang ibu warga Syiah Sampang.

Keluhan ini disampaikannya kepada seorang relawan, yang saya temui di lokasi pengungsian di Kota Sampang, Kamis (06/09) lalu.

"Selama saya nggak bisa balik ke kampung, saya nggak bahagia," katanya lagi.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.