Mencari pengganti Husni Mubarak

Terbaru  17 Mei 2012 - 21:25 WIB
Warga Mesir

Warga Mesir yang tinggal di luar negeri telah memberikan suara untuk pemilihan presiden.

Lebih dari 50 juta warga Mesir bersiap memilih presiden pertama sejak jatuhnya Husni Mubarak menyusul unjuk rasa besar bulan Februari 2011.

Wajah dari 13 calon presiden -mulai dari mantan pejabat rezim lama, kelompok sekuler dan Islamis- terpampang di poster dan spanduk-spanduk di seluruh Mesir, negara dengan penduduk 82 juta jiwa.

Mereka menjanjikan perubahan namun pemilihan ini diperkirakan tidak akan dapat menghentikan pergolakan yang masih terus terjadi menyusul turunnya Mubarak.

Untuk pertama kalinya, calon-calon dari kelompok Islamis juga ikut bersaing. Mereka menghadapi persaingan ketat dari mantan pejabat di era Husni Mubarak.

Pemenang pemilihan presiden diperkirakan tidak dapat diraih pada putaran pertama dan kemungkinan dilanjutkan pada putaran kedua tanggal 16 dan 17 Juni.

Presiden terpilih akan diumumkan pada tanggal 21 Juni dan dewan militer- yang saat ini memegang kekuasaan sementara- berjanji untuk mengalihkan kekuasaan ke tangan sipil pada akhir Juni.

Televisi resmi Mesir mengutip pemimpin dewan militer Marsekal Hussein Tantawi yang menyatakan Mesir akan menunjukkan kepada dunia bahwa pemilihan presiden ini "sebagai model pemilihan yang bebas dan adil dan menggambarkan pilihan rakyat."

Pada masa kekuasaan Husni Mubarak, pemilihan diwarnai kecurangan besar.

Kemungkinan gejolak

"Jangan sampai digigit dua kali oleh ular yang sama. Bangsa ini telah merasakan kesengsaraan di tangan rejim lama yang korup"

Ikhwanul Muslimin

Pemilihan parlemen pertama paska-Mubarak yang diselenggarakan bulan November lalu juga dilaporkan diwarnai sejumlah kecurangan namun secara umum digambarkan sebagai pemilu paling bersih dalam beberapa dekade.

Kelompok Ikhwanul Muslimin- kelompok politik paling berpengaruh yang meraih setengah dari jumlah kursi di parlemen- memperingatkan para pemilih untuk tidak memberikan suara kepada para calon yang duduk sebagai pejabat di masa Mubarak.

"Jangan sampai digigit dua kali oleh ular yang sama. Bangsa ini telah merasakan kesengsaraan di tangan rezim lama yang korup," kata Ikhwanul Muslimin dalam satu pernyataan.

Setelah digesernya Mubarak, Mesir terus dilanda gejolak dan kekerasan yang mempengaruhi perekonomian sementara kejahatan juga meningkat.

Hal ini menyebabkan banyak warga Mesir yang mencari calon yang mendapatkan dukungan dari pihak militer yang dianggap merupakan institusi nasional yang tetap kuat.

Tiga belas calon presiden yang akan maju dalam pemilihan 23 dan 24 Mei menjanjikan perubahan. Namun sejumlah pakar menyatakan pemilihan presiden ini tidak serta merta dapat menghentikan gejolak.

"Akan terjadi banyak protes dan juga sejumlah kekerasan," kata Shadi Hamid, direktur badan penelitian di Brookings Doha Centre kepada kantor berita Reuters.

Jajak pendapat oleh badan independen yang disebut Pusat untuk Opini Publik menyebutkan dari 13 calon yang ada, mantan perdana menteri Ahmed Shafiq unggul 16,3% dalam putaran pertama tanggal 23 dan 24 Mei, dan Amr Mousa dengan 16% sementara Abol Fotouh dengan 12,5%.

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.