BBC navigation

Profesi langka nan itu bernama psikiater

Terbaru  5 Oktober 2011 - 10:46 WIB
RSJ di Lawang

RSJ Lawang mencoba menarik dokter umum yang bertugas di sana ikut mendalami psikiatri.

Dengan 235 juta penduduk, saat ini Indonesia hanya memiliki 616 ahli jiwa bergelar psikiater dan sebagian besar memilih berpraktek di kota-kota besar.

"Ada distribusi yang tidak merata sehingga layanan kesehatan mental lebih timpang di daerah terpencil ketimbang layanan kesehatan fisik lain," kata Dr Irmansyah, Direktur Bina Kesehatan Jiwa, pada Direktorat Jendral Bina Upaya Kesehatan, Kementerian Kesehatan.

Namun situasi saat ini sedikit membaik dibanding beberapa tahun terakhir, karena jumlah mahasiswa pada jurusan spesialisasi psikiatri mencapai 366 orang atau lebih dari separuh jumlah psikiater yang sudah ada.

"Itupun baru berarti dalam empat tahun setelah masa studi spesialisasi psikiatri, maka jumlah dokter jiwa di Indonesia baru akan mencapai kurang dari 1.000 orang," tambah Dr Irmansyah.

Pengalaman berbagai negara di dunia menurut Irmansyah menunjukkan profesi psikiatri memang bukan jenis pekerjaan massal seperti insinyur atau dokter. Tetapi idealnya, satu psikiater melayani maksimum 30.000 penduduk.

"Nah di Indonesia saat ini perbandingannya baru 1:400.000 penduduk, masih jauh sekali."

"Ada orangtua yang marah, ngapain susah payah jadi dokter cuma mau jadi dokter jiwa. Rugi!"

Dr Tun Kurniasih

Provinsi seperti NTT hanya punya satu psikiater, daerah rawan konflik seperti Ambon hanya punya dua, sedang di Palu, Sulteng, ada satu psikiater pada pasca konflik agama.

Sementara Aceh -yang dilanda tsunami dengan korban jiwa sampai sekitar 200.000 dan diasumsikan menghadapi masalah kejiwaan besar- ternyata hanya didukung oleh dua psikiater.

Dan sedikitnya dua daerah Indonesia, Kendari dan Gorontalo, sama sekali tak punya psikiater tetap satu pun.

Sulit dijual

Lambatnya muncul generasi baru psikiatri banyak dikaitkan dengan sikap mental yang memandang bidang ini 'sulit dijual', kata Dr Tun Kurniasih, mantan Ketua jurusan Psikiatri FKUI.

"Saya kira ada hubungannya dengan anggapan bahwa psikiatri kering dan kurang menghasilkan dibanding spesialisasi lain."

Pada sisi lain, tutur ahli jiwa berpengalaman itu, masih ada lagi tekanan dari keluarga.

"Ada orangtua yang marah, ngapain susah payah jadi dokter cuma mau jadi dokter jiwa. Rugi!."

Karena kebutuhan psikiater yang terus tumbuh, kini Kementerian Kesehatan mencoba menggulirkan sebuah wacana untuk mengajak dokter-dokter umum yang tengah ditugaskan di berbagai RSJ di Indonesia, tertarik ikut program spesialisasi psikiatri.

Dr Bambang Eko

Menurut Dr Eko, daya tarik profesi psikiater terletak pada tawaran remunerasinya.

"Mereka sudah praktek di sana sehari-hari, lihat langsung kondisinya. Kenapa tidak sekalian saja 'dipaksa' terjun?" kata Dr Irmansyah.

Di RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat, Malang, misalnya, terdapat belasan dokter umum menangani gangguan kesehatan fisik, seperti infeksi, typus, demam dan berbagai penyakit lainnya.

Dan upaya untuk mengajak para dokter umum agar juga tertarik ke psikiatri sebenarnya sudah dilakukan, seperti dijelaskan Direktur Utama RSJ Lawang, Dr Bambang Eko.

"Tiap tahun kita selalu kirim dokter untuk mendalami psikiatri kok, tetapi kita tidak bisa paksa."

Remunerasi layak

Untuk mencetak tenaga psikiatri baru, dalam 10 tahun terakhir pemerintah membangun sejumlah pusat rujukan pendidikan psikiatri di seluruh Indonesia.

Jumlahnya kini ada delapan, termasuk untuk wilayah Indonesia timur seperti Makassar dan Bali.

Namun masalahnya tetap, alumni biasanya memilih kota besar terutama di Pulau Jawa sebagai ladang paktek dan bukan di wilayah terpencil.

"Tidak selalu harus psikiatri kan, karena RS ini juga menawarkan layanan berbagai spesialisasi lain."

Dr. Ariani

Dr Medy Sarita dari RS Aloei Saboe, Gorontalo, mengatakan kesulitan menemukan dokter yang bersedia menerima beasiswa untuk pendidikan pskiatri dengan sistem dengan ikatan dinas yang mengharuskan mereka kembali ke Gorontalo usai pendidikan.

"Belum ketemu juga. Alasannya saya tidak tahu deh," katanya sambil mengangkat bahu.

Namun menurut Dr Bambang Eko dari RSJ Lawang, situasi ini bisa diatasi dengan memberi remunerasi layak bagi para dokter jiwa tersebut.

"Misalnya kalau ke daerah ya harus disediakan gaji, insentif, tunjangan kelangkaan spesialis, bahkan rumah dan mobil dinas."

Dr Bambang mencontohkan penghasilan seorang psikiatri di Padang bisa mencapai Rp15 juta, sementara di Jambi sekitar Rp12 juta, sementara dokter biasa mendapatkan sekitar Rp3,5 juta.

Paket remunerasi ini juga dianggap bisa menjadi penyeimbang karena jelas jumlah pasien kejiawaan tidak sebanyak pasien penyakit fisik yang biasa.

"Jadi ini semacam kompensasi karena dia harus kehilangan kesempatan cari tambahan penghasilan dari jam praktek yang biasa dilakukan dokter spesialis lain," tambahnya.

Apakah cara ini akan berhasil menggaet lebih banyak peminat calon dokter jiwa?

Dr Ariani -yang bekerja sebagai dokter umum di RSJ Lawang sejak dua tahun lalu- tidak menolak anggapan tersebut.

Mengaku tertarik meneruskan pendidikan ke jurusan psikiatri, dia mengatakan pilihan pendidikan spesialisasi sangat bersifat personal.

"Tidak selalu harus psikiatri kan, karena RS ini juga menawarkan layanan berbagai spesialisasi lain," tegasnya untuk menolak wacana yang mengharuskan dokter umum di RSJ masuk pendidikan psikiatri.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.