BBC navigation

Inovasi Indonesia untuk menang kompetisi

Terbaru  13 Juni 2011 - 16:16 WIB
Ika Martikah

Pada masa kejayaannya, ada ribuan pegawai seperti Ika Martikah di Majalaya.

Majalaya, sekitar satu jam perjalanan berkendara dari Bandung, Jawa Barat, sudah kehilangan pamornya beberapa dekade terakhir.

Mulanya dari kota kecil setingkat kecamatan ini masyarakat Indonesia mengenal sarung dari kerajinan tenun kayu sederhana, atau yang dikenal dengan nama gedogan.

Produksi rumahan itu berkembang dan mencapai puncaknya menjadi sebuah industri skala besar padat karya pada dekade 60-an.

"Ada yang memakai alat tenun bukan mesin, yang mesin juga ada," kata Daryaman, mantan pembina Unit Pelayanan Tekstil Majalaya.

Pada puncak keemasan produksinya, tekstil Majalaya mampu memenuhi 40% kebutuhan tekstil nasional.

"Pegawai tenun itu sampai ribuan, tempat bapak saya juga ada seratusan pegawai," kata Epi Sopiyan, seorang pengusaha tenun sutra ATBM (alat tenun bukan mesin) Majalaya.

Epi meneruskan usaha ayahnya, Haji Koko, yang merupakan pengusaha terkenal pada masanya di Majalaya, bahkan hingga menerima penghargaan Upakarti atas jasanya mengembangkan industri tenun nasional.

Sulit bersaing

"Saya yakin, produksi kami lebih bagus karena dibuat tangan."

Epi Sopiyan

Pada masa keemasannya Majalaya menerima pesanan hasil tenun ATBM maupun mesin (ATM) dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan dari negara tetangga seperti Malaysia dan negara Timur Tengah.

"Karena itu dulu disebutnya dollar city. Tapi sekarang sudah jadi dokar city," kata Epi dengan senyum kecut.

Yang dimaksudnya adalah Majalaya yang kini dipenuhi dengan jejeran kereta kuda berpenumpang yang memenuhi jalan-jalan serta kotorannya yang berserakan.

"Dulu sangat berbeda, tidak seperti ini," tambah Epi.

Yang juga berubah drastis adalah tingkat produksi tekstil Majalaya. Akibat persaingan pasar yang ketat serta majunya teknologi tekstil, sebagian pengusaha Majalaya kalah berproduksi dibanding pengusaha kota lain atau negara lain seperti Cina.

Epi sendiri memilih tidak ikut menggunakan mesin sebagai alat produksi, tetapi menekuni ATBM untuk produksi khusus kain sutra.

"Kain sutra dengan ATBM tidak bisa diproduksi Cina, maka saya pilih (menekuni) ini," kata Epi.

Tentu saja, Cina juga memproduksi macam-macam sutra, dan dengan harga lebih murah. Menurut Epi untuk jenis seperti yang diproduksinya, harga sutra buatan mesin yang diimpor Cina hanya separuh harga jualnya.

"Saya yakin, produksi kami lebih bagus karena dibuat tangan," kata Epi sambil menunjukkan jajaran hasil produksinya.

Kota Majalaya

Jajaran dokar menunggu penumpang di Majalaya, memunculkan sebutan 'dokar city'.

Cucu Juariyah juga memproduksi sutra meskipun juga membuat macam-macam barang lain.

Ayahnya, almarhum Haji Eme, adalah salah satu pemain industri tekstil yang cukup terkenal pada masanya yang juga menerima penghargaan Upakarti dari Presiden Suharto di jaman keemasan Majalaya dulu.

"Itu untuk jasanya mengembangkan tenun, dari tradisional ke mesin seperti sekarang," kata Cucu yang merupakan anak bungsu almarhum Haji Eme.

Cucu bersama saudara-saudaranya juga memproduksi kain untuk perlengkapan rumah tangga, cenderamata dan terutama, sarung.

"Yang ini pesanan dari Timur Tengah, kalau yang ini dari Raja Melayu," Cucu menunjukkan beberapa jenis kain sarung pesanan namun meminta agar nama klien pentingnya tidak disebutkan.

Seperti Epi, Cucu juga memilih menggunakan ATBM untuk menegaskan eksklusifitas kain buatannya.

"Memang membuatnya jadi jauh lebih lama tapi hasilnya sangat berbeda," kata Cucu menjelaskan.

Di mata awam, kata Cucu, perbedaan antara hasil tenun mesin dan tangan itu sering tidak tampak.

"Karena itu sering kali konsumen memilih produk yang seluruhnya hasil buatan mesin karena lebih murah, karena tidak banyak tahu tentang beda kualitasnya," tambah Cucu.

Salah satu ciri kualitas kain tenun yang lebih bagus dibanding kain tenun mesin menurut Cucu adalah tanda tenunan tidak nampak berbeda antara bagian depan dan belakangnya.

"Saya bersyukur sudah punya posisi yang cukup baik di dunia fashion dunia."

Nancy Go

"Tenunan sangat rapat dan halus sehingga bagian depan belakang hampir sama, ini tidak bisa nampak kalau pada kain dari tenunan mesin."

Upaya bertahan

Gempuran produk buatan mesin serta produk berharga murah juga dialami para pembuat sepatu dan tas.

Di Bandung Agit Bambang Suswanto memilih membuat sepatu buatan tangan demi memenuhi tuntutan kualitas dan menjauhi persaingan dari produk massal.

"Produk massa memerlukan teknik dan mesin canggih, kalau kita tidak bisa mendapatkannya pasti kalah dari buatan Cina," jelas Agit.

Pemuda berusia 21 tahun ini baru dua tahun menekuni dunia sepatu kulit dan sudah memenuhi permintaan 2.000 pasang sepatu pesanan sebuah merek luar negeri tahun lalu. Tetapi fokus utamanya adalah sepatu kulit buatan tangan 100% yang diberi merek Amble Foot.

"Karena buatan tangan produksi jadi terbatas dan harganya lebih tinggi," kata Anggit.

Tetapi nampaknya ini kunci suksesnya. Meski dianggap mahal di dalam negeri, harganya mulai Rp600.000 hingga jutaan rupiah, produknya banyak dicari orang di luar negeri karena dianggap lebih murah.

"Yang ini sudah dipesan oleh pembeli Australia," katanya menunjukkan sepasang sepatu kulit yang nampak keras dari luar tapi sangat lembut disentuh.

Anggit menggunakan kulit lembu dan domba untuk mendapat kualitas yang dianggapnya memadai.

Sementara perancang tas kelas premium Nancy Go, berburu bahan baku ke seluruh dunia untuk memenuhi tuntutan tampilan tas tangan yang indah, awet, dan abadi.

"Tas saya didisain untuk selalu cocok dipakai apapun tren yang sedang berlaku, bahkan diwariskan dari ibu ke anak sampai cucu," kata Nancy dengan senyum.

"Produk massa memerlukan teknik dan mesin canggih, kalau kita tidak bisa mendapatkannya pasti kalah dari buatan Cina."

Agit Bambang Suswanto

Nancy memberi merek tasnya Bagteria dan menjualnya dengan harga mulai dari Rp1,5 juta atau dua kali lipat untuk pembeli pasar internasional.

Produk buatan Nancy sudah dipasarkan di lebih dari 20 butik seluruh dunia, termasuk di kota kiblat mode seperti Paris, Milan, Tokyo, dan Hongkong.

"Saya bersyukur sudah punya posisi yang cukup baik di dunia fashion dunia," tambahnya.

Bagteria menjadi bahan perbincangan penggemar mode saat dikenakan pesohor Paris Hilton dan Putri Zara Phillips dari Inggris beberapa tahun lalu.

Ciri khususnya adalah disain yang rumit, pengerjaan yang detil dan bahan baku yang terbaik.

"Ini signature evening bag saya," katanya menunjukkan tas tangan mungil seperti yang dikenakan Paris Hilton.

Ketergantungan pada Cina?

Meski persaingan sangat keras, strategi bisnis para pengusaha ini nampaknya cukup membantu mereka berkompetisi.

"Buat saya yang penting disain harus asli, benar-benar datang dari diri sendiri, kualitas bahan nomor satu dan pengerjaan benar-benar rinci," kata Nancy saat ditanya strategi utamanya.

Sementara menurut Agit untuk berkompetisi dengan jutaan produk lain yang serupa, dia merasa peluang lebih terbuka jika dikerjakan dengan tangan dibanding mesin.

"Memang produksi terbatas, tapi kualitas selalu terjaga," tambahnya.

Sepatu amble foot

Karena dibuat tangan, maka jumlah produksi sangat terbatas dan berharga tinggi.

Tapi Epi Sopiyan menghadapi persoalan lain: tergantung pada pasokan bahan baku dari Cina.

"Benang dan kokon sutra saya dapat dari mana? Cina. Harganya berapa? Berapa saja yang mereka mau," katanya dengan gusar.

Dalam dua kali produksi terakhir, menurut Epi harga bahan baku impor sudah hampir naik dua kali padahal hanya berselang beberapa bulan.

Sebelumnya bahan baku untuk produksinya didapat dari sebuah pabrik penghasil benang sutra di Sukabumi, dengan kualitas tinggi dan harga bersaing. Namun pabrik itu tutup.

"Bagaimana nanti kalau mereka (Cina) tiba-tiba memutuskan tidak mau jual (bahan baku)?" Epi menukas.

Peremajaan mesin

Pengusaha sarung Endang Kurnia memilih meremajakan mesin tenun miliknya agar bisa berproduksi lebih banyak.

KurniaTex, pabrik tekstil dengan mesin yang diwarisinya dari ayahnya, kini menggunakan mesin-mesin yang rata-rata sudah berumur di atas 20 tahun.

"Kalau dibanding mesin yang banyak dipakai pabrik tekstil Cina sekarang ya jauh," kata Endang membandingkan.

Tetapi dengan mesin baru, akan muncul konsekuensi berat: pengurangan tenaga kerja.

"Karena mesin baru biasanya produksi makin banyak, tidak perlu tenaga kerja sebanyak sekarang," tambah Daryaman, mantan pembina UPT tekstil Majalaya.

Ini juga kekhawatiran yang dialami oleh Epi Sopiyan.

"Produksi sekarang berat sekali. Tapi kalau saya berhenti (produksi), bagaimana para pegawai?" tukas bos 22 pekerja ini.

Inilah konsekuensi sulit yang kini dihadapi para pengusaha tanah air, produsen tekstil maupun lainnya.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.