Tentang NII KW-9

Terbaru  10 Mei 2011 - 19:06 WIB
Tiba-tiba NII KW-9 menjadi berita besar

NII KW-9 menjadi berita besar setelah banyak kasus dugaan "cuci otak"

NII KW9 yang dituduh melakukan penyesatan dan penipuan, masih banyak yang belum jelas tentang apa dan bagaimana sepak terjang NII KW9 itu sendiri.

Tulisan ini tentu tidak akan menyediakan gambaran yang lengkap, tetapi setidaknya sejumlah hal penting di seputar kelompok itu diuraikan oleh Ken Setiawan, mantan anggota kelompok Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW-9) yang saat ini memimpin NII Crisis Centre di Jakarta, lembaga swadaya yang membantu para korban pengrekrutan kelompok itu.

Ken juga menjelaskan tentang kaitan gerakan tersebut dengan pondok pesantren Al Zaytun di Indramayu, Jawa Barat.

Sukses Panji Gumilang

Ken Setiawan mengatakan, semasa kepemimpinan almarhum Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo hanya ada tujuh komandemen.

"Komandemen Wilayah 8 di Lampung dan Komandemen Wilayah 9 untuk Jakarta baru ditambah belakangan," kata Ken.

Dikatakannya, penambahan itu terjadi semasa kepemimpinan Adah Djailani.

"KW 9 itu kan dianggap bagus karena ketika dipegang oleh Panji Gumilang sukses dalam hal pendanaan dan pengrekrutan jamaah baru"

Ken Setiawan

NII KW 9 yang kemudian dipimpin oleh Abu Toto yang banyak dikenal dengan nama Panji Gumilang mencapai sukses besar dalam pengrekrutan jemaah dan pengumpulan dana, kata Ken yang mengaku empat tahun "belajar" di Al-Zaytun.

"KW 9 itu kan dianggap bagus karena ketika dipegang oleh Panji Gumilang sukses dalam hal pendanaan dan pengrekrutan jamaah baru," kata Ken.

Dari sukses pengumpulan dana inilah, ujar Ken, Panji Gumilang membangun komplek pondok pesantren Al-Zaytun di Indramayu, Jawa Barat, yang cukup besar dan relatif berfasilitas bagus.

Kawasan Al-Zaytun inilah yang dijadikan "ibu kota" oleh NII KW-9.

Naik haji ke Indramayu

Lebih lanjut, Ken Setiawan menjelaskan bahwa NII KW-9 menjadikan komplek Al-Zaytun sebagai "Mekah" bagi warga NII untuk menunaikan ibadah haji.

"Pada tanggal 1 Muhammar mereka berbondong-bondong ke sana untuk melakukan ritual haji.

"Warga NII dan seluruh jaringan datang dan ketika itulah para jemaah membawa setoran yang mereka istilah sebagai melempar jumrah," kata Ken menambahkan.

Dia menjelaskan, tujuh batu kerikil dalam melempar jumrah sering diartikan sebagai tujuh sak semen yang akan digunakan untuk pembangunan gedung-gedung Al-Zaytun.

Tetapi, tujuh sak semen itu diganti dengan uang sehingga yang "dilemparjumrahkan" atau yang disetorkan ke "Mekah" adalah uang senilai tujuh sak semen tersebut.

Bahkan, banyak jemaah yang "didorong" untuk menyumbang lebih besar dari itu.

"Tinggal dihitung saja berapa harga semen satu sak, kalikan tujuh," ujar Ken. "Dan itu minimal, bisa lebih besar dari itu."

Radikal

Ketika ditanyakan apakah NII KW-9 menganut paham radikal, Ken berkata bahwa NII KW-9 dan NII-NII yang lain memiliki ideologi yang sama.

"Mereka memiliki doktrin yang sama, cuma pelaksanaannya berbeda dengan NII-NII yang lain," katanya.

Sebagaimana cara pandang NII-NII yang lain, NII KW-9 juga menganggap NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) sebagai negara kafir.

Bedanya, tambah Ken, kalau NII-NII yang lain bersedia melakukan tindak kekerasan seperti peledakan bom untuk menegakkan keinginan mereka, NII KW-9 tidak begitu.

Menghalalkan segala cara

Mantan Presiden BJ Habibie

Mantan Presiden BJ Habibie meresmikan pesantren Al-Zaytun

Meskipun NII KW-9, menurut Ken Setiawan, tidak melakukan tindak kekerasan untuk menyebarluaskan ideologinya, tetapi mereka akan menghalalkan segala cara untuk memperkuat kelompoknya khususnya untuk memperkuat posisi keuangan mereka.

Itulah sebabnya, Ken menjelaskan, NII KW-9 gencar melakukan pengrekrutan dengan tujuan untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.

"Kita kan lagi berjuang, kita rekrut orang-orang RI sebanyak-banyaknya, kita ambil hartanya dan kalau kita sudah siap revolusi kan sudah terpenuhi semuanya," kata Ken menirukan kata-kata yang sering diucapkan oleh para pemimpin NII KW-9.

"Tinggal revolusi saja, menunggu saatnya revolusi, nanti RI bakal tumbang dengan sendirinya," ujar Ken menyarikan doktrin NII KW-9.

Dia menegaskan bahwa NII KW-9 memang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Bagi mereka, katanya, semua orang di dunia ini adalah kafir sebelum mereka bergabung ke dalam NII.

"(Di mata orang NII) orang kafir di dalam kondisi perang, hartanya boleh diambil, 'halal' dalam bahasa mereka," Ken menjelaskan.

Orang-orang besar

Semasa Orde Baru, dan bahkan sampai era setelah kejatuhan Soeharto, pondok pesantren Al-Zaytun menjadi salah satu "tempat ziarah" yang sangat populer.

Banyak pejabat tinggi, politisi senior, pengusaha besar yang berambisi berpolitik, dan yang sejenisnya, datang ke pondok yang sekarang tersingkap sebagai pusat operasi NII KW-9 pimpinan Panji Gumilang.

Namun, mengapa orang-oran besar tersebut "terjebak" mendekati Al-Zaytun?

Menurut Ken Setiawan, mereka tidak tahu pondok pesantren yang dikatakan terbesar di Asia Tengara itu adalah markas NII.

Misalnya, akhir bulan lalu mantan Wapres Jusuf Kalla mengatakan dia tidak tahu bahwa Al-Zaytun, yang dikunjunginya ketika masih menjadi menteri kabinet, terkait dengan NII KW-9.

Alasan Kalla adalah bahwa semua orang (pejabat, politisi) ke sana dan bahwa pesantren itu diresmikan pada tanggal 27 Agustus 1999 oleh BJ Habibie semasih menjadi presiden pasca-Soeharto.

"Pada awalnya mungkin mereka (para pejabat dan politisi) tidak melihat bahwa ini (Al-Zaytun) adalah proyek NII.

Akbar Tanjung semasa ketua umum Golkar

Akbar Tanjung menyumbangkan cukup besar uang ke pesantren Al-Zaytun

"Barangkali mereka tertarik dengan besarnya pesantren itu, yang diasumsikan memiliki jemaah yang banyak. Para pajabat yang datang ke situ kan tujuannya politis," kata Ken.

"Bagimana agar suara pemilih di lingkungan pesantren itu bisa masuk ke partai mereka dengan tawaran-tawaran (imbalan)."

Tokoh politik yang pernah berkunjung ke Al-Zaytun termasuk Akbar Tandjung yang waktu itu duduk sebagai ketua DPR yang sekaligus ketua umum Partai Golkar.

Gedung olahraga di komplek pesantren itu diberi nama Gedung Akbar Tandjung yang dibangun dari uang sumbangan politisi veteran dan mantan menteri sekrearis negara yang pernah menjadi tersangka kasus korupsi dana non-bujeter Bulog sebesar Rp40 miliar itu.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.