Kemal, memotret dengan kerja keras

Terbaru  28 Maret 2011 - 07:00 GMT

Wartawan foto Kemal Jufri berhasil meraih penghargaan World Press Photo 2011.

Meraih sebuah penghargaan bergengsi yang didambakan fotografer dunia, wartawan foto Kemal Jufri menganggap kerja keras adalah kata kuncinya.

"Kerja keras itu nomor satu", ungkap Kemal Jufri, 38 tahun, kepada BBC Indonesia, Kamis (24/2) lalu.

"Selain itu, tentu saja perlu bakat. Tetapi bakat tanpa kerja keras tak ada gunanya," tandasnya.

Kemal Jufri memang baru saja meraih penghargaan World Press Photo 2011 sebagai pemenang ke-2 kategori People in the News Stories.

Kontes foto World Press Photo - yang kantor pusatnya di Amsterdam, Belanda - disebut sebagai ajang bergengsi di kalangan fotografer jurnalistik dunia.

Karyanya yang menampilkan foto seri seputar letusan Gunung Merapi di tahun 2010 lalu, berhasil mengalahkan jepretan para pesaingnya - ribuan wartawan foto asal negara-negara lain.

"Itu pelajaran terbesar buat saya: orang besar seperti dia, ternyata harus bekerja keras"

Kemal Jufri

Dan lebih dari itu, Kemal Jufri merupakan segelintir wartawan foto Indonesia yang pernah meraih penghargaan ini.

"Tentu sangat berarti," ujar lelaki kelahiran Jakarta, yang merintis karir di bidang foto jurnalistik di Kantor Berita Prancis AFP biro Jakarta, 1996 ini,
tentang keberhasilannya itu. "Itu berarti saya mendapat penghargaan sebuah organisasi paling bergengsi di dunia foto jurnalistik."

Salgado dan kerja keras

Seperti wartawan foto lainnya, Kemal -- yang sejak tahun 2001 memilih sebagai fotografer freelance -- juga tumbuh dan berkembang dari karya dan dedikasi para fotografer top dunia.

"Dari karya-karya mereka, membuat saya terinspirasi untuk membuat karya seperti itu," katanya, terus-terang.

Kemudian dia menyebut beberapa nama. "Awalnya saya belajar fotografi dari Eugene Smith," ungkapnya, menyebut fotografer kesohor asal Amerika Serikat, Eugene Smith (1918-1978).

Salah-satu karya seri Kemal Jufri, yang diambilnya dari lereng Gunung Merapi.

Smith dikenal antara lain dari esai-esai fotonya dari medan Perang Dunia II, utamanya di pertempuran di kawasan Lautan Pasific.

"Dialah yang mengenalkan kepada saya apa yang disebut esai foto," ungkapnya. Di sini Kemal mengaku belajar dari karya-karya wartawan foto legendaris tersebut.

Nama lainnya adalah fotografer perang James Nathcwey, yang disebut Kemal,"yang imaji-imajinya sangat luar biasa dari segala konflik di seluruh dunia."

Tetapi kemudian Kemal Jufri secara khusus menyebut satu nama lagi, yaitu fotografer asal Brazil, Sebastiao Salgado. (Kemal menyebutnya sebagai fotografer yang "mendokumentasikan dalam jangka panjang berbagai isu sosial, dan berbagai peristiwa di dunia").

Dari sosok Salgado, anak pasangan Fikri Jufri dan Anisa Hadad(almarhumah) ini mengaku banyak mendapat inspirasi.

"Karena saya pernah menjadi asistennya saat beliau datang ke Jakarta, di pertengahan 90-an, " ungkapnya.

Kepada Heyder Affan, Kemal Jufri mengungkapkan kisah di balik karya-karya fotonya.

Selama mendampingi Salgado itulah, Kemal - yang beberapa kali meraih penghargaan fotografi tingkat internasional - lebih mengenal dan menghayati apa yang disebutnya sebagai kerja keras.

"Dia tidak mau makan siang, karena itu akan memutus momentumnya. Bahkan kalau matanya mengantuk, dia tetap memotret terus," katanya, mengenang contoh kerja keras yang ditunjukkan fotografer senior Salgado.

"Itu pelajaran terbesar buat saya: orang besar seperti dia, ternyata harus bekerja keras".

Dorongan untuk selalu bekerja keras itu, menurut Kemal, semakin terpatri pada dirinya, setelah Salgado kemudian berkata: 'Kemal, tidak ada fotografer yang sukses di dunia, tanpa bekerja keras... 90 persen adalah kerja keras, selebihnya bakat, dan 1 persen keberuntungan'.

Menangkap emosi

Sebagai wartawan foto yang banyak mengabadikan tragedi, mulai bencana alam sampai konflik sosial, Kemal tentu memahami cara mendekati subyek fotonya.

Foto-foto seri dari sekitar letusan Gunung Merapi tahun 2010 lalu, yang akhirnya memenangkan penghargaan itu, adalah buktinya.

Jadi, apa nilai lebih foto-foto karya Anda dari Gunung Merapi itu? Tanya BBC.

Wajah korban Merapi, salah-satu seri karya Kemal Jufri yang menyabet juara 2 kategori People in the News Stories

Selain masalah teknis, seperti ketepatan pengambilan sudut (angle), momen, serta dampak visual letusan yang dramatis, Kemal kemudian mengungkap apa yang mengiringinya ketika berada di lereng Merapi.

"Yaitu bagaimana saya bisa memasukkan emosi di situ. Bagaimana saya menangkap emosi dan perasaan mereka, jadi empati ya..."

Dan penyikapan seperti ini, yaitu berempati pada orang-orang yang dilingkupi tragedi, rupanya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari profesinya sebagai wartawan foto.

Pengalamannya berada di Aceh saat wilayah itu diluluh-lantakkan oleh gempa dahsyat - dan memakan banyak korban - di tahun 2004, membuatnya semakin meyakini bahwa memotret bukanlah sekedar mengabadikan sebuah peristiwa. "Di sanalah perasaan saya paling tumpah," ungkap Kemal, mengenang apa yang dialami di wilayah di ujung barat Pulau Sumatera itu.

"Karena, saya bukan lagi sebagai seorang fotografer yang melakukan liputan, tapi juga saya belajar mengenai sebuah hidup, saya juga melakukan sebuah terapi terhadap diri saya," tambahnya lagi.

"Saya bukan lagi sebagai seorang fotografer yang melakukan liputan, tapi juga belajar mengenal sebuah hidup"

Kemal Jufri

"Dan akhirnya saya memotret dengan perasaan, dan hasilnya lebih kuat daripada karya-karya saya di mana mungkin perasan emosional, ikatan batin, tidak sebesar saat saya meliput tsunami Aceh".

Sepulang dari liputan itu, seperti yang dialami sebagian wartawan, Kemal juga mengalami apa yang disebutnya sebagai 'guncangan'.

Cukup lama dia mengalami situasi seperti itu. Kondisinya berangsur-angsur kembali 'normal', setelah sekian bulan kemudian, dia kembali ke Aceh dan menyaksikan perubahan di wilayah itu.

Dilema fotografer

Menyinggung semacam dilema yang acap membayangi wartawan foto pada sebuah momen tragedi, misalnya ketika dituntut menolong korban atau mengabadikannya, Kemal tidak memungkirinya.

"Selalu ada dilema seperti itu," tegasnya.

"Tapi prinsip saya, jika pada saat itu, saya satu-satunya orang di sana, dan tidak ada orang yang bisa menolong korban tersebut, tentu saya prioritaskan untuk menolongnya," ungkapnya seraya menambahkan, pemotretan akan dilakukan setelahnya - jika masih ada waktu, tentu saja.

"Jika saat itu, saya satu-satunya orang di sana, dan tidak ada orang yang bisa menolong korban, tentu saya prioritaskan untuk menolongnya"

Kemal Jufri

"Tetapi", sambung Kemal, "saya akan prioritaskan memotret, apabila ada orang lain yang bisa membantu, misalnya tim penyelamat atau orang di sekitar..."

Sikap seperti ini pula yang dilakukannya saat mengabadikan situasi di lereng Gunung Merapi sesaat setelah erupsi dan memuntahkan asap panas.
Saat itu di lokasi berbahaya tersebut sudah banyak terlihat tim penolong.

"Lebih baik saya memotret, biar (hasil fotonya) dapat diketahui masyarakat dan
dunia bahwa ini terjadi," papar Kemal.

Menjawab pertanyaan BBC tentang kualitas wartawan foto Indonesia jika dibanding rekan-rekannya dari negara Barat, Kemal menyatakan, "Kalau sekarang, tak ada beda (kualitas)-nya. Boleh dibilang posisi kita sama."

Yang membedakan, lanjutnya, media-media besar tersebut dikelola dan diterbitkan di Eropa dan Amerika Serikat. Sehingga pemilik atau editornya lebih mempercayai fotografer dari negaranya sendiri, ketimbang "menugaskan orang lain yang tidak dikenalnya di
belahan dunia lain".

Tetapi menurut Kemal, kondisi seperti itu, tak perlu membuat wartawan foto
Indonesia tak berkecil hati.

Asal, demikian Kemal, "apakah kita bisa diandalkan atau tidak? Karena banyak karya fotografer kita hebat, tapi karena kinerjanya tak bisa diandalkan, kurang bagus, atau tak kerja keras, maka tidak akan bisa mendapat kepercayaan dari foto editor."

Kehadiran figur ayah

Anak kedua dari tiga bersaudara ini mengaku mengenal fotografi pertama kali melalui figur sang ayah, wartawan senior dan salah-seorang pendiri Majalah Tempo, Fikri Jufri.

Kemal Jufri mengenal dunia fotografi, setelah ayahnya acap mengajaknya ke kantor redaksi Majalah Tempo.

Ketika masih kanak-kanak, Kemal mengenang, ayahnya acap mengajaknya ke kantor TEMPO, saat libur sekolah. Dan salah-satu sudut yang disukainya di kantor itu adalah ruangan kamar gelap -- tempat mengolah, cuci-cetak foto, secara manual.

"Dan sampai sekarang, aroma kimia dari kamar gelap itu masih terasa sampai sekarang," kenang Kemal, kali ini dengan tergelak, menyebut salah-satu momen awal dirinya mengenal dunia fotografi.

Usai lulus sekolah menengah di Hawaii, Amerika Serikat, Kemal kembali ke Jakarta. Di sebuah hari di tahun 1994, sang ayah memberitahunya bahwa ada Galeri Foto Jurnalistik Antara yang baru dibuka secara resmi. Dia juga disarankan untuk mendaftar pada program workshop foto jurnalistik yang diadakan galeri tersebut

Rupanya Kemal tidak keberatan. Dan di tempat itulah, Kemal akhirnya mulai mengenal, mendalami, dan pelan-pelan mencintai dunia fotografi jurnalistik. Melalui kuratornya saat itu, fotografer Yudhi Soerjoatmodjo, dia sempat belajar teknis kamera. "Saya masih ingat, saya masih meminjam kamera milik kakak," kenangnya.

Selain Yudhi, sosok lain yang ikut membentuk keterikatannya pada dunia fotografi adalah fotografer senior Oscar Motuloh -- kini Direktur Utama Galeri Foto Jurnalistik Antara.

"Setelah saya mengikuti workshop di Galeri Foto Jurnalistik Antara, saya magang di sana, dan Oscar banyak memberi masukan tentang apa itu foto jurnalistik, dan beliau juga menunjukkan karya-karya fotografi dunia," jelasnya.

Letusan Gunung Merapi merupakan salah-satu seri karya Kemal Jufri.

Dari pijakan awal inilah, suami Dina Purita Antonio (yang dikenal juga sebagai jurnalis asal Filipina) ini lantas mengembangkan sayapnya.

Diawali freelance di majalah D&R, dan sempat menjadi wartawan foto di Kantor Berita Prancis AFP, Kemal kemudian memilih sepenuhnya sebagai freelance.

Di sinilah kemudian foto-fotonya mengalir terus dan banyak menghiasi sejumlah penerbitan asing, sampai sekarang -- seperti TIME, Asiaweek (sampai 2001), Newsweek, Der Spiegel, atau The New York Times.

Kini, setelah karya-karyanya banyak dikenal, ada pertanyaan yang acap dialamatkan kepada dirinya, yaitu apakah kehadiran sosok ayahnya selalu membayang-bayangi perjalanan karirnya.

"Saya sering ditanya seperti itu," kata Kemal, dengan nada enteng. "Cuma uniknya, sejak awal karir, saya nggak pernah berada di bawah bayang-bayang dia. Karena saya merasa walau sama-sama jurnalis, saya foto jurnalis dan dia jurnalis tulis atau reporter... Itu kan berbeda," tandasnya.

Kemal kemudian menekankan: "Apa yang saya capai itu adalah merupakan kerja keras saya, dan tak ada sangkutnya dengan beliau".

Walaupun begitu, tambah Kemal cepat-cepat, "Saya sangat bangga dengan ayah saya".

Kepada BBC, Kemal menyebut istrinya, Dina Purita Antonio, yang mendukung karirnya sebagai wartawan foto -- selain figur ayahnya.

"Karena menjadi seorang istri foto jurnalis, yang harus lompat sana-sini dan sering saya harus meninggalkan dia, juga butuh pengorbanan buat dia. Dia selalu mendukung saya baik secara karir atau secara emosional. Dukungan keluarga ini yang membuat saya tetap menjalani karir saya sebagai fotografer jurnalis," ungkap Kemal, sekaligus menutup wawancara.

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.