Mencari nafkah di jalanan kota

Terbaru  8 Maret 2011 - 20:37 GMT
Joki mobil di Jakarta

Yunita sudah dua tahun menjadi joki di jalanan utama Jakarta yang memberlakukan 3in1.

Perempuan dan anak-anak yang mencari nafkah di jalanan menjadi pemandangan yang semakin banyak terlihat di kota-kota besar di Indonesia, khususnya di ibukota Jakarta.

Setiap hari, misalnya, dalam dua tahun terakhir, Yunita, 23 tahun, menggendong Mutia yang berusia 2,5 tahun menunggu mobil pencari penumpang kedua dan ketiga diluar jalur 3in1 di jalan utama Jakarta.

Program 3in1 di Jakarta ini digelar sejak 2004 untuk mengurangi kemacetan, dengan hanya membolehkan mobil berpenumpang 3 orang melewati jalur tertentu pada jam sibuk pagi dan sore hari.

Berpisah dengan suaminya sejak Mutia baru berumur lima bulan, Yunita mengaku tidak tahu harus bagaimana mencari nafkah kalau bukan dengan menjadi joki kendaraan.

"Sejak jadi joki ya lumayanlah bisa cari-cari uang uang untuk makan," kata Yunita sambil terus mengacungkan jarinya menawarkan layanan joki pada ratusan kendaraan yang lewat.

Sementara Mutia nampak lelap tidur di gendongan, di tengah bising lalu lintas dan bau asap kendaraan.

"Habis mau bagaimana lagi, saya cuma tinggal berdua. Kakak saya (tinggal) jauh semua, mau titip siapa lagi," kata Yunita saat ditanya kenapa membawa balitanya ke jalanan.

Keuntungan bawa anak

"Untuk bantu-bantu penghasilan bapaknya, dia kan kuli bangunan, kalau sore pulang nah saya cari uang juga."

Yuyun

Bekerja membawa anak membuat joki seperti Yunita punya keuntungan karena menawarkan tambahan dua penumpang sekaligus dibandingkan joki lain yang hanya seorang diri.

Alasan yang sama dikemukakan Yuyun, 20 tahun, yang selalu mengemis bersama anak laki-lakinya, Rizki, 1,5 tahun.

Yuyun -yang punya keluarga utuh dengan suami dan tiga anak- memilih mengemis di dekat stasiun Dukuh Atas Jakarta karena penghasilan suaminya dianggap tak cukup untuk hidup.

"Untuk bantu-bantu penghasilan bapaknya, dia kan kuli bangunan, kalau sore pulang nah saya cari uang juga," kata Yuyun yang sebulan sebelumnya baru melahirkan anak ketiga.

Data dari Kementrian Sosial pada tahun 2010 menyebut, sedikitnya terdapat 3 juta gelandangan dan pengemis di kota-kota besar seluruh Indonesia, sebagain besar memilih Jakarta sebagai lokasi kerja.

Pemda Jakarta menargetkan ibukota bebas pengemis dan anak jalanan pada tahun 2011.

Yuyun

Yuyun mengemis karena penghasilan suami dianggap tidak cukup.

Target itu diumumkan Dinas Sosial Pemda Jakarta Januari tahun lalu, yang kemudian diikuti berbagai program pembersihan pengemis, tunawisma, anak jalanan dan preman di berbagai lokasi.

Keaktifan Pemda

Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar, upaya pengentasan perempuan dan anak dari jalanan terlampau besar bila hanya dibebankan pada pemerintah.

Linda mengaku sedih melihat mereka di jalan namun mengatakan wewenang melakukan tindakan bukan berada pada kendali kementriannya.

"Ngenes melihatnya, anak-anak itu kan terpapar polusi, jadi eksploitasi. Cuma kan kita tidak bisa tindak langsung, tidak bisa saya angkat ke mobil saya semuanya," katanya pada BBC.

Menurut Linda, kementriannya sudah berkali-kali mendesak dan mendatangi pemda agar lebih aktif turun tangan mengatasi persoalan semacam ini.

"Pemberdayaan perempuan sangat penting di sisi pengembangan ekonominya," tambah Linda.

Salah satu model yang disebut Linda cocok untuk pemberdayaan ekonomi kelompok marjinal perempuan adalah dibentuknya koperasi-koperasi khusus perempuan di daerah.

"Sudah banyak yang berjalan baik di daerah," tambah Linda tanpa merinci di mana dan seperti apa bentuk koperasi yang dimaksudnya.

Perhatian khusus

"Dari angka melek huruf, kematian bayi, hingga akses terhadap air bersih, seluruhnya menjadi persoalan yang lebih banyak dihadapi perempuan."

Yanti Mochtar

Bagaimanapun, Yanti Mochtar, Direktur organisasi nirlaba KAPAL Perempuan, berpendapat sudah saatnya pemerintah memberi perhatian khusus pada upaya pengentasan kemiskinan pada perempuan.

Berdasarkan berbagai kajian termasuk sasaran pembangunan milenium PBB, perempuan masih merupakan bagian terbesar dari upaya menaikkan standar kesejahteraan di Indonesia.

"Dari angka melek huruf, kematian bayi, hingga akses terhadap air bersih, seluruhnya menjadi persoalan yang lebih banyak dihadapi perempuan," tegas Yanti.

Perempuan di Indonesia menyumbang 64% jumlah buta huruf nasional, sementara tingkat kematian bayi merupakan yang tertinggi di Asia.

Statistik tersebut, menurut Yanti, menunjukkan perlunya sentuhan langsung pemerintah pada persoalan pengentasan kemiskinan pada perempuan di komunitasnya.

"Saya kira programnya sudah banyak, masalahnya adalah apakah sudah tepat sasaran atau belum?" tambah Yanti.

Dia mencontohkan program pemerintah memberikan dana tunai langsung bisa jadi kurang bermanfaat dibanding memberikan layanan kesehatan dan pendidikan ketrampilan dengan gratis.

KAPAL Perempuan misalnya, menurut Yanti, mendatangi kelompok perempuan di pemukiman kumuh Jakarta Utara untuk tujuan semacam ini.

Persoalannya adalah kemauan politik dan dana yang bisa jadi sangat besar.

Menteri PP Linda Gumelar mengakui ini pekerjaan yang tidak bisa dilakukan pemerintah saja.

"Kami mengharapkan masyarakat untuk turut bekerja, pemerintah (sendiri) tidak akan mampu."

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.