Terbaru  5 September 2010 - 17:06 WIB

Agama

Pesantren bagi preman

Pesantren Istighfar

Gus Tanto melayani sedikitnya 250 preman yang ingin belajar agama

Sebuah pondok pesantren di Kota Semarang mencoba mengkhususkan diri memberi pencerahan kepada para preman atau berandal jalanan.

Dengan metode yang disebut tombo ati (obat hati), pengelola pondok pesantren ini berupaya mengajak para bandit jalanan agar sadar dan bekerja dengan cara yang benar, lapor Edhi Prayitno untuk BBC Indonesia.

Pesantren itu sendiri bernama Pesantren Istighfar, dimaksudkan agar tempat ini bisa menjadi tempat bertobat. Pengelola pesantren, Mohamad Kuswanto atau Gus Tanto setiap hari melayani sedikitnya 250 orang preman yang belajar ibadah.

Semuanya adalah santri kalong atau santri yang datang ke pesantren jika ada acara atau membutuhkan konsultasi.

Menurut Gus Tanto, pesantren itu didirikan secara fisik tahun 2005, meski aktivitasnya sudah ada sejak 20 tahun lalu.

Cap buruk

Dia yang lahir dan besar di kampung itu, mengaku tidak tahan melihat kekerasan di lingkungannya.

"Orang main ke Perbalan itu sudah berpikir seribu kali karena tidak aman apalagi nyaman. Brooklyn-nya Semarang itu Perbalan ini. Krisis moralitas. Dengan dihimpit lingkungan seperti itu, saya punya naluri bagaimana saya bisa menerapkan apa yang namanya kebenaran," kata Gus Tanto.

Awalnya, mencari jamaah tidaklah gampang. Gus Tanto terjun sendiri ke terminal, stasiun dan pasar-pasar untuk bergabung dengan para bandit.

"Saya harus masuk terjun ke dunia mereka. Saya terjun di terminal langsung ke base camp-nya mereka dan benar-benar mengetahui semuanya. Saya jangan sampai menggurui orang atau mengatur orang. Saya mengalir saja. Dia ingin minum, malah saya belikan. Saya harus mendalami psikologisnya," tambah Gus Tanto.

Orang main ke Perbalan itu sudah berpikir seribu kali karena tidak aman apalagi nyaman. Brooklyn-nya Semarang itu Perbalan ini

Gus Tanto

Ferry, salah satu jamaah di pesantren itu mengaku bosan tiap hari bermasalah dan berupaya mencari solusi di pesantren tersebut.

"Teman-teman di sini semuanya enak dan mengerti, apalagi cerita jalan hidupnya sama seperti saya. Di sini yang lebih parah dari saya juga banyak, ada yang tersangkut pembunuhan," tuturnya.

Warga kampung Perbalan sendiri menyambut baik upaya Gus Tanto. Sri Rahayu menyebut pesantren itu mampu menghilangkan cap negatif.

"Sekarang tidak ada orang mabuk, pesantren bisa mengamankan. Beberapa tahun ini tidak ada siskamling tetapi keadaan aman," kata Sri Rahayu.

Seiring bertambahnya waktu, Pesantren Istighfar kini tak hanya menangani para bandit jalanan namun juga warga lain dari berbagai strata sosial.

Dan lantunan ayat-ayat Alquran terdengar setiap malam pada bulan Ramadhan di kampung bandit ini, menggantikan hiruk orang-orang mabuk akibat menenggak minuman keras.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.