Terbaru  5 September 2010 - 17:12 WIB

Seni budaya

Musik tabuh pengantar sahur

Seni patrol di Surabaya

Warga Tambak Asri menunggu musik patrol lewat depan rumah

Kesenian patrol pernah menjadi bagian tak terpisahkan bagi warga Jawa Timur khususnya saat Ramadhan tetapi lambat-laun seni musik tabuh mulai ditinggalkan.

Di kota-kota besar seperti Surabaya, kesenian tradisional ini sudah jarang ditemui.

Hanya di beberapa tempat saja seperti Kelurahan Tambakasri, Kecamatan Krembangan, kesenian ini masih ada, lapor Raditya Sudarmanto untuk BBC Indonesia.

Tradisi yang identik dengan musik pengantar sahur ini, berasal dari wilayah tapal kuda Jawa Timur, lalu tersebar di hampir seluruh daerah di provinsi. Para pemainnya keliling kampung untuk membangunkan sahur.

Kampung Tambakasri terletak di pinggir kota Surabaya, dekat perbatasan Kabupaten Gresik. Sebagian besar penduduknya berpenghasilan rendah dan tinggal di gang-gang sempit.

Kampung ini juga dikenal sebagai 'daerah hitam'. Tokoh pemuda setempat Listiono, mengatakan bermain patrol bermanfaat untuk menyalurkan aktivitas anak-anak muda di kampung itu.

"Harapannya kita bisa beri kontribusi pada warga supaya bisa lebih bisa meningkatkan ibadahnya. Teman-teman rata-rata didominasi mantan adiksi semuanya, kita ingin memberikan penerangan bagi mereka," kata Listiono.

"Biar mereka tidak dihinggapi dengan kegiatan negatif maka diisi dengan kegiatan seperti patrol ini."

Bangun sahur

Kecuali kalau hujan, setiap menjelang sahur, para pemuda di kampung ini memainkan alat musik ini keliling kampung. Mereka juga punya grup patrol sendiri, dan rutin latihan.

Tidak cuma asal pukul dan berteriak sahur saja tapi terkadang dengan shalawat atau nyanyian Islami lainnya.

Musik pengantar sahur

Musik patrol awalnya dari kentongan kayu dan bambu

Menurut Listiono, patrol diciptakan oleh Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo, sebagai media penyebaran Islam.

"Sepengatahuan saya, patrol itu dari kata patroli. Untuk memberikan imbauan, memberi peringatan. Jadi masyarakat bisa menjaga keamanan dan khususnya pas bulan Ramadhan ini, misalnya untuk sahur," ujarnya.

Patrol biasanya dimainkan oleh tujuh atau delapan orang. Satu vokalis, yang lainya mengiringi.

Kalau dulu, alatnya hanya kentongan kayu dan bambu, tapi sekarang bisa ditambah instrumen pukul lainnya, misalnya bass drum, snar drum bahkan trambolin.

Salah satu pemainnya adalah Syaiful Arif.

"Saya mau bisa musik patrol. Selama ini anak-anak muda sering melupakan musik tradisional. Saya ingin sekali bisa memahami patrol. Sebelum saya lahir juga sudah ada patrol. Saya baru kenal musik ini dan baru mempelajari," tutut Arif.

Bagi warga Tambakasri, kesenian patrol membuat mereka semakin merasakan bulan Ramadhan.

Meskipun tidak semua mengandalkannya untuk membangunkan sahur, mereka selalu menantinya lewat di depan rumah. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak pun juga menanti kedatangan mereka.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.